Pertama, Teknologi LiDAR Bantu Palu dalam Pemulihan Pasca Bencana 2018

Untuk pertama kalinya, teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) digunakan untuk membuat peta dalam upaya pemulihan pasca bencana di Indonesia.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 30 April 2019  |  10:50 WIB
Pertama, Teknologi LiDAR Bantu Palu dalam Pemulihan Pasca Bencana 2018
Tim Terra Drone Indonesia bersama Tim Japan International Cooperation Agency di Palu. - Terra Drone

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk pertama kalinya, teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) digunakan untuk membuat peta dalam upaya pemulihan pasca bencana di Indonesia.

Terra Drone Indonesia, bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), menggunakan teknologi LiDAR dan fotogrametri yang dipasang di drone untuk membuat peta resolusi tinggi pada wilayah terdampak bencana.

Michael Wishnu Wardana Siagian, Managing Director Terra Drone Indonesia, mengatakan bahwa teknologi LiDAR yang dimiliki oleh Terra Drone Indonesia dapat menembus vegetasi yang lebat, mendeteksi perubahan dalam permukaan suatu wilayah, dan menghasilkan model permukaan 3D yang detil dan akurat - dengan biaya yang 2-3 kali lebih murah daripada teknologi serupa lainnya.

Selain survei dan pemetaan pasca bencana, drone juga dapat digunakan secara efektif untuk manajemen dan mitigasi risiko bencana dengan mengumpulkan informasi permukaan pra-bencana dan menangkap gambar secara real-time selama bencana untuk memandu lembaga bantuan dan membantu pemerintah dalam pengambilan keputusan, katanya melalui keterangan pers, Selasa (30/4/2019).

Tanggal 28 September 2018 merupakan hari kematian dan kehancuran bagi Kota Palu. Gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter melanda pulau itu dan memicu tsunami setinggi 3 meter yang menghanyutkan rumah-rumah di kota tersebut. Bencana ini membutuhkan proses pemulihan yang panjang dan sulit.

Gempa bumi dan tsunami menyebabkan perubahan pada area permukaan yang berarti ada daerah yang tidak lagi cocok untuk perumahan. Untuk wilayah lainnya, kepemilikan atas tanah perlu ditetapkan sebelum pembangunan perumahan baru dapat dimulai. Fasilitas dasar seperti air, listrik, dan saluran pembuangan juga perlu dipulihkan – yang tidak dapat dilakukan tanpa peta beresolusi tinggi yang akurat dari wilayah yang terkena dampak.

Tetapi pelaksanaan survei lapangan ini sulit dan berisiko karena banyak daerah yang sulit diakses serta rawan dengan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Oleh karena itu, survei menggunakan drone adalah solusi yang paling memungkinkan untuk mengumpulkan data dan gambar beresolusi tinggi dalam waktu sesingkat mungkin.

Pada Maret 2019, Terra Drone Indonesia melakukan survei sekitar 750 hektar lahan dengan drone yang dilengkapi LiDAR, sementara 300 hektar lainnya disurvei menggunakan teknik fotogrametri. Data dan citra yang dikumpulkan dari survei ini telah digunakan untuk menghasilkan peta yang detil dengan menunjukkan kondisi lahan saat ini dan mengidentifikasi wilayah tertentu yang mengalami kerusakan paling parah.

Dengan menggunakan peta ini, pemerintah dapat merencanakan pembangunan kembali rumah dan infrastruktur dengan cara yang aman dan tepat.

Sampel hasil pemetaan LiDAR dalam bentuk point cloud, elevation model, dan kontur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Drone

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup