Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dynamic Preload, Strategi Pemasaran Pengembang Aplikasi

Dynamic preload merupakan aplikasi yang diinstal pada smartphone baru dan terjadi saat pengguna mengaktifkan perangkat seluler untuk pertama kalinya. Cara tersebut relevan untuk memperkuat strategi menarik pengguna agar dapat unggul dari kompetitor.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  00:20 WIB
logo AVOW.  -  avow.tech
logo AVOW. - avow.tech

Bisnis.com, JAKARTA – AVOW, perusahaan teknologi pemasaran yang berbasis di Jerman mengoptimalkan dynamic preload sebagai strategi pemasaran pada tahun ini.

CEO dan Co-Founder AVOW Robert Wildner menjelaskan dynamic preload merupakan aplikasi yang diinstal pada smartphone baru dan terjadi saat pengguna mengaktifkan perangkat seluler untuk pertama kalinya. Perusahaan teknologi pemasaran yang berbasis di Jerman tersebut menilai cara tersebut relevan untuk memperkuat strategi akuisisi pengguna agar dapat unggul dari kompetitor.

"Dari segi teknis, cara kerjanya adalah mobile OEM seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi dapat mengonfigurasi aplikasi yang akan direkomendasikan di portal Google dan kelompok perangkat yang akan dijangkau dan ditargetkan. Google membuat fungsi instalasi bernama Google Play Auto Install yang secara otomatis mengunduh aplikasi dari Play Store,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (26/5/2022).

Dalam penawaran dynamic preload, unduhan aplikasi seluler dilakukan langsung dari Google Play Store dan dilakukan secara over the air (OTA) di mana Paket Aplikasi Android (APK) diunduh secara otomatis melalui Play Store setelah perangkat terhubung ke jaringan. Ini berbeda dengan preloading lainnya yang ditawarkan oleh perusahaan, di mana pengguna didorong untuk mengunduh APK. Pada akhirnya, pengguna mungkin tidak akan mendapatkan versi terbaru dari preloaded app bahkan setelah melalui proses yang panjang.

Dia menjelaskan apabila seorang pengembang aplikasi game ingin meluncurkan dan mempromosikan aplikasi secara besar-besaran, bisa menjadi lebih unggul karena aplikasi dynamic preload dapat menciptakan peluang besar untuk mendapatkan pengguna baru setiap kali smartphone diaktivasi. Popularitas aplikasi akan meningkat pada saat yang sama karena akan ditampilkan secara premium.

Robert mengatakan karena inovasi berkelanjutan yang dilakukan di industri seluler, praktisi pemasaran cenderung lebih memilih dynamic preload daripada traditional preload. Penayangan iklan melalui traditional preload memiliki unsur ketidakpastian dan menghabiskan banyak waktu hingga aplikasi diluncurkan.

Pada saat smartphone dikirimkan ke pemilik perangkat, mereka akan mendapatkan aplikasi versi lama karena beberapa update telah diluncurkan sejak aplikasi tersebut diinstal di smartphone hingga saat pengguna mengaktifkan perangkat dan akhirnya menghapus aplikasi versi lama. Oleh karena itu, para pengiklan tidak dapat melakukan pengukuran dan optimisasi untuk mencapai target akuisisi mereka.

Menurutnya, dynamic preload merupakan masa depan karena menawarkan salah satu metode paling efektif, eksklusif, dan langsung untuk melakukannya dengan cara yang paling dapat diandalkan.

“Sebab aplikasi Anda diinstalasi terlebih dulu di perangkat sehingga dapat digunakan oleh pengguna, dan akan menjadi aplikasi pilihan utama yang dicari oleh pengguna baru," jelasnya.

Robert mengatakan bahwa beberapa hal yang perlu diketahui oleh praktisi pemasaran mengenai dynamic preload ini adalah anggaran yang digunakan lebih sedikit untuk mengakuisisi pengguna. Selain itu, waktu yang dibutuhkan antara peluncuran hingga pengguna menemukan aplikasi tersebut jauh lebih singkat.

Adapun versi terbaru dari aplikasi yang sudah diinstal sebelumnya akan didapatkan oleh pengguna setelah mereka menggunakan smartphone tersebut pertama kalinya.

Seperti diketahui, penetrasi pasar smartphone meningkat pesat. Pada tahun 2021, lebih dari 1,53 miliar smartphone terjual di seluruh dunia. OEM Android memberikan kontribusi sebesar 75 persen dari total pangsa pasar smartphone global dengan 2,8 miliar pengguna aktif dan terus berkembang.

Di tengah kejenuhan pasar di mana semua pihak berupaya untuk memaksimalkan manfaat dari kampanye iklan seluler, praktisi pemasaran saat ini mulai mencoba untuk menggunakan platform alternatif yang efektif dengan OEM seperti Oppo, Vivo, dan Xiaomi, yang menguasai 21 persen dari pangsa pasar smartphone global pada Maret 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi aplikasi StartUp pemasaran strategi pemasaran
Editor : Reni Lestari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top