Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Amvesindo : Startup Mau IPO? Tidak Harus Jadi Unicorn

Startup yang ingin melantai di bursa perlu memiliki valuasi di atas US$1 miliar.
Khadijah Shahnaz Fitra
Khadijah Shahnaz Fitra - Bisnis.com 06 Desember 2022  |  16:05 WIB
Amvesindo : Startup Mau IPO? Tidak Harus Jadi Unicorn
Ilustrasi Startup. Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) mengatakan perusahaan rintisan yang ingin melakukan Initial Public Offering atau IPO tidak perlu berstatus unicorn.

Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro mengatakan startup yang ingin melantai di bursa perlu memiliki valuasi di atas US$1 miliar. Eddi mengatakan beberapa startup yang belum berstatus unicorn sudah banyak di melantai terlebih dahulu dibandingkan  berstatus unicorn.

Seperti, cashlez (CASH) , M-Cash (MCAS), pegiji (PGJO) dan Wir Group (WIRG). "Banyak startup belum menjadi unicorn melakukan IPO, kan bisa di papan akselerasi, pengembangan dan papan utama," ujar Eddi dalam acara 'Exit Mechanisms for Investors & Startup Companies (IPO vs Acquisition)', Selasa (6/12/2022).

Eddi juga menekankan IPO bagi startup bukan akhir dari tujuan. Lebih lanjut, untuk mendapatkan pendanaan masih bisa dilakukan dengan cara fundraising, dan menjadi perusahaan yang menguntungkan.

IPO pun bisa memberikan manfaat lain seperti memberikan tingkat kepercayaan lebih ke platform, vendor, consumer, rekan bisnis, dan lainnya.

"IPO is not the end goal dan bukan tujuan dari segala-galanya," tegas Eddi.

Di sisi lain, MDI Ventures modal ventura milik Telkom lebih memilih mendanai atau mengakuisisi startup di fase awal dibandingkan saat melakukan IPO.

Managing Partner MDI Ventures Kenneth Li mengatakan ketika startup diakuisisi, investor yang sudah memberikan pendanaan dengan mendapatkan pendanaan tersebut. Sedangkan ketika IPO, adanya ketidakpastian dengan harga saham.

Terlebih adanya peraturan POJK 25/2017 mewajibkan lock-up atas saham suatu pihak yang memperoleh saham perusahaan dalam waktu 8 bulan sebelum pernyataan pendaftaran disampaikan kepada OJK dengan harga di bawah harga IPO. Lock-up tersebut berlaku selama 8 bulan sejak tanggal pernyataan efektif IPO.

"Kami lebih memilih Acquisition, Why? Karena itu clean. Uangnya langsung masuk," ujar Kenneth dalam acara yang sama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp investasi startup startup perusahaan startup Bisnis Startup investasi startup
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top