Pedagang China TikTok Shop AS Kecewa dengan Tekanan Aturan Baru

Redaksi
Kamis, 28 Maret 2024 | 09:37 WIB
Ilustrasi logo TikTok dan Bendera Amerika Serikat. REUTERS
Ilustrasi logo TikTok dan Bendera Amerika Serikat. REUTERS
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pedagang e-commerce China yang menjual produknya di TikTok Shop Amerika Serikat (AS) merasa kecewa dengan langkah yang dilakukan TikTok untuk memperketat penegakan aturan bagi penjual luar negeri yang membuka toko di platform tersebut.

Sebelumnya, TikTok dihadapkan pada tekanan untuk menjual platformnya kepada investor di luar China. Hal ini membuat aplikasi tersebut dalam beberapa minggu terakhir telah mengambil sikap yang lebih keras dalam menegakkan aturan internalnya.

Kekecewaan tersebut disampaikan oleh lima pedagang China di platform tersebut dan sebuah asosiasi industri yang mewakili 3.000 toko China yang menjual produk secara online, dilansir dari Reuters, Rabu (27/3/2024).

Ketua Eksekutif Asosiasi E-Commerce Cross Border Shenzhen, Winnie Wang, menyatakan bahwa TikTok mewajibkan entitas AS yang didaftarkan oleh penjual memiliki kepemilikan 51% oleh Amerika Serikat dan diketuai oleh pemegang paspor AS.

Asosiasi E-Commerce Cross Border Shenzhen merupakan sebuah kelompok penjual terbesar di China yang berbasis di manufaktur.

Banyak penjual China telah menggunakan entitas Amerika Serikat agar diakui sebagai penjual AS di platform tersebut. Namun, aturan baru memaksa mereka untuk mendaftar ulang sebagai penjual luar negeri, yang menurut mereka, kurang mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai.

Hal ini membuat mereka berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan penjual TikTok asal Amerika Serikat.

Juru bicara TikTok menyatakan bahwa platform tersebut memiliki kebijakan yang cukup kuat untuk melindungi pelanggan dan mempromosikan lingkungan belanja yang terpercaya, mereka juga terus memperkuat cara mereka menegakkan aturan tersebut dan hal itu belum berubah semenjak TikTok Shop muncul di AS pada September 2023.

"TikTok menerapkan kebijakan yang kuat untuk melindungi pelanggan dan mendukung lingkungan belanja yang dapat dipercaya, dan kami terus memperkuat cara kami menegakkan aturan kami," ujar juru bicara TikTok namun mereka tidak memberikan komentar secara khusus mengenai penjual internasional yang mendapatkan kurang perhatian.

Vendor asal China mengungkapkan bahwa mereka merasa menjadi sasaran peraturan TikTok, dan beberapa di antaranya mempertimbangkan untuk mengurangi sumber daya yang mereka alokasikan untuk mendorong penjualan di platform tersebut atau mencari mitra di Amerika Serikat.

"Kami sedang memikirkan ulang berapa banyak waktu dan sumber daya yang kami habiskan untuk hal ini," kata seorang penjual e-commerce yang berbasis di Shenzhen, Jackie Bai.

Menurut Bai dan beberapa penjual lainnya yang berbasis di China, perwakilan TikTok telah menginformasikan kepada mereka bahwa pengetatan aturan tersebut merupakan respons terhadap sensitivitas politik yang dihadapi TikTok di Amerika Serikat selama tahun pemilu.

Para pejabat AS telah mengkritik masalah keamanan dan privasi aplikasi tersebut, dengan khawatir bahwa data pengguna bisa saja dibagikan dengan pemerintah Beijing.

Meskipun begitu, TikTok telah bersikeras bahwa perusahaan tidak pernah membagikan, atau menerima permintaan untuk berbagi, data pengguna Amerika Serikat dengan pemerintah China. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Redaksi
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper