Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asal Usul Awan Oort, Komet dari Luar Tata Surya

The Vera C. Rubin Observatory, membantu astronom menemukan lebih banyak pengunjung dari luar tata surya kita. Cahaya pertama untuk kamera rekayasa Vera Rubin diharapkan pada Oktober 2022
Ayyubi Kholid Saifullah
Ayyubi Kholid Saifullah - Bisnis.com 27 Agustus 2021  |  16:13 WIB
Komet C - 2021 O3
Komet C - 2021 O3

Bisnis.com, JAKARTA - Di dalam titik terjauh dari tata surya kita, terdapat awan komet yang digambarkan oleh para astronom dengan sebutan Awan Oort.

Astronom asal Belanda, Jan Oort merumuskan keberadaan komet-komet tersebut pada tahun 1950. Dia mengatakan komet periode panjang kadang-kadang terlempar dari orbitnya yang jauh di Awan Oort (mungkin oleh bintang yang lewat).

Para ilmuwan sekarang umumnya setuju bahwa miliaran komet harus berada di Awan Oort. Tapi ada beberapa kelompok komet yang mungkin berasal dari sistem bintang lain.

Pada 23 Agustus 2021 diterbitkan sebuah jurnal Bulanan Notices dari Royal Astronomical Society, The peer-review, sebuah studi baru dari para ilmuwan yang membahas tentang Awan Oort pada 23 Agustus 2021 yang dibuat oleh kedua ilmuwan Amir Siraj dan Avi Loeb,  dari Harvard.

Studi ini berfokus pada bidang ruang yang terletak antara 1.000 dan 100.000 kali jarak Bumi dari matahari kita.

Faktanya, para astorom memperkirakan Awan Oort dapat memanjang hampir sejauh satu tahun cahaya dari matahari kita. Sebaliknya, bintang terdekat dengan matahari kita berjarak sekitar 4 tahun cahaya.

Komet Borisov, merupakan komet antarbintang pertama. "Oumuamua, pada 2017 adalah objek antarbintang pertama yang diketahui oleh para astronom," demikian menurut jurnal tersebut.

Pada 2019, mereka melihat objek kedua dari ruang antarbintang. Para astronom menyebutnya 2I/ Borisov, atau terkadang hanya Komet Borisov karena tampak lebih mirip dengan komet.

Komet Borisov memiliki kecepatan 110.000 mil per jam (177.000 kph),  \dan melintas paling dekat dengan matahari dan Bumi pada Desember 2019, menampilkan ekor 14 kali ukuran Bumi. Kemudian kembali menuju ruang antarbintang.

Informasi yang diambil dari Komet Borisov inilah yang memungkinkan Siraj dan Loeb berspekulasi bahwa Awan Oort sebagian besar terdiri dari pengunjung antarbintang.

Para Ilmuwan mengakui informasi tentang komet borisov masih memiliki ketidakpastian. Namun komentar Siraj dalam sebuah pernyataannya mengatakan dengan ketidakpastian ini, perhitungan para ilmuwan menunjukan bahwa objek antarbintang lebih banyak daripada objek tata surya di Awan Oort.

Objek antarbintang gelap dan jauh

Awan Oort mungkin berisi miliran objek antar bintang. Namun, kita tidak dapat melihatnya. Karena belum memiliki teknologi untuk melihatnya, kata Siraj.

Komet tidak bersinar dengan cahayanya sendiri. Mereka hanya memantulkan cahaya matahari kita. Karena jarak komet yang berada di Awan Oort, antarbintang, terlalu jauh dari matahari membuat kita tidak bisa melihatnya secara langsung karena terlalu redup dan gelap.

Jadi spekulasi tentang tentang Awan Oort diambil dari komet yang terlepas dari Awan Oort dan meluncur ke bagian tata surya kita.

Mungkinkah ada objek antarbintang yang lebih dekat ke Bumi?

Matthew Holman, mantan Direktur Center for Astrophysics Minor Planet Center, yang tidak berpartisipasi dalam penelitian ini, bertanya-tanya apakah antarbintang di wilayah terjauh tata surya dapat disamakan juga dengan beberapa  antarbintang yang lebih dekat ke matahari.

Ada asteroid yang telah dideteksi oleh para ilmuwan tetapi tidak dilacak selama bertahun-tahun. Holman merenungkan "Kami pikir mereka adalah asteroid, lalu kami kehilangan mereka tanpa melihat secara detail."

Rekan penulis Loeb menambahkan "Objek antarbintang di wilayah planet tata surya akan jarang, tetapi hasil kami dengan jelas menunjukkan bahwa antarbintang lebih meluas daripada materi tata surya di jangkauan gelap awan Oort."

Pencarian Masa Depan

The Vera C. Rubin Observatory, membantu astronom menemukan lebih banyak pengunjung dari luar tata surya kita. Cahaya pertama untuk kamera rekayasa Vera Rubin diharapkan pada Oktober 2022

Juga dijadwalkan untuk tahun 2022, Transneptunian Automated Occultation Survey akan mengoperasikan tiga teleskop berukuran sedang di Observatorio Astronomico Nacional di San Pedro Mártir, sebuah pegunungan di Baja California, México, untuk menemukan benda-benda kecil di tepi luar tata surya kita. Mungkin itu akan membuka pintu ke lebih banyak objek antarbintang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tata surya Komet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top