Konten Kreator TikTok Mulai Kecewa, Banyak Lagu yang Tak Dapat Diputar

Leo Dwi Jatmiko
Selasa, 6 Februari 2024 | 10:30 WIB
Bendera China membayangi logo TikTok yang terpampang di layar sebuah smartphone./Bloomberg-Hollie Adams
Bendera China membayangi logo TikTok yang terpampang di layar sebuah smartphone./Bloomberg-Hollie Adams
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Para konten kreator TikTok dikabarkan mulai kecewa setelah beberapa lagu di platform TikTok tidak bisa diputar. TikTokers marah setelah label rekaman Universal Music Group (UMG) menghapus semua lagu artis seperti Billie Eilish, Jon Batiste, dan Taylor Swift dari aplikasi, karena keduanya gagal mencapai kesepakatan lisensi baru.

Diketahui, UMG memutuskan untuk menghapus musik mereka dari TikTok sepenuhnya setelah negosiasi antara kedua perusahaan gagal mencapai kesepakatan mengenai bayaran yang harus dibayarkan TikTok kepada UMG.

Pada hari Rabu, soundtrack dari banyak video TikTok lenyap setelah negosiasi selama berminggu-minggu, dan musik dari artis seperti Drake, Harry Styles, dan Adele tidak akan tersedia lagi di masa mendatang.

Kontent Kreator TikTok kurang senang - dengan banyak yang melihat video lama mereka dibisukan soundtracknya - menampilkan pesan 'suara ini tidak tersedia'.

Bahkan artis seperti Eilish dan Olivia Rodrigo, yang telah memposting video TikTok untuk mempromosikan rilisan baru mereka, kini memiliki klip bisu di situs media sosial.

Salah satu pengguna TikTok menyampaikan bahwa banyak postingan tanpa suara saat ini. Kondisi tersebut menurutnya menyebalkan.

Dilansir dari Unilad, Selasa (6/2/2024) konten kreator Savannah Delullo menyampaikan kepada Wired beberapa videonya yang paling banyak dilihat adalah yang berbicara tentang Taylor Swift. Dibisukannya lagu-lagu tersebut merupakan ‘pukulan bagi dirinya’. 

"Jadi, dibungkamnya mereka cukup menyedihkan, karena kami telah melakukan semua pekerjaan itu,” kata dia. 

Sebelumnya, UMG menyampaikan perjanjian perusahaan dengan TikTok telah berakhir. 

Menurut UMG, selama negosiasi, raksasa sosial milik ByteDance itu menuntut hak kontrak yang memungkinkan konten AI, yang secara besar-besaran akan mengurangi jumlah royalti bagi seniman manusia. Platform itu juga menurut UMG telah mensponsori penggantian artis dengan AI.

Dalam surat tersebut, UMG turut mengklaim bahwa ketika mereka memberikan usulan agar TikTok memberikan solusi terhadap permasahalan ini, TikTok justru menanggapinya dengan ketidakpedulian, dan kemudian intimidasi.

Dalam surat terbukanya, raksasa musik tersebut menuduh platform yang sangat populer itu telah "mencoba membangun bisnis berbasis musik, tanpa membayar nilai wajar untuk musik dari para musisinya."

"Saat negosiasi kami berlanjut, TikTok berusaha menindas kami agar menerima kesepakatan yang nilainya lebih rendah dari kesepakatan sebelumnya, jauh di bawah nilai pasar wajar dan tidak mencerminkan pertumbuhan eksponensial mereka,” tulis manajemen UMG dalam surat itu.  

TikTok disebut mencoba mengintimidasi UMG dengan secara selektif menghapus musik dari artis-artis tertentu yang sedang berkembang, sambil tetap mempertahankan bintang-bintang global yang menggerakkan penonton. 

“Hal itu disebabkan keengganan TikTok untuk memberikan kompensasi yang pantas kepada artis dan penulis lagu, melindungi artis manusia dari efek berbahaya AI, dan mengatasi masalah keamanan online untuk pengguna TikTok,” tulis UMG.

TikTok membalas bahwa TikTok telah mencapai kesepakatan yang 'mengutamakan artis' dengan label dan penerbit lain.

“Jelas, tindakan UMG mementingkan diri sendiri bukanlah demi kepentingan artis, penulis lagu, dan penggemar,” tulis mereka. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper