Jelajah Sinyal 2023: Dampak Besar Internet Seadanya di Daerah 3T

Afiffah Rahmah Nurdifa, Annisa Kurniasari Saumi, Leo Dwi Jatmiko
Senin, 27 November 2023 | 11:00 WIB
Anak-anak Suku Boti mengakses smartphone di depan Ume Kbubu atau rumah bulat di Desa Boti, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (26/11/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Anak-anak Suku Boti mengakses smartphone di depan Ume Kbubu atau rumah bulat di Desa Boti, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (26/11/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat di perkotaan dengan nyaman berselancar di dunia maya. Kecepatan internet di atas 20 Mbps, seperti laporan Ookla Septermber 2023, mereka gunakan untuk apapun. Pada saat yang sama, di Desa Boti, Yosepus Sae, harus berjalan 5-6 kilometer untuk mendapat internet 2 Mbps. 

Desa Boti terletak di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Medan perjalanan ke wilayah itu tak mudah, butuh 4 jam dari Kupang untuk sampai Desa Boti.

Desa Boti merupakan kediaman Suku Boti, salah satu suku tertua di NTT. Suku Boti merupakan suku asli pulau Timor, yaitu Atoni Metu. Suku ini jarang dijangkau dunia luar lantaran letaknya yang berada di tengah lembah perbukitan. 

Yosepus Sae sedang menjemur kemiri dan asam Tim Jelajah Sinyal datang. Pria berusia 41 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai petani dan peternak. Dia menanam berbagai macam pangan seperti Jagung, Ubi, Pisang, dan mengelola hasil bumi seperti Kemiri dan Asam. Sedangkan, peternakan yang dikembangkannya mencakup babi dan kambing. 

Dalam periode tertentu, seperti di penghujung tahun ini, dia mulai menghitung berapa banyak yang dapat ditanam dan potensi hasil panen. Jika lebih dari kebutuhan pribadi, maka akan dijual ke pasar. 

Sebelum ada jaringan sinyal, Sae mengatakan warga Boti harus menjual berbagai hasil panen nya ke pasar yang letaknya di Niki-Niki. Setidaknya butuh menempuh 30 km lebih untuk bisa kesana dari Desa Boti.

Dari perjalanan jauh itu, hanya Rp50.000 per kg yang bisa di dapatkan untuk menjual kemiri.

Setelah mengenal penggunaan handphone pun, Yosepus tetap kesulitan karena ketidakjangkauan sinyal di beberapa titik. Setidaknya, dia harus menempuh jarak 5-6 km untuk mendapatkan sinyal mumpuni. 

"Kami senang, karena sudah setahun lebih mulai ada tower disini, hubungan keluarga kami atau keperluannya apa terjangkau saat itu juga," tuturnya. 

Yosepus Sae di tengah pemukiman di Desa Boti
Yosepus Sae di tengah pemukiman di Desa Boti


Sinyal yang kuat makin mudah menghubungkan Yosepus dengan pembelinya di luar Boti. Dia bisa mendapat kepastian pesanan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Satu ton asam bisa terjual cepat dengan keterjangkauan sinyal. 

Sementara itu di Desa Tetaf, Kuatnan, Gusti Nasa merasakan dampak besar kehadiran internet dalam meningkatkan penjualan hasil kebun dan pertanian. 

Gusti mengaku telah berkecimpung di perkebunan sejak kecil. Maklum. Kedua orang tuanya adalah petani. Walaupun sudah lama bercocok tanam, Gusti baru menggunakan internet untuk berjualan pada 2017, karena layanan data baru masuk saat itu. Simsalabim penjualan Stroberi yang berwarna merah itu, menghijau. 

"Saya jual di Facebook dan story di Whatsapp, itu foto saja untuk Stroberi dan sayur itu ada nama produk dan harga. Sekitar 40% kontribusi ke penjualan keseluruhan," kata Gusti Nasa di Desa Tetaf, Kuatnan, Minggu (26/11/2023). 

Gusti mengukur kecepatan internet di ladangnya
Gusti mengukur kecepatan internet di ladangnya

Untuk diketahui, pertanian menjadi salah satu mata pencarian yang banyak dilakoni masyarakat di Desa Tetaf, Kuatnana, Kab. Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Termasuk Gen Z, yang melihat potensi besar di sektor pertanian dengan memanfaatkan digitalisasi. Gusti hanya salah satunya. 

