Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LinkedIn Setop Pendaftaran Anggota Baru di China, Ini Alasannya

Situs yang berfokus pada persoalan ‘karier’ tersebut telah hadir dalam bahasa Mandarin sejak 2014. Setelah menyetujui undang-undang sensor yang ketat, saat ini LinkedIn telah memiliki lebih dari 50 juta pengguna di negara China.
Luke Andaresta
Luke Andaresta - Bisnis.com 10 Maret 2021  |  20:43 WIB
Ilustrasi - Inc.com
Ilustrasi - Inc.com

Bisnis.com, JAKARTA- Jaringan sosial milik Microsoft, LinkedIn telah menghentikan pendaftaraan anggota baru untuk layanannya di China. Hal itu disebabkan mereka sedang meninjau kepatuhan dengan hukum setempat.

Melansir dari Channel News Asia, situs yang berfokus pada persoalan ‘karier’ tersebut telah hadir dalam bahasa Mandarin sejak 2014. Setelah menyetujui undang-undang sensor yang ketat, saat ini LinkedIn telah memiliki lebih dari 50 juta pengguna di negara China.

LinkedIn merupakan salah satu dari sedikit platform teknologi internasional yang menikmati akses ke China. Semua subjek yang dianggap sensitif secara politik akan disensor atas nama stabilitas dan memblokir konten yang tidak sesuai secara online.

“Kami adalah platform global dengan kewajiban untuk menghormati hukum yang berlaku, termasuk mematuhi peraturan pemerintah China untuk versi lokal LinkedIn di China,” kata perusahaan itu dikutip Bisnis, Rabu (10/3/2021).

Platform besar yang menolak dengan aturan dan undang-undang sensor yang ketat seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube telah lama diblokir oleh negara tersebut. Microsoft, bagaimanapun, dalam mengoperasikan LinkedIn telah mematuhi aturan melalui usaha gabungan lokal.

LinkedIn telah dikritik China karena menarik akun profesional para pembangkang negara tersebut yang telah dinyatakan bersalah, dan menghapus konten yang sensitif secara politik dari halaman-halamannya. Hal itu tidak segera membuat jelas hukum mana yang mendorong penangguhan pendaftaran LinkedIn.

Microsoft mengklarifikasi bahwa grup peretasan yang beroperasi dan disponsori negara di luar China mengeksploitasi kelemahan keamanan yang sebelumnya tidak diketahui dalam layanan pertukaran email untuk mencuri data dari pengguna bisnis. Meskipun sebelumnya Beijing membalas tuduhan AS atas pencurian siber yang disponsori negara.

Hal itu dibantah oleh juru bicara LinkedIn yang menerangkan bahwa itu tidak terkait dengan peretasan.

Perjalanan Microsoft di China tidak sepenuhnya mulus. Dengan mesin pencari perusahaan Bing, untuk sementara dinonaktifkan pada tahun 2019 yang memicu spekulasi bahwa itu telah diblokir oleh sensor.

Pada tahun 2013, otoritas persaingan Tiongkok membuka penyelidikan anti-monopoli terhadap Microsoft dan perangkat lunak Windows-nya, dengan pengawasan menggerebek kantor grup di empat kota di Tiongkok, menyita fle dan menanyai karyawan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aplikasi linkedin
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top