Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ledakan Mirip Mesin Kiamat Muncul dari Matahari

Ledakan tersebut dikenal sebagai coronal mass ejection (CME) dan terjadi ketika magnet menjadi tidak stabil di permukaan bintang di pusat tata surya
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 26 Oktober 2020  |  18:36 WIB
Matahari
Matahari

Bisnis.com, JAKARTA –Ledakan besar dari permukaan Matahari telah tertangkap kamera oleh satelit NASA, dimana beberapa orang mengklaim itu terlihat seperti 'Doomsday Machine' dari seri Star Trek.

Ledakan tersebut dikenal sebagai coronal mass ejection (CME) dan terjadi ketika magnet menjadi tidak stabil di permukaan bintang di pusat tata surya.

CME terlihat oleh pesawat ruang angkasa NASA Solar and Heliospheric Observatory (SOHO).

The Doomsday Machine atau mesin kiamat adalah monster mekanik di luar angkasa yang memiliki bukaan melingkar besar, ekor panjang dan samar.

"CME berbentuk mesin kiamat meluncur menjauh dari Matahari pada dini hari tanggal 24 Oktober," dikutip dari situs astronomi Space Weather.

Space Weather mengungkapkan CME tidak akan menghantam Bumi. Sumber ledakan itu adalah filamen magnet di dekat bagian timur laut matahari, yang menjadi tidak stabil dan meledak.

Jika badai menghantam Bumi, kemungkinan besar akan menghasilkan aurora di kutub utara atau selatan. Aurora terbentuk ketika aliran partikel magnet menghantam perisai magnet bumi yang membelokkannya.

Saat partikel dibelokkan, mereka menciptakan pertunjukan cahaya hijau dan biru yang menakjubkan di eselon atas atau bawah planet ini.

Walaupun demikian konsekuensinya bisa lebih besar dibandingkan dengan penampilan memesona cahaya di kutub utara atau kutub selatan. Partikel matahari bisa menyebabkan atmosfer bumi mengembang.

Hal ini menyulitkan sinyal satelit untuk menembusnya dan berpotensi menyebabkan kurangnya navigasi GPS, sinyal ponsel, dan TV satelit.

Selain itu, gelombang partikel dapat menyebabkan arus tinggi di magnetosfer, yang dapat menyebabkan jaringan listrik bermasalah.

Peristiwa seperti ini jarang terjadi, terakhir, pada 1859 ketika lonjakan listrik yang dikenal dengan Peristiwa Carrington, menyebabkan sistem telegraf yang kuat terjadi di seluruh Eropa. Selain itu ada juga beberapa laporan beberapa bangunan terbakar akibat sengatan listrik.

Perlu diwaspadai, badai matahari besar lainnya dapat terjadi, yang membuat para peneliti mendesak pembuat kebijakan untuk berinvestasi dalam infrastruktur yang lebih baik untuk mengamati Matahari.

Sebuah studi dari Institut Sains dan Teknologi Skolkovo (Skoltech), Rusia mengatakan badai matahari besar dapat mematikan listrik, siaran televisi, internet, dan komunikasi radio yang menyebabkan efek penurunan yang signifikan di banyak bidang kehidupan.

Menurut beberapa ahli, kerusakan akibat peristiwa ekstrim seperti itu dapat menelan biaya hingga beberapa triliun dolar dan pemulihan infrastruktur dan ekonomi dapat memakan waktu hingga 10 tahun.

"Dengan demikian memahami dan meramalkan peristiwa ekstrim yang paling berbahaya adalah yang terpenting untuk melindungi masyarakat dan teknologi dari bahaya global cuaca luar angkasa," ungkap Tatiana Podladchikova, asisten profesor dari Skoltech Space Center melalui website Skoltech.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

matahari Hari Kiamat
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top