Sebagai pemuda yang lahir dari keluarga petani, Gusti memiliki impian untuk dapat memasarkan hasil panen nya ke berbagai daerah. Untuk saat ini, sebagian besar hasil tani nya dipasarkan ke Soe dan Nikiniki. 

Pemuda berusia 21 tahun itu mampu mengelola 1 hektare lahan yang ditanami sayuran seperti kol, kumbang hingga buah-buahan stroberi. 

Hasil panen stroberi untuk 1.000 polybag mencapai 70 kg dengan harga jual Rp60.000 per kg. Omzet penjualan untuk stroberi masih tidak menentu, namun dalam 1 tahun terakhir dia bisa mendapatkan Rp20 juta. 

Gusti mengaku sangat terbantu dengan adanya jaringan internet. Digitalisasi membawa berkah pada permintaan pertanian miliknya hingga 80% dibandingkan sebelum menggunakan media 

Dia bermimpi stoberinya dapat terjual lintas kota dan negara, meski realitanya saat ini masih seputar Soe dan Niki-niki, desa kecil di Amanuban Tengah, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.  

 “Bisa berubah, pokonya jangan hanya jual di seputar Soe atau Nikiniki, tetapi juga dipasarkan ke luar daerah," ungkapnya sambil mengangguk.

Gusti Nasa
Gusti Nasa


Sementara itu di Makassar, Kepala Puskesmas Ballaparang dr. Rezky Yulianti berterima kasih dengan hadirnya internet di kota tersebut. Internet memudahkan pekerjaannya untuk sosialisasi dan untuk rapat dengan pusat. 

"Kita menyampaikan kegiatan dan edukasi ke masyarakat di medsos juga, bukan hanya lewat mulut. Instagram, Facebook, kita ke situ to, positifnya di medsos," ucapnya.

Menurut dokter berusia 42 tahun ini, keberadaan jaringan internet dan operator seluler cukup andal di Puskesmas Ballaparang. 

Dia melanjutkan, operasional sehari-hari Puskesmas Ballaparang yang membutuhkan koneksi internet tidak mendapatkan hambatan berarti selama ini. Hanya saja, kata dia, sinyal internet di Puskesmas ini akan terganggu ketika terjadi mati listrik.

"Kalau mati lampu, berkurang kekuatan sinyalnya," ujar Rezky.

Puskesmas Makassar
Puskesmas Makassar

Tak dapat dipungkiri. Infrastruktur internet yang tadinya tidak ada, menjadi ada berdampak besar bagi kehidupan mereka. Walaupun kecepatan internet yang dirasakan masih sangat kecil berkisar 2-5 Mbps. 

Pada Juni 2022, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) melaporkan dari 421 lokasi yang menjadi target pembangunan, sebanyak 207 lokasi telah terlayani jaringan internet. 

Bakti terus memacu untuk menambah base transceiver station (BTS) baru agar digitalisasi di NTT dapat tumbuh.  Sementara itu menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi internet di Nusa Tenggara terus meningkat dari 64,85% pada 2022 menjadi 72,32% pada 2023. Sejalan dengan peningkatan tersebut, kontribusi internet NTT 94 basis points (bps) menjadi 3,65%. 

Secara angka, memang terjadi peningkatan. Tetapi, tantangan selanjutnya muncul yaitu literasi mengenai pemanfaatan internet. Di Desa Boti, setelah internet hadir, beberapa anak-anak menjadi kecanduan internet, dan terus bermain gim, yang sedikit banyak mengubah kebiasaan di sana. 

Meski demikian, ada juga anak-anak yang menggunakan internet untuk pendidikan. Orang dewasa di Boti merasa sudah cukup memanfaatkan jaringan sinyal telepon. Keperluan penggunaan internet tak terbantahkan untuk menunjang pendidikan anak-anak.  

Pukulan pandemi Covid-19 yang menuntut berbagai pihak untuk bertransformasi digital pun terjadi di Boti. Anak Yosepus, bernama Juned, sudah mulai menggunakan android dan memanfaatkan jaringan untuk belajar secara online.  

"Itu karena sekarang ini zaman belajar lewat online, entah mau ada atau tidak, kita harus berupaya untuk anak-anak dengan pakai internet," ungkap Yosepus.

Infrastruktur telekomunikasi di desa Boti
Infrastruktur telekomunikasi di desa Boti

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper