Kredivo: Adaptasi Normal Baru Adalah Urgensi

Kredivo melihat urgensi pada kemampuan masyarakat dan pelaku industri dalam beradaptasi terhadap fase normal baru (the new normal).
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  16:24 WIB
Kredivo: Adaptasi Normal Baru Adalah Urgensi
Ilustrasi berbelanja di toko daring menggunakan Kredivo. - www.kredivo.com

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial (tekfin), Kredivo melihat urgensi pada kemampuan masyarakat dan pelaku industri dalam beradaptasi terhadap fase normal baru (the new normal).

CEO Kredivo Indonesia, Alie Tan mengatakan bahwa berdamai dengan Covid-19 berarti masyarakat dan pelaku industri membutuhkan kemampuan adaptasi yang agile dan solidaritas sebagai kunci untuk melalui kondisi ini sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan serta usaha dalam jangka panjang.

“Di sisi lain, pelaku industri keuangan juga dituntut untuk terus berinovasi melalui teknologi, guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan transaksi digital yang semakin meningkat di masa pandemi ini,” tuturnya lewat rilis resmi, Rabu (20/5/2020).

Lebih lanjut, untuk pelaku industri keuangan, dia menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua hal mendasar yang dapat menjadi faktor pendorong dalam melakukan adaptasi terhadap The New Normal, pertama adalah fasih transformasi digital dan kemungkinan menuju industri 4.0 yang lebih cepat.

“Pandemi ini mengakselerasi kemampuan masyarakat untuk lebih fasih memanfaatkan teknologi, sehingga menjadi katalisator menuju industri 4.0. Kemudahan dalam bertransaksi menjadi kunci yang semakin relevan bagi konsumen saat ini,” jelasnya.

Menurutnya, Industri keuangan juga dituntut untuk semakin memperkuat transformasi digitalnya, bahkan mempersiapkan strategi secara matang menuju industri 4.0. Namun, edukasi dan literasi digital dalam hal keuangan juga tetap harus dipertimbangkan guna menyeimbangkan antara kondisi industri dengan kesiapan masyarakat menghadapi era revolusi industri 4.0.

Kedua, dia melihat bahwa kondisi ekonomi yang sulit memaksa masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan.

“Hal ini juga dapat menjadi sinyal positif bagi peningkatan literasi keuangan di Indonesia. Namun demikian, sinyal positif ini perlu diiringi dengan kesiapan para pelaku industri keuangan untuk memberikan produk atau layanan keuangan yang memiliki nilai tambah dan mampu mendukung produktivitas masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, perlu adaptasi secara cepat dan pemanfaatan peluang menjadi kunci berdamai di masa pandemi ini. Pelaku usaha harus terus berinovasi untuk menghadapi ketidakpastian dan  memenuhi kebutuhan masyarakat yang selalu berubah.

Selain itu, strategi manajemen risiko dan efisiensi operasional berdasarkan skala prioritas juga perlu ditingkatkan oleh pelaku industri untuk memastikan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

“Sejak kehadirannya, DNA industri fintech adalah berinovasi membantu masyarakat menghadapi tantangan. Untuk itu, kami terus berinovasi agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dan beradaptasi dengan kondisi pasar, termasuk di tengah pandemi ini.  Disertai prinsip responsible lending dan sistem verifikasi yang memiliki metrik risiko yang setara dengan bank, Kredivo siap untuk terus menjadi financial enabler, dan terus berkomitmen mengedukasi masyarakat akan pentingnya literasi digital dan keuangan,” tuturnya.

Menurut Riset McKinsey pada awal Mei 2020, menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas digital selama masa pandemi, dengan lebih dari 30 persen responden mengaku lebih sering memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memesan makanan secara online.

Selain itu, laporan ini menjelaskan terkait dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 ini juga menyebutkan bahwa secara global adopsi teknologi digital pada  industri keuangan pun meningkat, dimana 73 persen masyarakat telah mencoba adopsi teknologi digital dalam 6 bulan terakhir, dengan 21 persen diantaranya merupakan pengguna baru.

Perubahan perilaku tersebut akan menggiring pada fase The New Normal, yang menuntut masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut guna menjaga produktivitas dan keberlangsungan kehidupan.

Dari sisi pelaku industri, McKinsey dalam laporannya juga menyebutkan bahwa setidaknya ada prinsip dasar yang perlu dilakukan saat memasuki masa The New Normal yaitu memperhatikan perubahan perilaku konsumen, pola permintaan yang tidak dapat diprediksi, serta efisiensi operasional berdasarkan skala prioritas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, fintech

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Rio Sandy Pradana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top