Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Langka, Meteor Berumur 4,6 Miliar Tahun Ditemukan

Meteorit ini berasal dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter dan terbentuk di awal sejarah tata surya. Meteorit ini biasanya mengandung senyawa organik termasuk asam amino. Dari meteorit yang ditemukan maka bisa saja memiliki petunjuk bagaimana makhluk hidup pertama kali muncul di tata surya.
Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 22 Juli 2021  |  13:12 WIB
Meteor berusia 4,6 miliar tahun
Meteor berusia 4,6 miliar tahun

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah meteorit langka ditemukan di lapangan Inggris. Meteorit tersebut diduga berasal di masa-masa awal tata surya atau sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Meteor tersebut ditemukan di Gloucestershire pada bulan Maret oleh seorang penduduk Loughborough di Inggris, dan direktur astrokimia di East Anglian Astrophysical Research Organization (EAARO) yakni Derek Robson.

Batu ruang angkasa adalah chondrite berkarbon yang termasuk dalam kategori langka. Hal ini dikarenakan terdiri dari 4% hingga 5% dari meteorit yang ditemukan di bumi.

Meteorit ini berasal dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter dan terbentuk di awal sejarah tata surya. Meteorit ini biasanya mengandung senyawa organik termasuk asam amino. Dari meteorit yang ditemukan maka bisa saja memiliki petunjuk bagaimana makhluk hidup pertama kali muncul di tata surya.

Bongkahan batu yang ditemukan cukup berbeda seperti puing-puing ruang angkasa lainnya. Hal ini dikarenakan bongkahan batu tersebut tidak tahan terhadap benturan keras dan panas yang hebat, yang terlibat dalam penciptaan planet dan bulan di tata surya.

Batu yang ditemukan tersebut besarnya kecil, berwarna arang dan rapuh. Meteorit tersebut sebagian besar terbuat dari mineral seperti olivin dan phyllosilicates. Batu tersebut juga memiliki butiran bulat yang disebut chondrules, yang sebagian merupakan manik-manik cair yang tergabung ke dalam asteroid saat pertama kali terbentuk.

Menurut Shaun Fowler, seorang ahli mikroskop di Universitas Loughborough mengatakan bahwa komposisinya cukup berbeda dengan apa yang ditemukan di bumi dan berpotensi tidak seperti meteorit lain yang ditemukan. Fowler mengatakan meteorit ini mungkin mengandung beberapa struktur kimia atau fisik yang sebelumnya tidak diketahui atau yang belum pernah terlihat dalam sampel meteorit lain yang telah dicatat.

Para peneliti di Loughborough University dan EAARO menggunakan mikroskop elektron untuk mempelajari permukaan meteorit hingga nanometer (sepersejuta meter), dan menggunakan teknik yang disebut spektroskopi vibrasi dan difraksi sinar-X, yang memungkinkan dapat mempelajari bahan kimia dalam meteorit tersebut, termasuk struktur mineralnya.

Jika tim dapat mengkonfirmasi keberadaan asam amino dalam sampel, temuan tersebut mungkin mengungkapkan informasi baru tentang bagaimana geokimia awal tata surya. Pemeriksaan meteorit tersebut masih dalam tahap awal yakni menggores pada permukaannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

meteor tata surya
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top