Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Modus Serangan Siber ini Masih Hantui E-Commerce, Apa Itu?

Selain merugikan secara finansial, serangan siber juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan bagi platform e-commerce tertentu.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  06:37 WIB
Modus Serangan Siber ini Masih Hantui E-Commerce, Apa Itu?
Kejahatan online - Ilustrasi/mirror.co.uk
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Modus serangan siber melalui rekayasa sosial atau phising dinilai masih menjadi tantangan bagi aktivitas belanja daring dalam negeri.

Phishing adalah bentuk kejahatan dunia maya berdasarkan teknik manipulasi psikologis yang melibatkan pencurian data rahasia dari komputer seseorang dan kemudian menggunakannya untuk berbagai tujuan mulai dari pencurian uang hingga menjual kembali data yang diperoleh.

Adapun, pesan phishing biasanya berupa pemberitahuan palsu dari bank, penyedia, sistem pembayaran elektronik dan organisasi lain.

Phishing juga dapat berbentuk replika yang hampir 100 persen sempurna dari situs web terpercaya, di mana para pengguna akan terpikat melalui pesan phishing hingga berakhir dengan pemberian data pribadi secara sukarela.

CEO PT Digital Forensic Indonesia Ruby Alamsyah mengatakan teknik phishing bisa marak kembali saat ini dikarenakan dua faktor, yaitu makin tingginya penggunaan digital platform dan tingkat kesadaran akan keamanan informasi dan teknologi (IT) di masyarakat yang masih rendah.

Dia menilai serangan siber melalui rekayasa sosial atau phising tersebut masih menjadi tantangan bagi pelaku dagang elektronik (e-commerce) dan social commerce. Sebab, keamanan data menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi karena menggambarkan citra perusahaan.

“Jadi solusi bagi platform digital platform saat ini adalah selain meningkatkan keamanan sistem dan infrastrukturnya, juga sangat diperlukan sosialisasi terkait kesadaran akan  keamanan IT dengan lengkap dan transparan, agar para pengguna mereka paham detil apa saja celah keamanan atau resiko yang bisa terjadi di titik pengguna,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (22/3/2021).

Menurutnya, saat terjadi sebuah informasi yang viral terkait kebocoran data maupun serangan siber atas suatu entitas, banyak pengguna menjadi enggan atau tidak menggunakan platform tersebut sementara waktu.

“Dari kejadian serangan siber selama ini, selain bisa merugikan secara finansial, juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan yang dapat mengakibatkan kehilangan pengguna atau pengurangan pendapatan bagi para pemain,” ujarnya.

Perusahaan keamanan siber global Kaspersky mengungkapkan statistik kampanye phishing berkelanjutan terhadap bisnis mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Asia Tenggara.

Dalam laporan mereka, Indonesia mencatatkan insiden terbanyak pada 2020 dengan upaya phising sebanyak 744,518 ke UMKM. Hal ini menjadikan Indonesia resmi menyandang peringkat ke-16 secara global dan peringkat pertama di Asia Tenggara dengan kasus serangan siber tertinggi, khususnya rekayasa sosial dan phising.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce phising
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top