Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Benarkah Kendaraan Listrik Lebih Baik Untuk Bumi? Ini Kata Ahli

Kendaraan listrik masih bisa mencemari lingkungan. Hal ini karena baterainya mengandung komponen seperti litium, yang membutuhkan banyak energi untuk diambil dan disaring.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  14:46 WIB
Mobil listrik sedang isi daya di SPLU E.ON di Essen, Jerman, 9 Mei 2018.  - REUTERS
Mobil listrik sedang isi daya di SPLU E.ON di Essen, Jerman, 9 Mei 2018. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan kendaraaan listrik kian meluas seiring timbulnya kepedulian terhadap lingkungan. Di Indonesia, pemerintah pun mendorong pengembangaan kendaraan listrik untuk digunakan sebagai transportasi jalan.

Tentu saja mobil listrik pasti lebih baik bagi lingkungan karena tidak memiliki knalpot sehingga tidak mengeluarkan gas rumah kaca saat mengendarainya. Namun pada kenyataannya kendaraan listrik (EV) tidak sempurna.

Kendaraan ini masih bisa mencemari lingkungan. Hal ini karena baterainya mengandung komponen seperti litium, yang membutuhkan banyak energi untuk diambil dan disaring.

Tetapi produksi baterai hanyalah salah satu bagian dari masa pakai mobil listrik. Sebuah studi pada 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences melihat seluruh siklus hidup emisi EV, mulai dari menambang logam yang diperlukan untuk baterai hingga menghasilkan listrik yang dibutuhkan untuk menyalakannya, dan kemudian membandingkannya dengan emisi rata-rata dari kendaraan bertenaga gas.

Tim menemukan bahwa ketika kendaraan listrik diisi dengan listrik bertenaga batu bara, sebenarnya mereka lebih buruk bagi lingkungan daripada mobil berbahan bakar bensin konvensional.

"Ketika terhubung ke jaringan listrik berbahan bakar batu bara, mesin pembakaran internal berbahan bakar bensin menjadi sebanding dengan EV," kata Colin Sheppard, seorang peneliti dengan keahlian di bidang energi dan teknik sistem transportasi di Lawrence Berkeley National Laboratory di California, seperti dilansir dari Live Science, Senin (1/3/2021).

Sejauh ini, salah satu negara yang menggunakan batu bara untuk tenaga listrik adalah China. Pada 2019 diperkirakan 58 persen pasokan listrik negara itu berasal dari batu bara. Kendati demikian China melakukan siasat untuk mengatasi dampak lingkungan itu dengan banyak berinvestasi dalam energi terbarukan misalnya memiliki kapasitas energi angin dua kali lipat dari AS dan membangun lebih banyak panel surya per tahun daripada negara lain.

Pola perbaikan dengan lebih banyak energi terbarukan dan lebih sedikit bahan bakar fosil ini adalah pola global yang membantu meningkatkan kredensial lingkungan dari kendaraan listrik. "Saat jaringan menjadi lebih hijau selama masa pakai kendaraan listrik, itu akan menjadi lebih baik," kata Sheppard

Sheppard menghitung jika semua kendaraan milik pribadi di AS bertenaga listrik, itu akan mengurangi emisi gas rumah kaca di negara tersebut sebesar 46 persen per tahun (0,5 gigaton karbon dioksida) dibandingkan dengan mobil bertenaga gas konvensional. Pengurangan ini dapat ditingkatkan lebih jauh jika kendaraan tersebut dilakukan pengisian terkontrol, sebuah teknik yang juga dikenal sebagai pengisian cerdas, di mana kendaraan diisi ulang pada waktu yang dipilih secara strategis untuk meminimalkan biaya finansial guna menghasilkan listrik.

Misalnya, lanjut Sheppard, mengisi daya di malam hari seringkali lebih murah daripada di siang hari. Strategi ini juga mendukung pembangkit listrik yang menghasilkan energi yang lebih efisien dan menghasilkan listrik yang lebih murah. Jika semua mobil listrik milik pribadi diisi daya sedemikian rupa, penghematan emisi dapat meningkat menjadi 49 persen per tahun.

Dia menjelaskan perkiraan ini didasarkan pada apa yang diakui Sheppard sebagai imajinasi "ambisius" dari portofolio energi AS di masa depan. Masa depan ini membayangkan negara dengan lebih banyak energi terbarukan, tetapi masih belum mencapai tujuan nol karbon, atau memiliki jaringan nasional yang tidak berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Sementaara itu, laporan pada 2020 dari Consumer Reports memperkirakan bahwa biaya perbaikan dan pemeliharaan per mil selama masa pakai EV yakni setengah dari kendaraan tradisional dengan mesin pembakaran internal. Ini terutama karena motor listrik hanya memiliki satu bagian yang bergerak, dibandingkan dengan mesin tradisional yang sering memiliki lusinan. Ini berarti lebih sedikit komponen yang perlu diganti dalam EV, menghasilkan penghematan yang signifikan meskipun tidak pada titik penjualan.

"Ini mungkin terdengar radikal sekarang, tetapi pada saat 2030 bergulir, saya pikir masalahnya terletak pada seberapa cepat produsen dapat membuatnya," kata Gordon Bauer, seorang peneliti kendaraan listrik di Dewan Internasional Transportasi Bersih, San Francisco.

Dalam analisis di seluruh AS baru-baru ini yang dilakukan oleh Bauer, ia menyimpulkan bahwa tingkat depresiasi yang tinggi untuk kendaraan listrik baru akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang lebih cenderung membeli mobil bekas.

Ini bersama dengan faktor-faktor lain yang mendorong penurunan harga, seperti inovasi teknologi dan meningkatnya persaingan pemasok, akan berarti bahwa EV harus berharga sama dengan mobil bertenaga bensin konvensional untuk hampir semua tingkat pendapatan sekitar tahun 2029. Lebih lanjut, Bauer menghitung bahwa pada  2030, rumah tangga berpenghasilan rendah di AS akan menghemat US$1.000 per tahun dari penghematan bahan bakar jika mereka beralih ke EV.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik pencemaran lingkungan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top