Jelajah Sinyal 2023: NTT Butuh Infrastruktur Jaringan Mumpuni

Afiffah Rahmah Nurdifa
Jumat, 1 Desember 2023 | 18:59 WIB
Foto aerial Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa di Teluk Gurita, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (28/11/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Foto aerial Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa di Teluk Gurita, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (28/11/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, KUPANG -- Potensi ekonomi digital di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum dikeruk dengan optimal. Hal ini lantaran jangkauan infrastruktur jaringan yang belum merata ke seluruh pelosok.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan penggunaan internet di NTT masih jauh tertinggal dibandingkan dengan provinsi lainnya. 

"Misalkan penduduk yang mengakses internet, provinsi NTT mempunyai angka  47 dibandingkan angka Indonesia yang berada di angka 67," katanya kepada Bisnis, Jumat (1/12/2023). 

Jika merujuk pada data Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet (APJI) 2023, tingkat penetrasi internet Nusa Tenggara sebesar 72,32%, meningkat dari tahun sebelumnya 64,85%. 

Tingkat penetrasi internet di Indonesia Timur pada 2023, Nusa Tenggara mencapai 3,65% atau lebih tinggi dari internet di Maluku dan Papua yang mencapai 1,09% dan 1,65%. 

"Provinsi NTT hanya lebih baik dibandingkan dengan Papua. Keberadaan sinyal pun masih menjadi kendala, di mana hampir 50% desa di NTT tidak mempunyai sinyal internet yang kuat," ujarnya. 

Menurut Nailul, ekonomi digital di NTT masih sangat terbatas, begitupun dengan penggunaan e-commerce di NTT yang terbatas. Padahal, Nailul mengungkap bahwa potensi besar penduduk di NTT yang berkualitas.

Direktur Center of Economi and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan untuk mendukung pengembangan ekonomi digital di perbatasan NTT butuh infrastruktur jaringan yang mumpuni. 

"Tetapi, biaya kan cukup besar dengan infrastruktur fiber optic yang ada sekarang. Jadi opsi lainnya bisa dengan gandeng starlink misalnya," ungkapnya.

Adapun, Bhima menyarankan untuk biaya investasi per rumah tangga dapat dibantu dengan subsidi dari Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat untuk menggandeng pemain internasional. 

Dia optimistis langkah tersebut akan mendorong keterjangkauan biaya internet sekaligus kualitas layanan digital. Adapun, Bhima menilai efek digitalisasi di NTT perlahan mulai dirasakan dalam berbagai aspek. 

"Yang jelas arus informasi dan peluang usaha makin terbuka di sektor perkebunan dan peternakan rakyat," tuturnya. 

Misalnya, para petani di NTT menggunakan manfaat digital untuk mencari tahu harga rata-rata biji kopi secara real time ataupun informasi terkait proses pascapanen biji kopi.

"Ada juga yang manfaatkan digitalisasi untuk mendorong ekspor kerajinan tangan hingga menarik wisatawan asing untuk datang ke NTT. Banyak ya manfaatnya untuk dorong ekonomi daerah," pungkasnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper