Telstra Sebut 75% Bisnis Asia-Pasifik Alami Gangguan Siber

Perusahaan telekomunikasi terbesar Australia, Telstra Corporation LTD., melaporkan bahwa 75% pebisnis di Asia-Pasifik mengalami gangguan pelanggaran siber pada 2017 di perusahaan mereka.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 22 September 2018  |  11:53 WIB
Telstra Sebut 75% Bisnis Asia-Pasifik Alami Gangguan Siber
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, MELBOURNE -- Perusahaan telekomunikasi terbesar Australia, Telstra Corporation LTD., melaporkan bahwa 75% pebisnis di Asia-Pasifik mengalami gangguan pelanggaran siber pada 2017 di perusahaan mereka.

Dari jumlah itu, sebagian besar di antaranya sudah berlangsung bertahun-tahun. 
 
Temuan ini muncul dalam Telstra's Security Report 2018. Telstra mengumpulkan masukan dari lebih dari 1.250 pengambil keputusan keamanan TI dan profesional tingkat C perusahaan di dua wilayah yakni Asia Pasifik dan Eropa, termasuk 13 negara di 15 industri.
 
Temuan menunjukkan serangan ransomware meningkat di semua pasar. Sebanyak 74% bisnis Asia-Pasifik mengalami serangan ransomware pada 2017, sedangkan 22% mengalaminya setiap pekan atau setiap bulan.
 
Hal tersebut menunjukkan peningkatan kompleksitas yang dihadapi oleh bisnis di bidang siber dan keamanan elektronik pada 2018 beserta penyebab dan dampaknya, serta rekomendasi untuk tanggapan proaktif.
 
Dalam laporan itu disebutkan perlunya wawasan yang lebih luas untuk meningkatkan manajemen risiko karena ancaman yang dihadapi sekarang lebih besar dari sebelumnya.
 
"Telstra's Security Report milik kami yang paling komprehensif hingga saat ini dalam menjelaskan lingkungan keamanan yang berkembang lebih cepat dan menjadi lebih multi dimensi dari sebelumnya,” kata Direktur Solusi Keamanan Telstra Neil Campbell dalam keterangan tertulis di sela-sela acara Telstra Vantage di Melbourne, Australia yang berlangsung pada 19-20 September 2018. 
 
Lingkungan keamanan yang lebih kompleks dan mengancam, muncul bersamaan dengan tuntutan kepatuhan terhadap peraturan yang lebih ketat.

Pengenalan Peraturan Perlindungan Data Umum Eropa (General Data Protection Regulation/GDPR) pada 25 Mei 2018 mengharuskan organisasi di seluruh dunia yang menangani data warga Uni Eropa (UE) untuk mematuhi ketentuan perlindungan data yang disempurnakan atau menghadapi hukuman berat yakni denda 20 juta euro atau 4% dari pendapatan secara global, mana yang lebih tinggi.
 
Di Asia-Pasifik, anggaran keamanan perusahaan ditingkatkan untuk menangani ancaman dan mematuhi peraturan baru. Sekitar 84% responden di Asia-Pasifik mengungkapkan anggaran keamanan mereka akan meningkat dan bahwa keamanan siber dan anggaran keamanan elektronik akan menyatu.
 
Dari jumlah tersebut, proporsi terbesar yaitu 24% merencanakan peningkatan 6%-10% selama 12-24 bulan ke depan. Hanya 13% dari bisnis Asia-Pasifik yang melaporkan bahwa mereka akan menahan anggaran keamanan TI mereka.
 
Telstra sebagai penyedia layanan telekomunikasi TI bisnis Asia-Pasifik  memberi solusi keamanan dengan meluncurkan serangkaian solusi keamanan sebagai layanan untuk kawasan tersebut.
 
Layanan tersebut meliputi konsultasi profesional dengan menyelaraskan persyaratan keamanan pelanggan dengan kebutuhan bisnis, merekomendasikan peta jalan untuk mencapai tingkat perlindungan yang diinginkan, dan merancang kerangka kerja untuk memungkinkan bisnis secara proaktif menghadapi lingkungan ancaman yang selalu berubah.
 
Selain itu, Telstra juga menyediakan penilaian GDPR, Managed Security Services (MSS), Layanan Pemantauan Keamanan 24/7, dan TPN Gateway Protection. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telstra, keamanan siber

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top