Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perangkat dan Finansial Akan Jadi Hambatan Proyek Satelit Satria

Waktu perpanjangan yang lebih singkat, yaitu 7 bulan dari 14 bulan yang diminta pemerintah Indonesia ke ITU, menjadi tantangan bagi SNT dalam memperoleh perangkat dengan kualitas terbaik.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 07 April 2021  |  10:46 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan sambutan jelang penandatanganan kerja sama dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dengan perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space (TAS) di Jakarta, Kamis (3/9/2020). ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyampaikan sambutan jelang penandatanganan kerja sama dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) dengan perusahaan asal Perancis, Thales Alenia Space (TAS) di Jakarta, Kamis (3/9/2020). ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai mendapatkan perangkat berkualitas dalam waktu dekat untuk pembuatan satelit bukanlah hal yang mudah. Kondisi ini menjadi tantangan yang akan dihadapi dalam proyek Satelit Satria.

Anggota Dewan Profesi dan Asosiasi Mastel Kanaka Hidayat mengatakan setelah berhasil memperpanjang izin penggunaan slot orbit 146BT, PT Satelit Nusantara Tiga (SNT), selaku badan usaha yang menangani proyek Satelit Satria, harus bekerja keras untuk mendapatkan perangkat berkualitas.  

Waktu perpanjangan yang lebih singkat, yaitu 7 bulan dari 14 bulan yang diminta pemerintah Indonesia ke ITU, menjadi tantangan bagi SNT dalam memperoleh perangkat dengan kualitas terbaik. Selain itu, permasalahan finansial juga akan menghantui SNT.     

“Hambatan-hambatan teknis biasanya ketersediaan perangkat yang berkualitas dalam waktu dekat yang diperlukan utk membangun satelit.  Hambatan lain adalah finansial,” kata Kanaka kepada Bisnis, Selasa (7/4/2021).

Sebagai informasi, tipe satelit memengaruhi kecepatan pembangunan proyek satelit. Jika tipe satelit tersebut merupakan tipe baru, maka pembuatan satelit akan memakan waktu lama. Ada proses uji coba perangkat yang harus dilewati sebelum perakitan dimulai.

Berbeda jika satelit yang dibangun adalah tipe lama atau sudah banyak beredar, perusahaan pembuat satelit telah memiliki komponen dan perangkat yang tepat, sehingga akan lebih cepat.  

Lebih lanjut, Kanaka mengatakan tidak ada batasan atas jumlah permohonan perpanjangan izin penggunaan slot orbit yang diajukan pemerintah ke ITU. Hanya saja, makin sering meminta izin, maka kredibilitas Indonesia makin dipertanyakan.

“Batasannya adalah 'malu' nya kita sebagai suatu negara yang perlu membangun kredibilitas saja.  Kalau permohonan disertai argumen teknis yang kuat, kemungkinan besar akan dikabulkan,” kata Kanaka.

Sebelumnya, Radio Regulations Board (RRB) International Telecommunication Union (ITU), badan regulasi telekomunikasi dunia, mengabulkan permohonan perpanjangan waktu penggunaan filing PSN146E Bujur Timur (BT) selama 7 bulan atau hingga Oktober 2023.

Waktu tersebut lebih singkat dari permohonan 14 bulan yang diajukan oleh pemerintah kepada ITU. Slot orbit 146BT merupakan slot orbit yang akan digunakan oleh Satelit Multifungsi Satria untuk beroperasi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

infrastruktur telekomunikasi satelit
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top