Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Potensi di Pariwisata Kesehatan Jadi Penyelamat Startup OTA

Tren Staycation tidak lagi bisa menjadi jawaban para pemain OTA karena menurunnya daya beli masyarakat.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 07 Maret 2021  |  19:47 WIB
Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pekerja sektor pariwisata yang berada di atas kendaraan saat vaksinasi Covid-19 dengan sistem 'drive thru', di Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (28/2/2021). Layanan vaksinasi dengan sistem 'drive thru' yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Grab dan Good Doctor tersebut merupakan layanan pertama yang dihadirkan di kawasan Asia Tenggara guna membantu mempercepat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. - Antara
Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pekerja sektor pariwisata yang berada di atas kendaraan saat vaksinasi Covid-19 dengan sistem 'drive thru', di Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (28/2/2021). Layanan vaksinasi dengan sistem 'drive thru' yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Grab dan Good Doctor tersebut merupakan layanan pertama yang dihadirkan di kawasan Asia Tenggara guna membantu mempercepat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Tren pariwisata kesehatan dinilai menjadi penyelamat startup OTA di tengah pandemi Covid-19 tahun ini.

Meskipun pemerintah memangkas libur atau cuti bersama 2021, tetapi tren tersebut lebih memberikan optimisme bagi pemain Online Travel Agency (OTA). 

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk menggodok program pariwisata berbasis vaksin (vaccine based tourism).

“Selama orang berwisata dikasih vaksin, ini langkah yang bagus, tetapi dibanding pariwisata berbasis vaksin saya lebih senang menyebutnya medical base tourism. Karena istilah ini lebih tepat dari sisi kuratif dan preventif atau mencegah dan mengobati,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (7/3/2021)

Menurutnya, tren tersebut dapat digarap para pemain OTA untuk meningkatkan pendapatannya. Selain bekerjasama dengan pemerintah, para pelaku OTA bisa menggaet health tech dalam rangka distribusi vaksin tersebut.

Dia meyakini upaya tersebut dapat meningkatkan minat pariwisata masyarakat, termasuk menggunakan startup OTA akan kebutuhan pemesanan kamar hingga akomodasi perjalanan. Sebab, tren Staycation tidak lagi bisa menjadi jawaban para pemain OTA karena menurunnya daya beli masyarakat.

Azril menegaskan pariwisata kesehatan di Indonesia dapat menyajikan pengalaman wisata yang berbasis kesehatan. Sebab, hal itu bisa menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara di masa pandemi covid-19.

Menurutnya, pariwisata kesehatan akan meliputi pelayanan tes Covid-19 seperti rapid test antigen hingga pemberian vaksin. Lebih menarik lagi bila vaksinasi diberikan gratis menyesuaikan stok yang tersedia.

Selain itu, dia menuturkan para pemain OTA juga harus memahami makna tourist attraction atau daya tarik wisatawan. Artinya, tempat wisata selain unik dan otentik, juga memastikan jaminan pelayanan kesehatan di setiap destinasinya.

"Jadi daya tarik bukan daya tarik destinasi, tapi daya tarik bagi wisatawan. Karena teorinya itu tourist attraction," katanya.

Dia pun melihat bahwa peran strategis yang dapat dilakukan oleh startup OTA saat ini adalah untuk memberikan akses informasi destinasi yang memiliki ulasan yang baik untuk mendatangkan minat wisatawan.

Startup tersebut harus mulai mempromosikan daya tarik mulai dari keunikan dari destinasi atau budaya dan kedua keotentikan dari destinasi tersebut. Startup OTA akan berkembang karena pola cashless makin menjadi budaya, tetapi strategi lain juga dibutuhkan, yaitu menggencarkan fitur promosi yang membuat sebuah destinasi menjadi sebuah lokasi yang limited edition,” kata Azril.

Pemerintah sebelumnya resmi memangkas jumlah cuti bersama pada 2021, dari sebelumnya 7h hari menjadi hanya 2 hari. Adapun alasan pemangkasan jumlah cuti bersama dikarenakan pandemi virus Corona yang belum turun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

agen perjalanan Medical Tourism
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top