Apakah Indonesia Sudah Membutuhkan Teknologi 5G?

Teknologi 5G menjanjikan sambungan yang super cepat, kapasitas yang jumbo, dan akses nyaris tanpa waktu tunda.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 30 April 2019  |  11:58 WIB
Apakah Indonesia Sudah Membutuhkan Teknologi 5G?
Menuju Generasi kelima

Bisnis.com, JAKARTA — Teknologi 5G menjanjikan skala konektivitas seluler yang sebelumnya hanya sebatas imajinasi. Sambungan yang super cepat, kapasitas yang jumbo, dan akses nyaris tanpa waktu tunda membuat para penggila teknologi tergiur.

Segala kemampuan tersebut membuat teknologi 5G kerap digadang-gadang sebagai kunci Revolusi Industri 4.0. Namun meskipun sejumlah pemangku kepentingan bersemangat menghadirkan 5G di Indonesia, permintaan terhadap teknologi jaringan generasi kelima ini kurang kuat lantaran minimnya potensi aplikasi (use case) di Tanah Air.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono membahasakan 5G dengan istilah, “nice to have, but not applicable”. Tanpa permintaan yang kuat, katanya, keberadaan 5G di Indonesia tidak terlalu menguntungkan karena investasi yang dikeluarkan operator telekomunikasi tidak sebanding dengan imbal hasilnya.

"Saya rasa belum ada [demand] karena use case-nya belum kelihatan," kata Kristiono kepada Bisnis, belum lama ini.

Menurutnya, sejauh ini di Indonesia 5G baru dapat mendukung dua kepentingan. Pertama, menambah kapasitas 4G pada daerah-daerah tertentu yang di luar kemampuan 4G. Kedua, meningkatkan kapasitas fixed wireless.

Di luar itu, gawai internet of things (IoT) yang saat ini ini telah hadir di Indonesia juga belum membutuhkan 5G. Ada pengecualian, misalnya, perangkat IoT yang membutuhkan kapasitas besar, latensi pendek, dan masif dengan update perangkat yang cepat seperti untuk sektor pertanian.

Permasalahan adopsi 5G bukan hanya soal aplikasi. Kristiono juga menyoroti tentang banyaknya generasi teknologi di Indonesia, seperti 2G, 3G, 4G dan 4,9G. Jumlah tersebut dinilai terlalu banyak di tengah kondisi spektrum frekuensi yang terbatas.

Di negara lain, umumnya satu generasi dibuang sehingga frekuensinya bisa dipakai ulang oleh generasi lainnya. Dalam hal ini, kebanyakan negara membuang 3G karena merupakan teknologi sementara yang bisa digantikan dengan 4G.

Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Denny Setiawan mengatakan, hingga saat ini pemerintah terus mengkaji pemanfaatan 5G.

Dia berkilah, secara global, negara yang belum siap menerapkan 5G bukan hanya Indonesia. Menurutnya, kemungkinan teknologi 5G baru dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar 1—2 tahun lagi.

“Saya kira semua negara pun masih mencari, tapi tidak ada yang berhenti, paling tidak di negara Asean kita jangan ketinggalan,” kata Denny.

Denny mengakui permasalahan 5G bukan hanya soal permintaan saja, melainkan juga spektrum frekuensi dan ekosistem yang belum terbentuk. Dari sisi ekosistem, hingga saat ini 5G baru dinikmati oleh konsumen dan belum masuk ke industrial.

Dari sisi spektrum frekuensi, Kemenkominfo masih menyiapkan frekuensi yang akan ditempati 5G. Saat ini, pita frekuensi yang memungkinkan digunakan untuk 5G adalah 3,5 Ghz dan 2,6 Ghz. Sayangnya kedua frekuensi tersebut telah ditempati.

Penantian Konsumen

Dari sisi pemanfaatan di masyarakat, Denny merujuk pada hasil riset Ericsson Consumer Lab 2019 yang menyebut bahwa masyarakat menginginkan kehadiran 5G karena mereka membutuhkan internet yang cepat.

Sementara itu, Ericsson menyajikan data yang berbeda. Ericsson menyebutkan, keberadaan generasi kelima terus ditunggu-tunggu. Ericsson melihat teknologi ini memberi banyak manfaat seperti efisiensi dan pengalaman baru kepada khalayak.

Jerry Soper, Head Ericsson Indonesia, mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian perusahaannya, konsumen Indonesia sudah menantikan kehadiran 5G.

Pada 2024 pertumbuhan trafik data mobile diperkirakan bertumbuh lima kali lebih besar dibandingkan dengan tahun ini. Adapun, sebanyak 25% trafik data diprediksi berasal dari 5G.

“Lebih dari setengah pengguna smartphone di Indonesia akan mengganti operator seluler dalam waktu 6 bulan jika penyedia layanan selulernya tidak mengaktifkan 5G,” kata Jerry.

Riset Consumer Lab juga menjabarkan peta jalan pemanfaatan 5G di Indonesia. Berdasarkan riset, 5G dapat dimanfaatkan untuk mobil otomatis, bioskop yang menggunakan VR, gim VR, sistem peringatan dini, sensor di perumahan, drone, dan lain-lain.

Jerry mengklaim bahwa pihaknya adalah perusahaan pertama yang membawa dan memperkenalkan teknologi 2G, 3G, dan 4G ke Indonesia serta melakukan uji coba 5G. "Dengan 18 kontrak 5G telah diumumkan, kami telah mengirimkan 3 juta perangkat radio 5G Ready ke pelanggan kami di seluruh dunia," kata Jerry.

Ericsson memiliki portofolio bagi para penyedia layanan untuk mengaktifkan 5G. Hingga saat ini, perseroan telah meluncurkan jaringan 5G secara komersial di negara Amerika Serikat, Australia dan kawasan Eropa serta Asia.

Jerry menambahkan bagi Indonesia, operator dapat memperoleh manfaat dengan tambahan pendapatan 30% dari peluang pasar yang mendukung 5G pada 2026.

Tidak ada yang salah dengan hasil riset Ericsson karena itu gambaran beberapa tahun ke depan. Namun, perlu dicatat, semua potensi pengaplikasian 5G di Indonesia perlu didukung oleh iklim, ekosistem, dan regulasi.

Jika tidak, dikhawatirkan ucapan Kristiono menjadi kenyataan bahwa 5 tahun ke depan 5G hanya ada, tapi minim guna.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi 5G

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top