Ini Startup yang Untung Sejak Awal Berdiri!

Rinaldi Mohammad Azka
Senin, 20 Maret 2023 | 18:06 WIB
Deretan mobil bekas yang dijual di Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Deretan mobil bekas yang dijual di Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Juni 2021, Ary Satria (29) memberanikan diri mundur dari jabatannya sebagai Marketing Manager dan CRM di salah satu bisnis rintisan penginapan yang cukup populer. Dia memilih masuk dalam inkubasi bisnis dan akselerator startup Antler.

Belum dua tahun, kini dia menjalankan bisnis rintisan yang menghubungkan UKM dealer mobil bekas dengan akses permodalan, sumber mobil, serta standardisasi pengelolaan dealer, bernama Carclicks.

Dengan penjualan rerata 1.000--1.200 unit mobil per tahun, bisnis yang dijalankannya ini telah bertumbuh 6 kali lipat dalam kurang dari 2 tahun dan langsung menghasilkan laba bersih.

"Ini bisnisnya simpel, saya adalah perusahaan yang bantu UMKM di sektor mobil bekas, UMKM fokus diler mobil bekas kecil di kota tier 2 dan 3, bantu dari sisi capital beli mobil, sumber pembelian mobil, dan sales management offline," tuturnya saat diwawancarai Bisnis Indonesia, Jumat (17/3/2023).

Menurutnya, menjalankan bisnis rintisan benar-benar soal prinsip. Dengan bermodalkan grand dari inkubasi bisnisnya sebesar US$150.000, kini dia mengelola dana hingga US$1 juta setara Rp15,3 miliar (kurs Rp15.300).

Jika dibandingkan dengan startup sejenis, tentu saja skalanya masih kecil, tetapi jalan profitabilitas yang diambilnya membuat bisnisnya lebih berkelanjutan, pun menjawab tantangan di tengah tech winter saat ini.

Dia mengakui sebenarnya bisa saja memilih jalur akselerasi dengan mengambil pendanaan yang lebih banyak dan mengandalkan pertumbuhan. Namun, ketika pertumbuhan yang dikejar, keberlanjutan bisnis menjadi pekerjaan rumah belakangan yang mesti dirampungkan.

"Dibandingkan dengan tidak profit, menjadi startup itu satu-satunya cara pendanaan rights issue. Namun, saya banyak pilihan, karena profit jadi bisa mengambil partner syariah seperti Alami, Bank BSI, dan family office. Dengan begitu, setiap ada penambahan diler bisa ditambah dengan penambahan financing partner," katanya.

Saat ini, dia mengelola 50 diler di sekitar kota Bandung, Jabodetabek, dan Kota Pontianak. Pada 2023, dia menargetkan pertumbuhan menjadi 120--150 diler. Dengan ekspektasi pertumbuhan bisnis 5 kali lipat.

Dengan menyematkan target pertumbuhan yang masih cukup progresif serta hasil akhir yang masih mencatatkan untung, Ary memiliki mimpi besar mendapatkan pendanaan permanen melalui penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO).

Dalam proyeksinya, setidaknya membutuhkan 3--5 tahun agar bisnis rintisannya bisa layak masuk papan akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kepercayaan diri pertumbuhan yang terukur, laba bersih yang terjaga, dia menapaki jalan profitabilitasnya sendiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper