Tren Sharing Password, Netflix Perlu Belajar dari Sony Playstation

Rahmi Yati
Kamis, 28 April 2022 | 09:27 WIB
Sony PlayStation 5/Bloomberg
Sony PlayStation 5/Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Netflix mengestimasi terdapat sekitar 100 juta rumah tangga saat ini berbagi password dengan keluarga lain atau sahabat. Alhasil, perusahaan mempertimbangkan untuk merazia besar-besaran aktivitas berbagi password tersebut yang tidak sesuai peruntukan.

Selain itu, perusahaan yang saat ini memiliki 222 juta pelanggan di seluruh dunia, termasuk Indonesia itu juga akan memberikan harga langganan lebih rendah, tetapi dengan tayangan iklan.

Menanggapi hal itu, Pengamat Komunikasi dan Media Digital dari Universitas Muhammadiyah Tangerang Rully Yose menyarankan Netflix belajar dari Sony Playstation (PS+) mengenai pengaturan pelanggan.

"Saran sih, [Netflix] memahami medianya terlebih dahulu, jaringan dan sekuritinya menjadi PR besar, sehingga menjadi pelanggan merupakan eksklusifitas menjadi daya tarik untuk masyarakat. Dapat belajar dari eksklusivitas pelanggan Sony Playstation," katanya, Rabu (27/4/2022).

Dia menyebut, eksklusifitas pelanggan Sony Playstation terlihat dari pengaturan akun yang hanya bisa Primary dan Secondary. Perusahaan juga akan mengunci akun bila tidak diperpanjang, dan banyak pengaturan lainnya.

Bukan itu saja, Sony juga biasanya menawarkan Free Game tiap bulannya, dan permainan gim online dengan biaya kurang lebih Rp89.000 per bulan.

"Ini pastinya menjadi menarik bagi pelanggan. PS bisa seperti itu, sekuritinya terjamin, download sampai 100GB nggak lemot. [Netflix] mesti belajar banyak sama Playstation," ujar dia.

Lebih lanjut menurut Rully, tidak ada gunanya Netflix melakukan upaya razia besar-besaran ke pelanggan mengingat saat ini situs-situs ilegal sudah menjamur. Selain itu, dia mempertanyakan apakah perusahaan sudah memahami strategi menangani dunia digital di era sekarang.

Ditambah lagi, tutur dia, longgarnya aturan mengenai penerapan internet di Tanah Air juga membuat penyedia platform streaming merugi. Baginya, kehadiran Covid-19 dan banyaknya pembatasan aktivitas masyarakat selama ini hanya memberikan keuntungan sesaat bagi industri tersebut.

"Platfrom streaming resmi terpaksa bersaing dengan situs-situs tersebut. Padahal, biaya untuk menjadikan sebuah platform legal tidaklah murah. Sedangkan, perlindungan dari situs-situs ilegal tidak ada. Ini nggak ada bedanya dengan persaingan toko kaset/CD/DVD original dengan penjual eceran bajakan," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rahmi Yati
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper