Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bima Sakti Berubah Bentuk Karena Gaya Gravitasi Halo

Piringan bintang dan planet berbentuk spiral telah ditarik, dipelintir, dan diubah bentuknya dengan kekerasan ekstrim oleh gaya gravitasi dari galaksi yang lebih kecil Awan Magellan Besar (LMC).
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 30 November 2020  |  02:49 WIB
Foto ilustrasi dari NASA yang dirilis Kamis (31/5) menunjukkan langit malam sesaat sebelum peleburan galaksi Bima Sakti dengan galaksi Andromeda yang berdekatan. Gambaran ini terinspirasi oleh permodelan komputer dinamik dari benturan kedua galaksi di masa yang akan datang. Kedua galaksi akan bertubrukan sekitar 4 milyar tahun dari sekarang dan membentuk galaksi tunggal sekitar 6 milyar tahun lagi.  - Reuters
Foto ilustrasi dari NASA yang dirilis Kamis (31/5) menunjukkan langit malam sesaat sebelum peleburan galaksi Bima Sakti dengan galaksi Andromeda yang berdekatan. Gambaran ini terinspirasi oleh permodelan komputer dinamik dari benturan kedua galaksi di masa yang akan datang. Kedua galaksi akan bertubrukan sekitar 4 milyar tahun dari sekarang dan membentuk galaksi tunggal sekitar 6 milyar tahun lagi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Keyakinan bentuk galaksi Bima Sakti, yang relatif statis telah dipatahkan oleh wawasan kosmik yang terbaru.

Piringan bintang dan planet berbentuk spiral telah ditarik, dipelintir, dan diubah bentuknya dengan kekerasan ekstrim oleh gaya gravitasi dari galaksi yang lebih kecil Awan Magellan Besar (LMC).

Para ilmuwan percaya bahwa LMC melintasi batas Bima Sakti sekitar 700 juta tahun yang lalu  dan karena kandungan materi gelapnya yang besar, hal itu sangat memengaruhi struktur dan gerakan galaksi kita.

Efeknya masih disaksikan hari ini dan harus memaksa revisi tentang bagaimana galaksi kita berevolusi, kata para astronom.

LMC, yang sekarang menjadi galaksi satelit Bima Sakti, terlihat sebagai awan samar di langit malam di belahan bumi selatan.

Penelitian sebelumnya telah mengungkapkan bahwa LMC, seperti Bima Sakti, dikelilingi oleh halo materi gelap partikel yang sulit dipahami yang mengelilingi galaksi dan tidak menyerap atau memancarkan cahaya, tetapi memiliki efek gravitasi yang dramatis pada pergerakan bintang dan gas di alam semesta.

Dengan menggunakan model statistik canggih yang menghitung kecepatan bintang terjauh Bima Sakti, tim Universitas Edinburgh menemukan bagaimana LMC membelokkan gerak galaksi kita. Studi yang dipublikasikan di Nature Astronomy ini didanai oleh Dewan Fasilitas Sains dan Teknologi Inggris (STFC).

?Para peneliti menemukan bahwa daya tarik yang sangat besar dari halo materi gelap LMC menarik dan memutar cakram Bima Sakti pada kecepatan 32 km / s atau 115.200 kilometer per jam menuju konstelasi Pegasus.

Yang mengejutkan, mereka juga menemukan bahwa Bima Sakti tidak bergerak menuju lokasi LMC saat ini, seperti yang diperkirakan sebelumnya, tetapi menuju suatu titik di lintasannya yang lalu.

Mereka percaya ini karena LMC, yang ditenagai oleh gaya gravitasi masif, bergerak menjauh dari Bima Sakti dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat yaitu 370 km / s, sekitar 1,3 juta kilometer per jam.

Para astronom mengatakan ini seolah-olah Bima Sakti berusaha keras untuk mencapai target yang bergerak cepat, tetapi tidak membidik dengan baik.

Penemuan ini akan membantu para ilmuwan mengembangkan teknik pemodelan baru yang menangkap interaksi dinamis yang kuat antara dua galaksi.

Para astronom sekarang bermaksud untuk mencari tahu arah dari mana LMC pertama kali jatuh ke Bima Sakti dan waktu pasti terjadinya. Ini akan mengungkap jumlah dan distribusi materi gelap di Bima Sakti dan LMC dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dr. Michael Petersen, penulis utama dan Postdoctoral Research Associate, School of Physics and Astronomy, mengatakan penemuan mereka menunjukkan generasi baru model Bima Sakti, untuk menggambarkan evolusi galaksi kita.

“Kami dapat menunjukkan bahwa bintang-bintang pada jarak yang sangat jauh, hingga 300.000 tahun cahaya, mempertahankan memori tentang struktur Bima Sakti sebelum LMC jatuh, dan membentuk latar belakang yang digunakan untuk mengukur cakram bintang yang terbang di angkasa, ditarik oleh gaya gravitasi dari LMC. " ujarnya.

Profesor Jorge Peñarrubia, Ketua Pribadi Dinamika Gravitasi, Sekolah Fisika dan Astronomi, mengatakan penemuan ini jelas mematahkan mantra bahwa galaksi kita berada dalam semacam keadaan ekuilibrium. Sebenarnya, infall baru-baru ini dari LMC menyebabkan gangguan hebat ke Bima Sakti.

“Memahami ini mungkin memberi kita pandangan yang tak tertandingi tentang distribusi materi gelap di kedua galaksi.” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tata surya galaksi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top