Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merger dan Akuisisi Jadi Solusi Startup Bertahan

Merger dan akuisisi dinilai menjadi solusi bagi startup untuk bertahan dan beradaptasi di keadaan pandemi Covid-19.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 08 April 2021  |  17:37 WIB
Merger - Ilustrasi
Merger - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Tren merger dan akuisisi (M&A) perusahaan rintisan (startup) dinilai menjadi langkah ideal untuk memperkuat ekosistem fundamental mereka pada tahun ini.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R. Sirait mengatakan selain mengincar peningkatan kapitalisasi pasar, para pemain membutuhkan perluasan ekosistem layanan perusahaan agar mampu beradaptasi di keadaan pandemi Covid-19 yang tidak dapat dikatakan pasti.

“M&A adalah salah satu strategi bertumbuh dari setiap perusahaan untuk makin memperkuat ekosistem fundamental. Karena, dalam kondisi persaingan sengit dan minimnya permintaan di dunia ini tentunya kreativitas setiap startup menjaga pemulihan bahkan pertumbuhan menjadi penting dengan kondisi masing-masing,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (8/4/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan langkah M&A menjadi ideal. Sebab, peta persaingan dunia startup tidak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana pandemi Covid-19 memaksa setiap pemain untuk mengakselerasi layanan dan beradaptasi dengan kompleksnya kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan riset PwC: Global M&A Industry Trends mencatatkan bahwa volume merger dan akuisisi perusahaan teknologi di tingkat global meningkat 34 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada semester II/2020.

Adapun, dalam laporan tersebut efek merger dan akuisisi perusahaan dari sisi nilai turut meningkat hingga 118 persen, di mana subsektor teknologi dan telekomunikasi merupakan yang tertinggi.

Sementara itu, berdasarkan wilayah, volume transaksi di Amerika Serikat (AS) naik 20 persen. Sedangkan, Asia Pasifik serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) masing-masing meningkat 17 persen. Adapun, perusahaan jasa profesional asal Inggris, Ernst & Young (EY) turut memperkirakan makin agresifnya startup Indonesia melakukan aksi merger dan akuisisi pada 2021.

Melalui laporan berjudul EY Global Capital Confidence Barometer menunjukan 37 persen perusahaan berencana melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi secara aktif selama pandemi Covid-19, di mana 13 persen perusahaan mempertimbangkan untuk mengakuisisi untuk mengambil potensi pertumbuhan baru dan meraih keuntungan.

Tidak hanya itu, Laporan Cento Ventures bertajuk Southeast Asia Tech Investment 2020 menunjukan Indonesia dan Singapura menjadi negara yang paling banyak melakukan aksi likuidasi startup. Berdasarkan pangsa peristiwa, startup Indonesia mencatatkan aksi likuidasi paling banyak dengan angka 32 persen di Asia Tenggara, sedangkan, Singapura berada di belakangnya di angka 30 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top