Cerita Bos Microsoft Soal Serangan Siber Sebelum Perang Rusia-Ukraina Pecah

Crysania Suhartanto
Selasa, 5 Desember 2023 | 21:35 WIB
Director Government Affairs Microsoft Indonesia and Brunei Darussalam Ajar Edi memberikan pemaparan saat acara Editors Meeting "Arah Pengembangan Kerangka Etika dan Tata Kelola Kecerdasaan Artifisial" di Jakarta, Selasa (5/12/2023)/Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
Director Government Affairs Microsoft Indonesia and Brunei Darussalam Ajar Edi memberikan pemaparan saat acara Editors Meeting "Arah Pengembangan Kerangka Etika dan Tata Kelola Kecerdasaan Artifisial" di Jakarta, Selasa (5/12/2023)/Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Director Corporate Affair Microsoft Indonesia dan Brunei Ajar Edi bercerita terkait pengalaman perusahaannya mendeteksi serangan siber dalam jumlah besar, hanya beberapa hari sebelum meletusnya perang antara Ukraina dan Rusia.

Ajar mengatakan, beberapa hari sebelum perang, Microsoft mendapati sinyal serangan siber. Perusahaannya pun langsung menginformasikan serangan tersebut ke otoritas setempat serta pemilik perangkat.

Ajar bercerita, berkat adanya notifikasi serangan tersebut, pemerintah setempat pun berhasil memindahkan data-data mereka yang tadinya tersentralisasi menjadi tersebar di seluruh Eropa. 

“Ketika tahu ada serangan siber, dia [pemerintah setempat] meratifikasi dan menempatkan semua datanya di seluruh Eropa karena untuk ketahanan. Ketika diserang, dia masih memiliki backup di beragam data center untuk memastikan ketahanannya ada,” ujar Ajar pada diskusi publik yang diadakan Bisnis Indonesia bersama dengan Microsoft dan Elsam, Selasa (5/12/2023).

Benar saja, kata Ajar, sehari sebelum perang pecah, serangan siber menjadi semakin kuat. 

Menurut Ajar, para peretas biasanya akan melakukan serangan siber sebelum perang dimulai. Hal ini dikarenakan pihak musuh yang cenderung ingin melumpuhkan pusat siber dari negara tersebut, sebelum menyerang secara fisik. 

Serangan siber tersebut, lanjut Ajar, cenderung akan mengganggu sektor kesehatan, finansial, perbankan, hingga pendidikan. Menurutnya, ketika keempat sektor krusial tersebut sudah tumbang, negara musuh akan lebih mudah menyerang fisiknya, dengan cara bom dan perang fisik. 

Masalahnya, Ajar mengatakan, potensi serangan siber ini tidak hanya mengancam negara-negara yang sedang berkonflik, melainkan juga negara-negara yang memiliki jumlah data yang besar, seperti Indonesia. 

“Dinamikanya sekarang sudah kompleks seperti itu sehingga bagaimana kita bisa memastikan ketahanan kita sebagai negara, walaupun mungkin kadang-kadang orang bilang kita [Indonesia] enggak mungkin berperang, tapi kita selalu melihat potensi,” ujar Ajar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper