Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Temuan Seaglider Ilegal, Ini Fungsi Drone Laut versi BPPT

Seaglider dengan panjang 2,25 meter dan dua sayap masing-masing 0,5 meter ditemukan di perairan Desa Majapahit, Pasimarannu, Kepulauan Selayar, Sabtu (26/12/2020). BPPT mengatakan seaglider bisa digunakan untuk pengumpulan data oseanografi secara otonom dan mendukung riset di bawah permukaan laut.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  13:42 WIB
Seaglider.  - ANTARA
Seaglider. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Penemuan seaglider di perairan Kepulauan Selayar itu menambah daftar panjang kasus pesawat laut nirawak alias drone ilegal di perairan Indonesia. Berdasarkan analisis BPPT, seaglider ini memiliki sejumlah fungsi.

Seaglider yang ditemukan di perairan Desa Majapahit, Pasimarannu, Kepulauan Selayar, Sabtu (26/12/2020), memiliki panjang 2,25 meter dan dua sayap masing-masing 0,5 meter.

BPPT mengatakan seaglider bisa digunakan untuk pengumpulan data oseanografi secara otonom dan mendukung riset di bawah permukaan laut.

"Alat ini adalah seaglider untuk pengamatan vertical profiling [profil vertikal] data oseanografi secara otonom," kata Deputi Kepala Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) BPPT Wahyu W Pandoe seperti dikutip Antara, Selasa (5/1/2021).

Dia mengatakan seaglider bisa digunakan untuk pengumpulan data oseanografi secara otonom dan mendukung riset di bawah permukaan laut. Data-data di bawah permukaan laut yang dikumpulkan antara lain berupa kedalaman, suhu, dan arus. "Mungkin setelah dibongkar bisa kita identifikasi sensor apa saja yang terpasang."

Seaglider itu ditemukan mengapung di permukaan laut. Dari foto-foto penemuan seaglider tersebut, payload seaglider hanya berupa sensor-sensor oseanografi dan akustik, seperti sensor CTD, chlorophyl fluorometer, dan acoustic doppler current profiler (ADCP).

Parameter yang diukur oleh peralatan CTD terutama profil vertikal untuk salinitas, temperatur, densitas, dan kandungan oksigen (jika sensor oksigen terpasang). Sedangkan alat ADCP mengukur arus 3D (u, v, w).

Untuk penelitian, data-data tersebut sangat diperlukan untuk memantau perubahan parameter salinitas, suhu dan densitas secara vertikal dan horizontal.

Data itu berkaitan dengan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang terkait dengan predecessor perubahan iklim, daerah penangkapan ikan, iklim maritim, termasuk prediksi penguatan musim El-Nino dan La-Nina. Dan La Nina sedang terjadi saat ini.

Untuk sistem pertahanan, Wahyu mengatakan adanya layer thermocline (perubahan temperatur yang ekstrem terhadap kedalaman) di lapisan antara permukaan hingga 200-an meter sangat membantu pergerakan kapal selam di bawah thermocline, atau dikenal dengan istilah shadow zone.

Adanya layer thermocline dapat menjadi bidang pantul gelombang akustik yang dipancarkan dari kapal permukaan, sehingga pergerakan kapal selam di bawah lapisan thermocline sulit terdeteksi.

Thermocline tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi laut OTEC (ocean thermal energy conversion) atau konversi energi termal lautan sebagai sumber energi baru terbarukan dari laut di masa depan.

Wahyu menuturkan ada dua jenis yaitu seaglider dan argo float. Kedua jenis itu tidak mempunyai propulsi, dan bekerja sinking-floating (tenggelam-mengambangnya) hanya berdasarkan buoyancy (kemampuan mengapung).

Secara praktis, argo float tidak bergeser terlalu jauh dari peletakan awal (initial deployment), kecuali kalau terseret arus. Seaglider juga demikian, tetapi dengan flap-nya bisa riding arus lebih efektif, dan bisa diarahkan dengan mengatur sudut kemiringan dari flap-nya (kiri dan kanan.

Wahyu menuturkan pada waktu lalu, mitra kerja sama penelitian Perancis juga pernah melaporkan argo float yang masuk Selat Makassar. Umumnya seaglider tidak punya propulsi dan bekerja sinking-floating-nya hanya berdasarkan buoyancy yang bisa diatur motor and reciprocating hydraulic pump.

"Versi terkini ada juga yang menggunakan propulsi agar lebih efisien dalam mengarahkan gerakan glider ini," tuturnya. Alat tersebut sudah dikembangkan di negara-negara maju sejak awal 2000-an, dan saat ini sudah banyak yang ikut mengembangkan peralatan itu, termasuk China.

Untuk kesekian kalinya pesawat tanpa awak bawah permukaan tanpa izin ditemukan oleh nelayan. Penemuan glider di perairan Pulau Selayar merupakan yang terbaru. Glider ini diduga milik China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Drone kapal laut
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top