XL Axiata (EXCL) Bakal Ikut Seleksi 700 MHz, Up Front Fee Sudah Disiapkan

Crysania Suhartanto
Senin, 9 Oktober 2023 | 18:05 WIB
XL Axiata Tower, Jakarta. -Bisnis.com/Samdysara Saragih
XL Axiata Tower, Jakarta. -Bisnis.com/Samdysara Saragih
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - PT XL Axiata Tbk. (EXCL) mengaku siap untuk terlibat dalam persaingan memperebutkan pita frekuensi 700 MHz. Operator berwarna biru itu telah menyiapkan up front fee sebagai bentuk keseriusan perseroan untuk ikut seleksi. 

Up front fee adalah biaya nilai awal. Dalam lelang frekuensi, pemenang lelang diwajibkan membayar biaya nilai awal sebesar 2x nilai penawaran terakhir dan biaya hak penggunaan (BHP) pita frekuensi

Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan perseroan telah menyiapkan dana untuk ikut lelang. Namun, besaran dana tersebut belum dapat diberitahun ke masyarkat.

Biaya yang disiapkan juga memperhitungkan nilai lelang terakhir pada 2022 yang digelar oleh Kemenkominfo di pita 2,1 GHz. 

“Teman-teman masih ingat tender 2,1 GHz itu untuk 5 MHz itu harganya di atas Rp600 miliar kalau 5 MHz. Kalau dihitung sama, maka harganya mau berapa?,” ujar Dian di sela acara ulang tahun ke 27 XL Axiata, Senin (9/10/2023).

Sebagai gambaran, pada 2022 Telkomsel harus membayar Rp605 miliar untuk 1 blok dengan lebar 2x5 MHz di pita frekuensi 2,1 GHz. 

Adapun untuk spektrum frekuensi 700 Mhz terdapat pita dengan lebar 90 MHz. Artinya, jika dibagi menjadi 2x5 MHz maka akan terdapat 9 blok. 

Jika masing-masing nilai blok diterapkan nilai yang sama yaitu Rp605 miliar, kemudian Kemenkominfo memutuskan membagi pemenang seleksi menjadi tiga operator, yang mana masing-masing pemenang mendapat 3 blok, maka nilai yang dibayarkan per operator setiap tahunnya adalah sekitar Rp1,81 triliun. 

Adapun untuk tahun pertama, mereka harus membayar Rp5,44 triliun. 

Sementara itu, Director and Chief Business Officer Indosat Muhammad Buldansyah sebelumnya memperkirakan bahwa harga lelang spektrum 700 MHz akan lebih besar dibandingkan dengan nilai lelang terakhir di 2,1 GHz dengan harga Rp605 miliar. 

Dengan menggunakan perhitungan nilai yang lebih tinggi misalnya Rp650 miliar per blok, maka nilai lelang diperkirakan akan mencapai sekitar Rp5,9 triliun-Rp6 triliun untuk kesembilan blok. 

Dengan jumlah tersebut maka pada tahun pertama, jika pemenang lelang hanya dipilih satu, maka diperkirakan harus membayar sekitar Rp17 triliun - Rp18 triliun. Jumlah tersebut, menurut Buldansyah, sangat besar. 

“Coba baca laporan keuangan operator, ada atau tidak operator yang untung Rp18 triliun dalam satu tahun? Itu untuk satu frekuensi saja,” kata Buldansyah beberapa waktu lalu.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper