Tren Charger Ponsel Dijual Terpisah pada 2021. Apa Untungnya?

Akbar Evandio
Senin, 28 Desember 2020 | 16:54 WIB
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020)./ANTARA FOTO-Septianda Perdana
Sejumlah remaja menggunakan ponsel saat berkomunikasi di Medan, Sumatera Utara, Jumat (17/4/2020)./ANTARA FOTO-Septianda Perdana
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tren penjualan ponsel pintar tanpa menghadirkan pengisi daya (charger) dalam kotak diperkirakan menjadi strategi yang dipilih vendor ponsel sepanjang 2021.

Sebelumnya, perusahaan teknologi asal California, Apple menjual iPhone 12 mini, iPhone 12, iPhone 12 Pro, dan iPhone 12 Pro Max tanpa charger dalam kotak.

Dilansir melalui phonearena, vendor Samsung dan Xiaomi diprediksi meniru langkah serupa. Dilansir melalui phonearena, CEO Xiaomi Lei Jun menyatakan Xiaomi Mi 11 akan diluncurkan tanpa dilengkapi pengisi daya menjelang peluncurannya secara resmi. 

Selain itu, dilansir melalui Gizmochina ponsel flagship Samsung yang disinyalir merupakan Galaxy S21 juga hadir tanpa disertai charger. Hal ini disampaikan oleh National Telecommunications Agency (Anatel), Brazil.

Namun, saat dihubungi oleh Bisnis kedua perusahaan tersebut enggan untuk memberikan konfirmasi.

Menanggapi hal tersebut, pendiri dan pemerhati gawai dari komunitas Gadtorade Lucky Sebastian mengatakan bahwa dengan bungkamnya kedua perusahaan tersebut memberikan kejelasan bahwa isu tersebut benar adanya.

Brand seperti Xiaomi dan Samsung akan menjadi yang pertama di sistem operasi Android untuk menjual ponsel tanpa charger,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (28/12/2020).

Lebih lanjut, dia melihat bahwa alasan saat ini dari versi vendor adalah meminimalisir masalah lingkungan, yakni limbah dari charger. Tetapi, menurutnya, penjelasan yang lebih masuk akal adalah masalah penjualan untuk antisipasi dampak pandemi Covid-19 pada 2020.

“Menghilangkan charger ini akan banyak manfaatnya untuk vendor. Pertama, charger termasuk biaya produksi atau modal jual. Dengan dijual tanpa charger berarti bisa memotong modal produksi,” ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa pengaruh lainnya berefek pada sistem distribusi. Bila dianalogikan, jika satu kotak bulk saat distribusi terisi 12 unit ponsel pintar (dengan charger), tetapi menghilangkan charger membuat bulk lebih tipis dan bisa membuat vendor mendistribusikan barangnya sebanyak 20 unit.

“Ini membuat ongkos packaging, handling, dan distribusi jauh lebih murah. Bahkan, charger original bisa dijual terpisah, ini menambah keuntungan untuk vendor,” ujarnya.

Menurut Counterpoint, harga modal charger dan kabel yaitu US$6. Sebaliknya, charger adaptor sekitar US$4 — US$5 untuk kebutuhan modalnya.

“Bila dikalkulasikan dari jutaan pengguna yang membeli [charger terpisah] keuntungannya cukup besar,” kata Lucky.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper