Fakta-fakta Fenomena Meteor Lyrid, Jadi Hujan Meteor Tertua di Alam Semesta

Redaksi
Rabu, 17 April 2024 | 01:10 WIB
Fakta-fakta Fenomena Meteor Lyrid, Jadi Hujan Meteor Tertua di Alam Semesta/Instagram
Fakta-fakta Fenomena Meteor Lyrid, Jadi Hujan Meteor Tertua di Alam Semesta/Instagram
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena alam akan kembali terjadi yakni hujan meteor Lyrid. Fenomena ini akan berlangsung dari 15 April 2024 hingga puncaknya pada tanggal 21 April 2024 dini hari.

Sebelumnya langit di belahan benua Amerika mengalami fenomena gerhana matahari total (GMT), di mana pandangan akan menjadi gelap gulita ketika siang hari.

Sedangkan pada fenomena meteor Lyrid, langit akan diterangi dengan hujan meteor dan bisa disaksikan di penjuru dunia ketika malam hari.

Cahaya yang dihasilkan hujan tersebut sangat apik untuk disaksikan. Apalagi, menyaksikannya tidak membutuhkan perlengkapan khusus seperti halnya melihat gerhana matahari total (GMT. Artinya, setiap orang bisa saja melihat dengan mata telanjang.

Fakta-fakta menarik meteor Lyrid, yaitu:

1. Terjadi Setiap Tahun

Hujan meteor Lyrid terjadi setiap tahunnya pada bulan April. Lyrid biasanya berlangsung pada pertengahan bulan hingga dipenghujung bulan April. Nantinya, meteor akan melintasi langit bumi dan memancarkan cahaya yang indah untuk disaksikan.

2. Hujan Meteor Tertua

Dilansir National Aeronautics and Space Administration (NASA), Lyrid adalah hujan meteor tertua yang telah diamati selama 2.700 tahun. Fenomena ini pertama kali dilihat pada tahun 687 SM oleh orang Tiongkok. Kecepatan jatuhnya meteor ini berkisar 47 kilometer per detik dan setiap jamnya langit akan dilintasi 18 meteor.

3. Dilihat saat Malam Hari dan di Tempat yang Minim Cahaya

Untuk menyaksikan keindahan hujan meteor Lyrid bisa dilihat dari tempat yang jauh dari sinar cahaya perkotaan. Fenomena ini sangat baik dilihat di belahan bumi utara dini hari, biasanya orang-orang menyiapkan kantong tidur, kursi, dan selimut untuk berbaring menghadap langit ke arah timur. Dengan begitu meteor jauh lebih baik terlihat dibandingkan ditempat yang banyak memantulkan cahaya.

4. Meteor Berasal Dari Pecahan Asteroid

Meteor yang akan menghujani langit bumi berasal dari partikel sisa komet C/1861 G1 Thatcher dan pecahan asteroid. Komet yang mengelilingi matahari akan menghasilkan jejak debu dan setiap tahunnya bumi melewati puing-puing debu tersebut sehingga memungkinkan serpihan bertabrakan dengan atmosfer. Nantinya menghasilkan garis-garis api dan warna-warni di langit.

5. Berasal dari Dekat Konstelasi Lyra

Pancaran cahaya munculnya Lyrid berasal dari konstelasi Lyra, di mana cahaya Lyrid memancar dari daerah dekat binta Vega yang merupakan salah satu bintang paling terang ketika malam hari dan sangat mudah ditemukan. (Muhammad Sulthon Sulung Kandiyas)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper