Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusakan Infrastruktur Telko di Papua Makin Brutal, Moratelindo: Bisa Bangkrut!

Moratelindo menuturkan perusakan infrastruktur telekomunikasi di Papua semakin brutal, sehingga berisiko merugikan perusahaan dan masyarakat sekitar.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  19:08 WIB
Teknisi melakukan pemeriksaan perangkat BTS di daerah Labuhan Badas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (26/8). Bisnis - Abdullah Azzam
Teknisi melakukan pemeriksaan perangkat BTS di daerah Labuhan Badas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (26/8). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diharapkan bersikap lebih serius dalam mengatasi aksi vandalisme yang terjadi terhadap infrastruktur telekomunikasi di Papua.

Direktur Utama PT Mora Telematika Indoenesia (Moratelindo) Galumbang Menak mengatakan bahwa aksi vandalisme yang terjadi di Papua, sudah sering terjadi dan makin parah saat ini. Sejak Januari 2020--2021, terjadi lima kali aksi vandalisme mulai dari perusakan infrastruktur telekomunikasi hingga pembakaran.

“Desember 2020 ada satu menara juga yang dirusak, menara ditebang. Hampir setiap tiga bulan sekali ada yang dirusak,” kata Galumbang kepada Bisnis.com, Senin (11/1/2021).

Galumbang berharap pemerintah untuk serius dalam menangani aksi vandalisme di Papua, mengingat aksi tersebut merugikan bagi masyarakat sekitar, termasuk bagi Moratelindo.

Moratelindo merupakan bagian dari konsorsium penyedia infrastruktur telekominikasi Palapa Ring Timur di Papua. Moratelindo memiliki kewajiban menjaga kualitas layanan, karena pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah dihitung berdasarkan kualitas layanan yang diberikan oleh Moratelindo.

Beban biaya perbaikan infrastruktur telekomunikasi yang dirusak dan dibakar oleh oknum yang belum diketahui, menjadi tanggung jawab Moratelindo. Galumbang berhitung hingga saat ini, ratusan miliar telah dikeluarkan untuk memperbaiki jaringan Palapa Ring Timur yang dirusak.

Berdasarkan catatannya, untuk pembangunan ulang infrastruktur telekomunukasi di satu titik dibutuhkan biaya sekitar Rp20 miliar--Rp25 miliar. Mahalnya penggelaran jaringan karena kondisi geografis yang terletak di pedalaman dan terjal.

“Kalau terus-terusan seperti ini bisa bangkrut kita,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top