Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Hulu Masih Kurang Sentuhan Startup

Pemain startup yang melayani kebutuhan industri terbilang sedikit. Padahal seharusnya fundamental teknologi pada sektor hulu dan hilir harus seimbang.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Mei 2021  |  05:45 WIB
Ilustrasi kantor startup.  - Flickr
Ilustrasi kantor startup. - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan (startup) dinilai wajib untuk mengakselerasi layanan digital di segmen upstream atau hulu pada tahun ini. Sebab, diprediksi kebutuhan bahan baku akan terdongkrak selaras dengan makin ketatnya pasar digital.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan saat ini para pemain startup  makin urgen untuk membangun fundamental hulu. Salah satu faktornya adalah perdesaan makin bertaji sebagai pasar besar untuk dipenuhi kebutuhannya oleh startup ke depan.

“Startup sudah harus mulai masuk ke wilayah hulu, karena selama ini belum maksimal digarap oleh para startup. Bahkan, lebih banyak tantangan di hulu, karena tantangan jiwa entrepreneur, kualitas sumber daya manusia, literasi pelaku usaha masih rendah,” katanya, Senin (17/5/2021) 

Lebih lanjut, dia mengatakan fundamental startup di industri hulu dan hilir harus memiliki keseimbangan. Adapun, fundamental hulu itu ada dalam teknologi yang terkait ke produksi 

Sekadar catatan, Riset Alpha JWC Ventures dan Kearney mencatatkan ekonomi digital Indonesia akan ditopang oleh konsumen di kota tingkat (tier) dua dan tiga atau perdesaan dalam lima tahun ke depan. 

Adapun, perusahaan rintisan di sektor dagang elektronik (e-commerce), pembayaran digital, pinjaman daring, kesehatan, pendidikan, dan berbagi tumpangan (ride hailing) diprediksi terdongkrak lantaran meningkatnya ekonomi digital di pedesaan. 

Berdasarkan riset bertajuk Unlocking Next Wave of Digital Growth: Beyond Metropolitan Indonesia mencatatkan bahwa lebih dari 83 persen konsumen di kota tier dua dan tiga merupakan laggards atau masyarakat yang berhati-hati dalam menggunakan teknologi maupun layanan berbasis digital. 

Namun, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa setelah lima tahun konsumen di tier dua dan tiga akan lebih nyaman terhadap aktivitas digital dengan dua faktor pendorong. Pertama, pandemi Covid-19 yang memaksa mereka menggunakan layanan digital dan pemerintah yang mendorong digitalisasi di kota tier dua dan tiga. 

“Selama ini masih sedikit yang main [di hulu], mayoritas ada di startup sektor pangan yang berkontribusi turun ke hulu. Padahal potensi hulu besar bila dimanfaatkan,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri StartUp ekonomi digital
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top