Menilik Transformasi Industri Kesehatan Digital di Masa Depan

Media Digital
Jumat, 8 Desember 2023 | 19:01 WIB
Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin/istimewa
Ilustrasi dokter akan menyuntikkan vaksin/istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi COVID-19 lalu memukul seluruh sektor kehidupan secara global termasuk perekonomian, menyusul pemberlakuan larangan bepergian dan pembatasan mobilisasi total di puluhan negara. Di China misalnya, pertumbuhan ekonomi negatif 6,8% di triwulan I 2020. Beberapa negara tidak bisa menghindari jurang resesi dengan pertumbuhan negatif dalam dua triwulan berturut-turut, seperti negara-negara Eropa, Singapura, Hongkong, Filipina, dan Meksiko. 

Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen (c-to-c) dibandingkan tahun 2019. Pada saat itu, Indonesia menghadapi triple burden atau beban tiga kali lipat masalah penyakit, dari penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging seperti Covid-19, penyakit menular, dan Penyakit Tidak Menular (PTM). Akibatnya, porsi pengeluaran sektor kesehatan masih belum optimal karena berfokus pada upaya kuratif. Sistem kesehatan juga kewalahan karena jumlah pasien yang membludak, dan rumah sakit penuh.

Berbagai persoalan kesehatan yang hadir di masa pandemi lalu telah membuat layanan kesehatan digital seperti telemedisin menjadi solusi untuk mendapatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di tengah pembatasan sosial. Selama Maret 2020 hingga Agustus 2022, tercatat setidaknya 12% pasien COVID-19 se-Indonesia terbantu dengan setidaknya satu layanan Halodoc, sebuah penyedia ekosistem layanan kesehatan digital di Tanah Air. Peningkatan penggunaan telemedisin selama pandemi ini jadi momentum yang mendorong literasi kesehatan, literasi digital dan bertumbuhnya sektor kesehatan digital.

Beralih ke endemi, kondisi ekonomi mulai membaik. Usai terkontraksi, ekonomi tahun 2021 mulai tumbuh sebesar 3,69 persen, dan 2022 tumbuh impresif sebesar 5,31%. Dalam kondisi ini, industri kesehatan digital dituntut mampu menghadapi tantangan baru akibat kondisi makro ekonomi yang terus bergerak dinamis serta pergeseran kebutuhan masyarakat di masa endemi.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, pergeseran ini bisa berdampak pada bisnis perusahaan teknologi kesehatan. Pasalnya, pergeseran ini dianggap akan mengakibatkan permintaan terhadap layanan kesehatan secara digital akan berkurang. Meski begitu, Huda mengatakan keberadaan telemedisin tetap diperlukan untuk mencapai target Indonesia sehat 2045.

“Telemedisin sangat berperan terutama dalam skrining dan diagnosa awal, serta memberikan akses kesehatan untuk daerah yang minim fasilitas kesehatan seperti daerah 3T." paparnya.

Optimisme terhadap keberadaan industri kesehatan digital pasca pandemi juga tercermin dari sisi investasi. Sebut saja Halodoc yang pada akhir Juli 2023 disuntik pendanaan seri D, dengan total dana investasi sebesar US$100 juta atau sebesar Rp1,5 triliun, yang dipimpin oleh PT Astra International Tbk (Astra) melalui subsidiarinya, PT Astra International Tbk (ASII). Perusahaan ventura Openspace serta Novo Holdings juga ikut serta dalam putaran pendanaan tersebut. 

Secara total, nilai kesepakatan di sektor health-tech untuk bidang diagnostik dan telemedisin di Asia Tenggara tercatat mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan DealStreetAsia, pada 9 bulan pertama tahun 2022, sektor diagnostik dan telemedisin mencapai nilai kesepakatan masing-masing USD 120 juta dan USD 92 juta. Angka ini kemudian meningkat menjadi masing-masing USD 159 juta dan USD 136 juta pada periode yang sama di tahun 2023. Hal ini mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek industri kesehatan digital, khususnya dalam aspek diagnostik dan telemedisin.

Kepercayaan investor tersebut juga sejalan dengan data terbaru dari Statista yang mengungkapkan bahwa pendapatan industri kesehatan digital diprediksi akan mencapai USD 2,92 miliar pada 2028, mengalami peningkatan dari USD 1,66 miliar pada 2022. Dari total nilai tersebut, pengobatan dan perawatan digital adalah segmen terbesar dalam pasar kesehatan digital.

Di sisi lain, saat ini pemerintah tengah fokus melakukan transformasi digital di bidang kesehatan dalam upaya mencapai Indonesia Sehat 2045 yang menargetkan pengadopsian teknologi kesehatan, pemahaman perilaku hidup sehat, pencegahan dan pengendalian penyakit yang responsif, serta penyediaan fasilitas dan jaminan kesehatan nasional.

Beberapa bukti nyata pemerintah dalam transformasi digital di bidang kesehatan antara lain dengan  perumusan cetak biru transformasi digital kesehatan 2024 hingga pengesahan UU no. 17 tahun 2023 tentang kesehatan yang didalamnya juga membahas terkait penyelenggaraan upaya kesehatan dalam bentuk pelayanan kesehatan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Meskipun demikian, Heru Sutadi, Executive Director Indonesia ICT Institute mengatakan saat ini tantangan bagi pemain layanan kesehatan digital seperti telemedisin adalah mempertahankan dan menambah jumlah kunjungan dengan menerapkan strategi baru, seperti memperluas layanan dengan membuka layanan akses laboratorium, medical check up, pendaftaran registrasi ke RS dan dokter dan layanan ke rumah.

Tantangan telemedisin yang diungkap oleh Heru ini sebenarnya sudah ditangkap oleh para pemain. Saat ini, sudah banyak pemain industri yang menyediakan layanan di luar konsultasi dengan dokter dan membeli obat semata. Mereka telah beradaptasi dengan kebutuhan masa endemi, seperti menyediakan akses ke layanan laboratorium, diagnostik hingga vaksinasi sebagai respon telah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan preventif. Layanan ini menjadi semakin penting mengingat saat ini pemerintah juga memfokuskan arah pengembangan sektor kesehatan pada promotif serta preventif seperti skrining dan diagnostik cepat. 

Selain itu, pemain telehealth juga kini tengah gencar melakukan integrasi layanan mereka kepada layanan asuransi. Hadirnya layanan asuransi ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk lebih memudahkan masyarakat dapat mendapatkan berbagai layanan kesehatan secara lebih mudah dan terjangkau. Melansir dari Halodoc Annual Insight Report terbaru, konsultasi melalui telemedisin 2,8 kali dapat lebih hemat biaya dan waktu untuk dimanfaatkan pengguna asuransi dibandingkan konsultasi offline.  

Terlepas dari berbagai tantangan dan potensinya, layanan kesehatan digital tetaplah penting,  terutama untuk melayani wilayah terpencil, di tengah gap jumlah dokter yang kini per kapita baru mencapai 4 per 10.000 penduduk. Meskipun demikian, Heru beranggapan bahwa nantinya hanya beberapa platform saja yang akan bertahan karena terfragmentasi dan mampu membuat strategi dan bersaing untuk survive.

“Saya kira hanya 2-3 pemain besar saja nantinya yang bertahan,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper