Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kualitas Gambar Siaran Digital Lebih Buruk dari Analog, Kok Bisa?

Survei yang dilakukan PR2Media bersama tim Departemen Ilmu Komunikasi (Dikom) UGM pada 23-29 Maret 2022 menunjukkan bahwa terdapat sejumlah masalah terkait dengan kualitas siaran digital. Beberapa responden mengeluhkan gambarnya bahkan lebih buruk dibandingkan siaran analog.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 06 Mei 2022  |  00:04 WIB
Kualitas Gambar Siaran Digital Lebih Buruk dari Analog, Kok Bisa?
Keluarga menonton televisi. / istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Survei yang dilakukan PR2Media bersama tim Departemen Ilmu Komunikasi (Dikom) UGM pada 23-29 Maret 2022 menunjukkan bahwa terdapat sejumlah masalah terkait dengan kualitas siaran digital. Beberapa responden mengeluhkan gambarnya bahkan lebih buruk dibandingkan siaran analog.

Dosen Ilmu Komunikasi UGM sekaligus Wakil Ketua PR2Media Rahayu mengatakan permasalahan kualitas siaran ini mencakup aspek teknis dan non-teknis.

Saat dilakukan survei, kata dia, seorang Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur menyatakan bahwa sebagian warga mengeluh siaran TV digital yang gambarnya lebih buruk daripada siaran analog.

"Ini bisa jadi terkait kualitas Set Top Box [STB], pemasangan STB yang tidak sempurna, atau faktor lainnya. Warga juga kebingungan harus meminta bantuan ke mana, karena Dinas Kemkominfo setempat menyatakan tidak tahu," katanya, Kamis (5/5/2022).

Bukan itu saja, dia menyebut hasil survei PR2Media juga menunjukkan sebagian responden mengaku hanya mendapat siaran TVRI di kanal digital. Sebagian responden juga menyatakan belum terlalu puas dengan kualitas konten siaran digital.

Dengan begitu, Rahayu menyarankan KPI Pusat dan Daerah perlu lebih aktif untuk mengevaluasi konten siaran agar jaminan keberagaman dan kualitas konten terjaga.

Pemerintah, sambung dia, juga perlu memberikan insentif kepada para pemangku kepentingan, terutama kepada mereka yang memiliki komitmen dalam menciptakan konten siaran digital berkualitas. Kebijakan ini penting agar kanal-kanal digital yang jumlahnya cukup besar terisi oleh tayangan yang bermutu, mendidik, dan memenuhi harapan publik.

"Insentif ini juga akan mendorong munculnya konten creator yang inovatif dan kreatif dalam mengembangkan siaran digital," tambah Rahayu.

Sementara itu, pelaksanaan migrasi siaran TV analog atau Analog Switch Off (ASO) di wilayah Jawa Timur untuk tahap pertama di sembilan kabupaten, ditunda.

Dikutip dari laman Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur, Kamis (5/5/2022), penundaan tersebut dikarenakan belum optimalnya penyediaan dan distribusi bantuan STB gratis pada masyarakat kurang mampu di wilayah yang masuk ASO tahap pertama.

"Salah satu alasan penundaan ASO karena bantuan penyediaan dan distribusi STB dari operator multiplexing atau penyelenggaran penyiaran untuk rumah tangga miskin di daerah yang masuk ASO 1 masih minim dan belum memenuhi target sasaran," kata Kepala Dinas Kominfo Jatim Hudiyono.

Adapun berdasarkan data dari Kemenkominfo, total STB gratis yang akan dibagikan di Jawa Timur pada ASO tahap pertama adalah sebanyak 379.814 unit STB. Penyaluran melalui Media Grup/Metro TV sebanyak 69.231 unit. Dari MNC Grup (MNC TV, RCTI, Global TV) menyalurkan sebanyak 143.006 unit STB, dan dari SCM Grup (SCTV-Indosiar) menyalurkan sebanyak 138.995 unit STB.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenkominfo televisi analog migrasi siaran digital
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top