Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ceruk Bisnis Komputasi Awan Kian Moncer, Ini Alasannya

Cisco Asean menjelaskan alasan bisnis komputasi awan semakin moncer di Indonesia.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 24 Agustus 2021  |  18:42 WIB
Cisco. - Bloomberg
Cisco. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Keberadaan perusahaan rintisan (startup) dan unikorn di Indonesia menjadi katalis moncernya ceruk bisnis komputasi awan (cloud computing) di Indonesia.

President Cisco Asean Naveen Menon mengatakan melimpahnya jumlah perusahaan rintisan dan unikorn di Indonesia menjadi alasan banyak raksasa teknologi membangun pangkalan data (data center) dan menyediakan solusi awan.

Hal ini dikarenakan, banyaknya perusahaan rintisan dan unikorn selaras dengan tingginya mobilitas data, dan pengeluaran teknologi informasi (IT) dari perusahaan.

“Ada banyak unikorn dan superapp seperti Tokopedia dan Gojek. Mereka menghasilkan banyak data. Ini penyumbang besar yang potensinya mendukung pengembangan awan," katanya lewat konferensi pers virtual, Selasa (24/8/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan pengelolaan data yang dilakukan unikorn dan startup pada umumnya terus melimpah lantaran layanannya digunakan oleh pelanggan setiap hari.

Sementara itu, Managing Director and Partner BCG Prasanna Santhanam mengatakan ekonomi digital di Indonesia merupakan pasar terbesar untuk layanan public cloud di Asia Tenggara pada 2024.

Berdasarkan laporan The Future of Cloud in Asia Pacific dari Cisco dan BCG, pengeluaran infrastruktur informasi dan teknologi (IT), serta public cloud Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Laporan tersebut menemukan, pertumbuhan majemuk tahunan alias compound annual growth rate (CAGR) atas pengeluaran layanan public cloud di Indonesia mencapai 25 persen. Adapun, Malaysia hanya mencatat 23 persen dan Singapura 20 persen.

Tidak hanya itu, pengeluaran perusahaan di Indonesia untuk teknologi informatika sebesar 13 persen selama 2020—2024. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang hanya menyumbang 10 persen dan Singapura 8 persen.

"Layanan public cloud di Indonesia berkembang sangat pesat. Ini menjadi pasar yang sangat menarik," kata Prasanna.

Namun, Global Chief Economist, the Economist Intelligence Unit (EIU) Simon Baptist mengatakan ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi jika menyasar pasar Indonesia yaitu regulasi data.

Menurutnya, investasi infrastruktur data atau cloud di Indonesia akan besar jika didukung regulasi. Adapun, hingga saat ini pemerintah dan DPR masih mengkaji Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cloud computing StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top