Transaksi Digital Kurban Meningkat

Penyedia layanan jasa kurban secara digital mencatat peningkatan signifikan transaksi pembelian hewan seiring tren belanja daring yang kian meluas.
Agne Yasa dan Dhiany Nadya Utami
Agne Yasa dan Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 11 Agustus 2019  |  21:42 WIB
Transaksi Digital Kurban Meningkat
Kurban - Dokumentasi Dompet Dhuafa

Bisnis.com, JAKARTA- Penyedia layanan jasa kurban secara digital mencatat peningkatan signifikan transaksi pembelian hewan seiring tren belanja daring yang kian meluas.

Dompet Dhuafa, penyedia jasa kurban, mengungkapkan meskipun pembelian hewan kurban secara konvensional masih dominan namun pembelian secara digital terus berkembang secara signifikan.

 Yuli Pujihardi, Presiden Direktur Dompet Dhuafa Social Enterprise, mengungkapkan dari tahun ke tahun transaksi pembayaran online untuk layanan kurban dan lainnya seperti zakat terus mengalami peningkatan.

 “Dari data yang ada, dari tahun ke tahun perolehan transaksi online kita terus meningkat. Bahkan tahun ini, Ramadan kemarin transaksi online lewat digital naik hampir 1.200%, peningkatannya luar biasa,” jelas Yuli kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

 Dia menambahkan pihaknya juga manargetkan segmen milenial yang memang mengutamakan digital. Hal tersebut juga terlihat dari transaksi yang dilakukan lewat platform digital yang didominasi milenial. Meskipun demikian, layanan lewat konter atau gerai offline juga masih diminati.

 “Tahun ini kami menargetkan hampir 6.000 ekor lewat online. Sementara yang lewat normal atau biasa atau yang offline itu memang masih lebih besar. Target kami tahun ini 30.000 ekor, 6.000-8.000 ekornya dari online,” jelasnya,

 Dompet Dhuafa sendiri telah menggunakan platform digital sejak lima tahun lalu melalui website dan marketplace yang bekerja sama. Dia mengungkapkan hampir semua platform digital atau marketplace telah bekerja sama dengan pihaknya.

 “Kami sadar ke depan teknologi informasi menjadi suatu keharusan di lembaga jasa seperti kami Dompet Dhuafa. Oleh sebab itu kami juga sudah mulai lima tahun lalu. Jadi orang bisa bayar zakat, infak, sodaqoh, wakaf dan kurban di platform digital yang memang kami bermitra dengan mereka,” ujarnya.

 Marketplace juga mengembangkan layanan digital untuk layanan seperti kurban dan zakat dengan lembaga penyedia.  

 Garri Juanda, Head of Tokopedia Sharia Initiatives, mengungkapkan layanan kurban digital sudah ada sejak 2015 di Tokopedia, untuk mempermudah akses pengguna marketplace ini yang merupakan milenial yang digital first.  

 “Mengenai jumlahnya dalam satu tahun terakhir dari 2018 terjadi 200% peningkatan jumlah pembelian hewan kurban di Tokopedia,” ujar Garri.

 Dia mengungkapkan, layanan Tokopedia sendiri dari segi penjualan dan pembelian telah mencakup 97% kecamatan di Indonesia, hal yang sama juga terjadi utnuk pembelian hewan kurban. Garri mengatakan untuk pembelian hewan kurban ini cukup merata tidak hanya di kota-kota besar tapi juga di luar pulau Jawa.

 “Kami melihat opsi untuk beli hewan kurban secara digital cukup membantu pemerataan penyumbangan hewan kurban secara digital dan merata di Indonesia,” ujarnya.

 Sementara itu, Bima Laga, AVP of Public Policy & Government Relations Bukalapak, mengatakan animo dari layanan beli hewan kurban ini terbilang bagus. Pada 2018, misalnya, tebus hingga 10.000 transaksi dengan sekitar 150 sapi dan 550 domba.

 “Di Bukakurban tahun ini diharapkan transaksinya lebih baik dari tahun lalu,” katanya.  

BANGUN KEPERCAYAAN

Membangun kepercayaan bertransaksi lewat digital memang membutuhkan usaha, salah satunya untuk layanan kurban.

 Jika membeli hewan kurban biasanya dilakukan secara langsung, dengan melihat hewan yang akan dibeli. Melalui layanan digital, pembeli hewan kurban memberikan kepercayaan untuk jasa pembelian hewan hingga proses distribusi. Bagaimana penyedia layanan dan marketplace membangun kepercayaan ini?

 Garri mengatakan untuk memberikan kenyamanan hati bagi para pembeli hewan kurban di Tokopedia, yaitu pada saat pembeli melakukan transaksi, setelah itu dalam dua hari diberikan sertifikat melalui badan penyedia jasa. Kemudian, 45 hari kemudian setelah didistribusikan akan diberikan sertifikat dan laporan susulan.

 “Untuk memberitahukan bahwa kurbannya dan donasinya telah didistribusikan dengan baik kepada daerah tertentu,” ujarnya.

 Sementara itu, Yuli mengungkapkan ketika pembeli telah bertransaksi maka secara otomatis akan terlapor ke Dompet Dhuafa. Kemudian, sertifikat akan dikirimkan kepada pembeli hewan kurban sebagai tanda dana sudah diterima.

 Kemudian, data pembeli hewan kurban tersebut akan dikirimkan ke mitra peternak Dompet Dhuafa di daerah. Setelah itu, laporan akan dikirimkan dari daerah. Dari sana, Dompet Dhuafa akan mengirimkan laporan lewat email dan bentuk fisik berupa surat dari penerima manfaat kurban dan foto ketika proses kurban.

 Yuli mengatakan distribusi hewan kurban telah menyebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, seperti Palestina dan Myanmar melalui program Tebar Hewan Kurban.

 Melalui layanan digital, katanya, distribusi hewan kurban dapat lebih merata ke daerah-daerah yang membutuhkan. Di sisi lain, dapat menumbuhkan wirausaha bagi mitra peternak di daerah sehingga membantu perekonomian.

 “Kami ingin tumbuhkan jiwa entrepreneur ke mereka [mitra peternak],” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hewan kurban

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top