Menerka Langkah Tri, Incar Frekuensi atau Operator Lain?

Hutchison Asia Telecom (HAT) dan Garibaldi Thohir dikabarkan menyuntik modal segar sekitar Rp47 triliun dengan membeli saham baru yang diterbitkan oleh PT Hutchison 3 Indonesia.
Menerka Langkah Tri, Incar Frekuensi atau Operator Lain?
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 29 April 2019  |  15:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah mengamankan modal segar dari Hutchison dan Garibaldi Thohir, PT Hutchison 3 Indonesia lebih leluasa untuk berkompetisi di industri telkomunikasi Indonesia. Suntikan dana jumbo Rp47 triliun menjadikan Tri sebagai operator seluler terbesar kedua di Tanah Air.

Hutchison Asia Telecom (HAT) dan PT Tiga Telekomunikasi yang terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir dikabarkan menyuntik modal segar sekitar Rp47 triliun dengan membeli saham baru yang diterbitkan oleh PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia).

Etta Rusdiana Putra, Analis dari Kresna Sekuritas, memprediksi dengan tambahan modal tersebut, akan membuat kompetisi industri telekomunikasi menjadi lebih ketat, dan mempercepat konsolidasi industri.

Tidak hanya itu, sambungnya, tambahan modal juga menjadi ancaman terbesar bagi Telkomsel. Adapun bagi PT Indosat Tbk. (Indosat Ooredoo), PT Smartfren Telecom Tbk., dan PT XL Axiata Tbk. (EXCL) sebaiknya melakukan konsolidasi untuk dapat bertahan.

“Tri Indonesia menjadi kuda hitam yang sebelumnya tidak masuk dalam perhitungan. Tidak menutup kemungkinan, konsolidasi industri ke depan adalah persaingan antara Telkom Group  versus Tri Indonesia,” kata Etta kepada Bisnis, Kamis (25/4/2019).

Etta menjabarkan nilai dan prediksi pemanfaatan dana segar tersebut nantinya dari berbagai sisi mulai dari ekuitas hingga frekuensi.

Dari sisi ekuitas, menurut Etta, dana tersebut menjadikan Tri Indonesia sebagai operator seluler kedua terbesar setelah TLKM. Diketahui TLKM saat ini memiliki ekuitas Rp106 triliun. Ekuitas Tri Indonesia jauh di atas EXCL yang senilai Rp18,3 triliun dan ISAT yang senili Rp12,1 triliun.

“Jika Tri Indonesia meningkatkan gearing dengan asumsi DER 2.0x, maka potensi kapasitas pendanaan Tri Indonesia dapat mencapai Rp141 triliun,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengtakan kapasitas finansial yang besar ini, memberi fleksibiilitas bagi Tri Indonesia untuk melakukan ekspansi, baik organik maupun melalui merger atau akuisisi.

Etta berpendapat, kemungkinan ekspansi tahap pertama adalah pertumbuhan organik, yaitu perusahaan meng-upgrade teknologi BTS menjadi 4.9G di seluruh jaringan BTSnya yang berjumlah sekitar 25.000 BTS, sehingga throughput berada di 600—1.000 Mbps.

Namun, bandwidth yang rendah yaitu 50 MHz membuat Tri Indonesia perlu merapatkan jaringan BTS-nya terlebih dahulu dengan  mengakuisisi frekuensi kosong yang sebelumnya ditempati oleh operator BWA (Broadband Wireless Access).

Dari sisi kemampuan pendanaan, Tri Indonesia dapat melakukan akuisisi operator lain, terutama membeli aset 4G dari perusahaan yang sudah berhenti beroperasi seperti Internux.

Dari sisi frekuensi, dia berpendapat, target ideal untuk diakuisisi adalah Indosat Ooredoo (ISAT) atau XL Axiata (EXCL). Namun jika Tri Indonesia bisa mengamankan frekuensi BWA, Smartfren (FREN) bisa menjadi alternatif terakhir karena dari sisi valuasi tidak menarik yaitu 60x Enterprise Value/EBITDA.

“Sekali lagi ini tergatung dari aturan frekuensi terkait merger dan akuisisi, dan aturan berbagi frekuensi. Dua regulasi inilah yang menjadi penghambat konsolidasi di industri telekomunikasi. Langkah merger atau akusisi baru dilakukan setelah aturan jelas apakah frekuensi dipertahankan, tidak dikembalikan ke negara?” kata Etta.

Etta pun menyimpulkan lima langkah strategis yang dapat ditempuh Tri Indonesia dengan dana tersebut. Pertama, Tri Indonesia  mengamankan frekuensi BWA di 2.300MHz. Kedua, Tri Indonesia fokus pada pengembangan back-end terlebih dahulu, dengan membuat jaringan Jakarta—Singapura dan meningkatkan kapasitas back-end di intra-Jawa. Ketiga, fokus meningkatkan kualitas jaringan  di Jabodetabek dan kota besar di Jawa, seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Keempat, keluarkan paket Unlimited untuk menarik pelanggan baru dengan batas pemakaian wajar yang menarik.

“Tentu saja dengan ARPU yang didesain tinggi, misal paket terendah di harga Rp100.000 per bulan untuk paket Unlimited. Tidak menutup kemungkinan juga paket keluarga misalnya hingga 5 nomor, misal Rp400.000 untuk 200GB dalam satu bulan, atau bundling dengan VOD seperti Netflix,” kata Etta.

Terakhir, kata Etta, setelah kuat dan berhasil merebut pasar di Jawa, Tri Indonesia dapat melakukan ekspansi ke Sumatra, baru ke Sulawesi.

Direktur Institutional Equity Sales CGS-CIMB Securities Kartika Sutandi menilai dari total Rp47 triliun dana segar yang didapat oleh Tri Indonesia, mayoritas bersifat debt to equity conversion atau mengkonversi utang menjadi penyertaan modal. Sisanya, digunakan untuk biaya operasional dan belanja modal.

Kreditur Tri adalah CK Hutchison Holdings yang juga induk perusahaan. CK Hutchison Holdings menilai bahwa perusahaan Tri memiliki pembukuan yang kurang bagus. Meskipun demikian, secara nilai ekonomi, Tri punya prospek cerah pada masa depan.   

Tambahan modal yang diberikan oleh pemegang saham, sambungnya, bertujuan untuk memperbaiki pembukuan Tri sekaligus memperkuat ekuitas perusahaan.

Di samping itu, sambungnya, penambahan modal juga menandakan bahwa pemegang saham melihat potensi besar pada pasar telekomunikasi di Indonesia saat ini.

Debt to equity conversion tujuannya memperkuat equity,” kata Kartika.

Lebih lanjut, dengan ekuitas besar yang dimiliki Tri Indonesia saat ini, membuat perusahaan semakin fleksibel untuk melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi atau melakukan ekspansi usaha.

Dia mengatakan CK Hutchison Holdings merupakan pemain besar di industri telekomunikasi sehingga tidak terlalu sulit menggelontorkan dana untuk mengakuisisi perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

“Hutchison kan bermain juga di Asia, bagi mereka yang telah berpengalaman di Asia, melihat pasar Indonesia tidak terlalu sulit,” kata Kartika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
seluler, hutchison 3

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top