Tren Belanja Online Meningkat, Pasar e-Commerce Meluas ke Daerah

Khadijah Shahnaz Fitra
Rabu, 14 Juni 2023 | 13:52 WIB
Ilustrasi konsumen yang berbelanja secara daring melalui e-commerce di ponsel mereka/Freepik
Ilustrasi konsumen yang berbelanja secara daring melalui e-commerce di ponsel mereka/Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kredivo, startup fintech, melihat adanya pergeseran tren belanja online masyarakat pada masa pasca pandemi. Meskipun begitu tren belanja online diperdiksi tetap meningkat, berdasarkan riset Perilaku Konsumen E-Commerce Indonesia.

SVP Marketing & Communications Kredivo Indina Andamari mengatakan ada beberapa temuan menarik dalam riset tersebut. Mulai dari konsistensi peningkatan transaksi di kota tier 2 dan 3, dengan kenaikan sebesar 33 persen di 2020, 36 persen di 2021, dan 43 persen di 2022, meskipun nilai transaksi masih didominasi oleh kota tier 1 yaitu sebanyak 57 persen.

"Hal ini menandakan daya beli masyarakat di kota tier 2 dan 3 yang terjaga memasuki masa pasca pandemi dan pangsa e-commerce yang makin meluas ke daerah," ujarnya kepada awak media, Rabu (14/6/2023).

Kredivo juga melihat konsumen lebih tua makin adaptif dengan penggunaan e-commerce dengan kenaikan konsisten dalam 3 tahun terakhir yaitu kelompok umur 36-45 dari 19 persen (2020) menjadi 2 persen (2022), dan kelompok umur 46-55 tahun dari 4 persen  (2020) menjadi 6 persen (2022).

"Penetrasi e-commerce yang sudah mencapai satu dekade berdampak pada daya beli konsumen lebih tua di e-commerce yang juga terus bertumbuh," jelasnya.

Adapun, memasuki masa pasca pandemi, terjadi pergeseran pola belanja masyarakat dengan perilaku belanja kombinasi online dan offline menjadi tren. Sebanyak 79,1 persen konsumen memilih menggunakan metode belanja kombinasi online dan offline, dengan 21 persen dari total presentasi tersebut lebih banyak melakukan pembelian secara offline dan 58,1 persen lebih banyak melakukan pembelian secara online.

Sementara itu, tren belanja online tanpa kombinasi secara offline mengalami penurunan dari yang sebelumnya 28 persen menjadi 18,7 persen.

Tren pergeseran juga terlihat dari transaksi per kategori produk, dengan turunnya nilai transaksi gadget di 2022 sebelumnya 37 persen menjadi 33,7 persen YoY.

Sementara terjadi kenaikan nilai transaksi di produk fashion dari 12,9 persen menjadi 15,6 persen YoY. Tren ini sejalan dengan mulai kembalinya aktivitas offline masyarakat di masa transisi pandemi 2022.

Tren preferensi belanja yang beragam berdasarkan kelompok umur, status perkawinan, dan jumlah anak. Pulsa dan voucher menjadi kebutuhan paling diminati oleh konsumen berdasarkan kelompok umur, sementara konsumen lajang paling banyak bertransaksi untuk gadget, dan konsumen dengan 1-2 anak paling banyak membeli produk kategori anak dan bayi sedangkan konsumen dengan 3-5 anak cenderung lebih fokus pada peralatan rumah tangga dan makanan.

Meskipun secara keseluruhan transaksi 2022 meningkat dibanding 2021, terdapat penurunan di kuartal IV 2022 akibat isu resesi dan gejolak ekonomi global, dengan nilai transaksi kuartal IV/2022 sebesar 38,6 persen menjadi 33,3 persen YoY.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper