Ini Penghambat Utama bagi Industri Penyedia Konten di Indonesia

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 27 Agustus 2019 | 20:00 WIB
Ilustrasi/tech in Asia Indonesia
Ilustrasi/tech in Asia Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Penyedia layanan streaming HOOQ menilai keterbatasan konten, khusunya lokal, menjadi tantangan industri penyedia konten saat ini dalam menarik pengunduh baru dan  mendorong jumlah pengguna aktif.  

Country Head HOOQ Digital Indonesia, Guntur S. Siboro mengatakan industri konten merupakan industri kreatif yang membutuhkan konten menarik untuk terus tumbuh, tanpa hal tersebut akan sulit bagi industri untuk tumbuh.

Adapun hambatan dalam membuat konten yang menarik, kata Guntur, adalah mahalnya biaya yang harus dikeluarkan dan membuat narasi cerita yang menarik.

Dia mengatakan biaya produksi sebagian besar dikeluarkan untuk membayar pemain dan properti yang digunakan selamat pembauatan film.  

“Punya dana tetapi tidak punya narasi cerita yang menarik kan sama juga,” kata Guntur kepada Bisnis.com, Selasa (27/8/2019).

Guntur melihat persaingan antara penyedia konten bukanlah suatu tantangan karena setiap penyedia memiliki keunggulan dan strategi masing-masing, termasuk mengenai kabar kedatangan Netflix di Telkom.  

Dia mengatakan hingga saat ini jumlah pengunduh  HOOQ di Indonesia sekitar 40 juta pengunduh, dari angka tersebut diperkirakan hanya 20%—30% yang merupakan pengguna aktif, sebagaimana yang umumnya terjadi di industri penyedia konten.

Guntur mengatakan dalam mendorong jumlah pengunduh baru dan menambah pengguna aktif, perseroan berusaha menyajikan konten-konten yang relevan terutama yang berkaitan dengan horor, drama dan komedi bagi para pelanggan di Indonesia.

Diketahui dari hampir 1 miliar menit video yang ditayangkan HOOQ, mayoritas pengguna menonton ketiga konten tersebut.

“Jumlah pengguna aktif tergantung hari dan momen, misalnya waktu liburan Ramadan kemarin tinggi, ketika masuk sekolah kembali lagi,” kata Guntur.

Dia mengatakan selain meyajikan konten video lokal, HOOQ juga menghadirkan konten internasional yang dihadirkan dengan cara akuisisi. Adapun mengenai besaran biaya akusisi. Guntur tidak dapat menjelaskan karena konten cerita memiliki harga yang berbeda-beda. 

“Konten tidak sepeti membeli mobil yang harga pasarnya diketahui, kalau konten tergantung teknologi yang digunakan kalau Holywood bisa puluhan juta dollar habisnya,” kata Guntur.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper