Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kerap Bersinggungan dengan Kapal, Penataan Kabel Bawah Laut Sudah Pas

Kesemrawutan kabel bawah laut menyebabkan infrastruktur tersebut rawan putus yang berakibat pada terganggunya layanan internet ke masyarakat.  
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  21:35 WIB
Peta sistem komunikasi kabel laut Palapa Ring paket barat. - Kementerian Komunikasi dan Informatika
Peta sistem komunikasi kabel laut Palapa Ring paket barat. - Kementerian Komunikasi dan Informatika

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya pemerintah dalam menertibkan pipa dan kabel bawah laut mendapat dukungan dari sejumlah pihak. 

Kesemrawutan kabel bawah laut menyebabkan infrastruktur tersebut rawan putus yang berakibat pada terganggunya layanan internet ke masyarakat.  

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan penataan sistem komunikasi kabel bawah laut (SKKL) menjadi suatu kebutuhan untuk mengurai kondisi kabel bawah laut yang makin semrawut. 

Dia menilai saat ini banyak kabel bawah laut yang bersinggungan dengan jalur kapal, yang menyebabkan kabel rawan putus.  

“Kabel yang ruwet akan membuat sulit untuk pemeliharaan dan rentan putus. Kapal yang berlayar juga suka terhalang kabel sehingga kabel tertarik jangkar kapal,” kata Heru kepada Bisnis, Senin (1/3).

Untuk diketahui, dalam 2 tahun terakhir gangguan terhadap sistem komunikasi kabel bawah laut banyak disebabkan oleh jangkar kapal.

Asosiasi Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (Askalsi) mencatat sebanyak 47 persen gangguan kabel bawah laut disebabkan oleh jangkar kapal, 28 persen oleh aktivitas memancing terutama dengan rumpon, 14 persen faktor alam dan 11 persen adalah aktivitas pertambangan dan pencurian.  

Meski jangkar kapal membuat sejumlah kabel menjadi rusak, dalam 3 tahun terakhir tren kabel komunikasi bawah laut putus cenderung menurun. Hal tersebut disebabkan para anggota Askalsi rutin melakukan sosialisasi dan patroli laut.

Berdasarkan catatan Askalsi pada 2018 terdapat 40 kasus, jumlahnya menurun menjadi 30 kasus pada 2019 dan kembali turun menjadi 27 kasus pada 2020.

Untuk diketahui, pada Jumat (19/2)  sistem komunikasi kabel bawah laut (SKKL) milik PT Ketrosden Triasmitra mengalami gangguan akibat jangkar kapal.    

Adapun untuk memperbaiki kabel tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 minggu. Kondisi cuaca laut yang kurang kondusif dalam beberapa waktu terakhir dan perizinan menjadi penyebab proses perbaikan menjadi lebih lama.

Akibat putusnya SKKL Triasmitra, sejumlah layanan internet yang menggunakan SKKL Triasmitra  terganggu dan mengalami perlambatan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi kabel bawah laut
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top