Daftar Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch

Akbar Evandio
Selasa, 10 Agustus 2021 | 15:44 WIB
Ilustrasi startup/
Ilustrasi startup/
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sebanyak delapan perusahaan rintisan (startup) dari Indonesia masuk ke dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch lantaran dinilai memberikan manfaat sepanjang pandemi Covid-19 di kawasan Asia-Pasifik.

Dikutip melalui laporan Forbes Asia 100 to Watch, Selasa (10/8/2021), perubahan tersebut yaitu seperti dalam mengatasi masalah untuk meningkatkan transportasi di kota-kota yang padat, memperluas konektivitas yang terjangkau di daerah terpencil dan mencegah pemborosan makanan.

Adapun, terdapat tujuh belas negara dan wilayah disurvei dalam laporan ini. Kategori teratas termasuk bioteknologi dan perawatan kesehatan, platform dagang elektronik (e-commerce) dan ritel, makanan dan perhotelan serta pendidikan dan rekrutmen.

Namun, daftar paling banyak justru dicatatkan oleh rintisan di India dan Singapura masing-masing menyumbang 22 dan 19 perusahaan. Adapun, Hong Kong menyumbang 10 perusahaan.

"Untuk memilih 100 to Watch kami, Forbes Asia meminta daftar pengiriman daring, dan mengundang akselerator, inkubator, organisasi advokasi UKM, universitas, pemodal ventura, dan lainnya untuk menominasikan perusahaan juga. 100 final dipilih dari lebih dari 900 kiriman," tulis Forbes.

Sementara itu, Indonesia dicatatkan hanya menyumbang 8 perusahaan yang dinilai mampu memberikan perubahan. Padahal, Menurut catatan Startup Ranking, jumlah startup di Indonesia mencapai 2.219 perusahaan pada 2021 dan menduduki peringkat kelima dengan jumlah perusahaan rintisan terbanyak. Setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada.

Berikut daftar 8 Perusahaan kecil dan rintisan Indonesia yang masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch:

1. Bobobox
Kategori: Makanan & Perhotelan
Tahun Berdiri: 2017
• CEO: Indra Gunawan
Pendukung utama: Alpha JWC Ventures, Horizons Ventures

Bobobox Mitra Indonesia menawarkan akomodasi hotel kapsul yang terjangkau di Indonesia, dengan tempat tidur pod di 14 lokasi di seluruh Indonesia.

Pelanggan membayar per malam tetapi dapat juga menyewa per jam di beberapa lokasi. Bobobox telah berkembang dari pod hotel ke penyewaan kabin di hutan, yang disebut Bobocabin, dan campervan, Bobovan.

2. Beau Bakery
Kategori: Food & Hospitality
Tahun didirikan: 2015
• CEO: Talita Setya
Pendukung utama: SEAF Women's Opportunity Fund

Didirikan oleh lulusan Le Cordon Bleu, Beau adalah merek toko roti dan kafe yang mengoperasikan restoran dan memproduksi roti dan kue-kue artisanal menggunakan bahan-bahan lokal.

Dioperasikan Cahaya Mahakarya Lestari, Beau memiliki misi untuk melatih dan mengembangkan bakat. Pada tahun 2019, Beau memperoleh pendanaan dari SEAF Women’s Opportunity Fund.

3. Dekoruma
Kategori: E-commerce & Retail
Tahun didirikan: 2015
• CEO: Dimas Harry Priawan
Pendukung utama: Foundamental, InterVest, OCBC NISP Ventura

Dekoruma Inovasi Lestari telah mengembangkan platform e-commerce dari hanya furnitur menjadi one-stop-shop untuk rumah dan tempat tinggal, termasuk layanan arsitektur dan daftar penjualan perumahan.

Tahun lalu ia mengantongi pendanaan pra-seri C yang dirahasiakan dari InterVest, Foundation, OCBC NISP Ventura, Skystar Capital, dan lainnya.

4. Evermos
Kategori: E-commerce & Retail
Tahun didirikan: 2018
• CEO: Iqbal Muslimin
Pendukung utama: Alpha JWC Ventures, Jungle Ventures

Evermos, adalah platform perdagangan sosial yang berfokus pada produk Muslim, menghubungkan konsumen dengan pengecer dan merek yang menawarkan barang halal.

Dalam dua tahun Evermos mampu menarik 500 merek dan jaringan 75.000 pengecer yang dibayar dengan komisi.

5. Otoklix
Kategori: Logistik & Transportasi
Tahun didirikan: 2019
• CEO: Martin Reyhan Suryohusodo
Pendukung utama: Sequoia Surge

Otoklix menghubungkan pemilik mobil di Indonesia dengan bengkel mobil terpercaya dengan harga standar dan transparan.

Dikatakan telah bermitra dengan lebih dari 1.300 bengkel untuk memperbaiki lebih dari 10.000 mobil per bulan. Perusahaan mendapat komisi untuk setiap pemesanan dan potongan suku cadang yang dijual ke toko.

6. Populix
Kategori: E-commerce & Retail
Tahun didirikan: 2018
CEO: Timothy Astandu
Pendukung utama: Intudo Ventures, Pegasus Tech, Quest Ventures

Melalui platform penelitiannya, Populix mengatakan telah menghubungkan bisnis dengan 260.000 pembeli Indonesia yang didorong untuk berbagi wawasan mereka. Dari 2019 hingga 2020, dikatakan pendapatan tumbuh lebih dari 380 persen.

Pada bulan April, Populix menyelesaikan putaran pra-seri A senilai US$1,2 juta dengan Intudo Ventures dan Quest Ventures.

7. PrivyID
Kategori: Teknologi Identitas
Tahun berdiri: 2016
• CEO: Marshall Pribadi
Pendukung Utama: Google untuk Startup, Mandiri Capital Indonesia, Telkomsel

Privy Identitas Digital adalah penyedia identitas digital terkemuka di Indonesia dan menyediakan tanda tangan digital yang mengikat secara hukum.

Layanannya digunakan oleh bank, telekomunikasi dan perusahaan kesehatan. PrivyID baru saja lulus dari inkubator Google for Startups.

8. Sampingan
Kategori: Pendidikan & Rekrutmen
Tahun berdiri: 2018
• CEO: Wisnu Nugrahadi
Pendukung utama: Altara, Antler, Golden Gate Ventures

Sampingan menghubungkan perusahaan dengan pekerja lepas untuk melakukan pekerjaan paruh waktu dan penuh waktu.

Sejauh ini, Sampingan telah mengantongi total dana US$7,1 juta dari investor termasuk Altara, Antler dan Golden Gate Ventures. Ini beroperasi di 80 kota di Indonesia, dengan klien yang mencakup GoTo dan Unilever.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Akbar Evandio
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper