Ancaman Serangan Siber Makin Canggih, Begini Trennya di 2024

Crysania Suhartanto
Selasa, 27 Februari 2024 | 20:46 WIB
Ilustrasi kejahatan siber/Reuters-Dado Ruvic
Ilustrasi kejahatan siber/Reuters-Dado Ruvic
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan keamanan siber Kaspersky memprediksi serangan siber pada 2024 masih didominasi oleh ransomware. Pada 2023, mayoritas serangan siber yang terjadi di dunia juga merupakan ransomware. 

Ransomware adalah jenis virus atau malware berbahaya yang digunakan untuk mengenkripsi data pengguna pada suatu perangkat komputer atau jaringan.

General Manager Kaspersky Asia Tenggara Yao Siang Tiong mengungkapkan, ransomware sebenarnya sudah merajarela sejak 2 hingga 3 tahun terakhir. Terutama, kata Yao, sejak geng ransomware LockBit makin ekspansif.

Oleh karena itu, Yao mengatakan, saat ini sistem keamanan siber yang makin canggih juga tidak berpengaruh besar karena serangan yang juga makin banyak dan canggih. 

“Jadi ini semua adalah bukti bahwa semua kelompok kejahatan terorganisir menjadi sangat aktif. Tidak ada gunanya jika alat sudah semakin baik,” ujar Yao kepada wartawan, Selasa (27/2/2024).

Senada, Territory Manager Kaspersky Indonesia Dony Koesmandarin mengatakan, ransomware akan selalu menjadi serangan siber yang paling banyak menyerang masyarakat.

Namun, Dony juga menuturkan bahwa ancaman siber juga mengintai saat masyarakat melakukan transaksi secara online. Diketahui, saat ini dunia pembayaran daring sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Itu juga menjadi concern,” ujar Dony.

Lebih lanjut, Dony mengatakan sektor yang akan paling banyak diserang oleh kejahatan siber juga merupakan sektor keuangan. Hal ini tidak terlepas dari motif kejahatan siber di era ini yang sudah berganti dari mencari ketenaran menjadi meraup keuntungan.

Dony mengatakan, motif inipun menjelaskan banyaknya pencurian data yang berakhir pada permintaan uang tebusan. Adapun, saat ini menjadi terkenal merupakan sebuah bonus semata.

Selanjutnya, sektor yang juga menjadi sasaran empuk para peretas adalah sektor publik atau pemerintahan. Hal ini dikarenakan server pemerintahan akan berisi banyak data-data masyarakat dari Sabang hingga Merauke.

Pemerintah menjadi sasaran yang juga empuk untuk dimintai uang tebusan. Diketahui, peretasan yang berujung pada permintaan uang tebusan pernah terjadi pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada pertengahan Januari 2024. 

Peretas yang diduga berasal dari grup Stormous meminta pemerintah memberikan tebusan senilai 11,59 bitcoin atau sekitar Rp7,7 miliar. Adapun, saat itu, peretas menunggu uang tebusan hingga 15 hari, sebelum data yang bocor disebarkan ke publik.

Kendati demikian, memang masih belum diketahui apakah data KAI benar-benar diretas dan apakah KAI sudah membayarkan tebusan tersebut. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper