Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Iklan Layanan Digital Makin Ditinggalkan?

Pemasang iklan lebih tertarik menggunakan layanan iklan yang memungkinkan produk mereka muncul pada situs atau aplikasi tertentu dibandingkan dengan iklan yang tertuju kepada nomor tertentu.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 31 Januari 2021  |  09:26 WIB
Ilustrasi digital marketing - CC0
Ilustrasi digital marketing - CC0

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis layanan iklan digital berbasis layanan pesan singkat (SMS) dan pesan multimedia (MMS) diprediksi makin meredup pada tahun ini seiring dengan perkembangan teknologi.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB Ian Yosef M. Edward mengatakan bahwa beberapa tahun lalu kontribusi dari iklan layanan digital berbasis SMS (short message service) dan MMS (multimedia massaging sercice) sangat besar bagi pertumbuhan bisnis operator seluler, khususnya layanan SMS dan panggilan suara (legacy).

Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, pemasang iklan lebih tertarik menggunakan layanan iklan yang memungkinkan produk mereka muncul pada situs atau aplikasi tertentu dibandingkan dengan iklan yang tertuju kepada nomor tertentu.

Aktivitas masyarakat yang makin rajin bermain media sosial menjadi target kegiatan pemasaran suatu perusahaan. Alhasil, pendapatan dari iklan layanan digital berbasis SMS dan MMS makin menurun.

“Saat ini kontribusi SMS, MMS, dan pop up sangat murah, kontribusi dibawah 5 persen saya kira kalau saat ini,” kata Ian kepada Bisnis, Sabtu (30/1/2021).

Beberapa perusahaan yang masih menggunakan layanan iklan digital berbasis SMS, menurutnya, adalah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan perusahaan yang membutuhkan pengiriman sandi sekali atau one time password kepada pelanggan.

Bisnis layanan digital pun, kata Ian, bergantung pada jaringan 2G, yang saat ini pembangunan jaringannya stagnan, bahkan cenderung turun.

Dalam beberapa tahun terakhir operator seluler tidak lagi melakukan penambahan jaringan 2G secara besar-besaran. Pada kuartal III/2020, Telkomsel tercatat sebagai operator seluler dengan jumlah stasiun pemancar (base tranceive station/BTS) 2G terbanyak yaitu 50.323, bertambah 26 BTS dibandingkan dengan kuaral II/2020.

Sementara itu, XL Axiata mengoperasikan 36.030 BTS 2G pada kuartal III/2020, bertambah 440 dibandingkan dengan kuartal II/2020. XL merupakan operator dengan pertumbuhan jumlah BTS 2G terbanyak pada kuartal III/2020.

Indosat dalam jalur memangkas BTS 2G secara besar-besaran dan meningkatkan BTS 4G. Jumlah BTS 2G Indosat pada kuartal III/2020 adalah 25.867 unit, berkurang 899. Jika dibandingkan dengan kuartal I/202, jumlah BTS 2G yang dipadamkan Indosat sebanyak 4.126 BTS. 

Ian menyarankan agar layanan iklan digital dapat memberi keuntungan yang lebih besar, operator seluler harus melakukan inovasi sehingga layanan iklan digital makin menarik.

“Misalnya, dibuat seperti gim, mirip dengan [gim] Pokemon Go, pengguna diminta supaya mencari tempat bisnis dan diberi bonus,” kata Ian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sms iklan digital
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top