BCA (BBCA) Ungkap Penipu Makin Pintar, Tarik Kredit dengan Deepfake!

Crysania Suhartanto
Rabu, 26 Juli 2023 | 23:06 WIB
Hacker/mirror.co.uk
Hacker/mirror.co.uk
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan teknologi yang berjalan cepat dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berbuat curang dan melakukan sesuatu yang berbahaya.

Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Hendra Lembong mengungkapkan penipuan terhadap industri perbankan terus berkembang. Bahkan, beberapa penipu telah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meminjam kredit dengan menggunakan deepfake. 

Deepfake adalah teknik untuk sintesis citra manusia menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Deepfake menggabungnkan gambar dan video sehingga terbentuk sebuah pola yang dapat bergerak seperti manusia sungguhan. 

Penipu tersebut menggunakan deepfake untuk semua proses pendaftaran, pengecekan, serta verifikasi dilakukan dengan daring. Penipuan tersebut terbongkar setelah ditemui beberapa kesamaan bentuk kepala yang meminjam kredit di suatu bank.

Hendra tidak memberitahu bank korban penipuan tersebut.

“Ketika di cek, mukanya berbeda-beda semua, bentuk kepala dan latar belakangnya sama. Ini pakai deepfake,” ujar Hendra di seminar Challenges of Accelerating Digital Transformation for Indonesia Economic Growth, Rabu (26/7/2023).

Hendra juga menceritakan bahwa praktik deepfake tersebut mampu menghasilkan sebuah gambar yang mirip dengan KTP. Alhasil, penipuan dapat dilakukan bagi lembaga keuangan yang hanya menjadikan KTP sebagai syarat untuk mengambil kredit.  

Hendra menuturkan keamanan dan kenyamanan bertolak belakang. Makin mudah sesuatu dibuat dan diakses, akan makin mudah pula kejahatan terjadi. 

Perbankan sendiri menjadi salah lembaga yang tidak pernah luput dari serangan siber. 

Berdasarkan data dari Checkpoint Research 2022, sektor jasa keuangan termasuk perbankan memang kerap kali mendapatkan serangan siber, jumlahnya mencapai 1.131 kali upaya serangan dalam setiap pekan.

Sementara itu, data International Monetary Fund (IMF) pada 2020 menyebutkan total kerugian rata-rata tahunan akibat serangan siber di sektor jasa keuangan secara global mencapai sekitar US$100 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper