Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Astronom Temukan Bintang Simbiotik Pertama 

Ini menjadikannya bintang simbiotik pertama yang diidentifikasi oleh satelit astrometrik ini. Temuan ini dirinci dalam makalah yang diterbitkan pada 30 September di arXiv.org.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 09 Oktober 2020  |  20:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah tim astronom internasional melaporkan bahwa Gaia18aen transien yang ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Gaia ESA ternyata adalah bintang simbiotik.

Ini menjadikannya bintang simbiotik pertama yang diidentifikasi oleh satelit astrometrik ini. Temuan ini dirinci dalam makalah yang diterbitkan pada 30 September di arXiv.org.

Para astronom berasumsi bahwa bintang simbiotik tersebut, yang berada di antara biner berinteraksi terluas, menampilkan perubahan dramatis dan episodik dalam spektrum cahayanya karena salah satu pasangannya adalah bintang kecil yang sangat panas, sedangkan yang lainnya adalah raksasa dingin. Secara umum, sistem seperti itu penting bagi peneliti yang mempelajari aspek evolusi bintang.

WRAY 15-136, yang juga dikenal sebagai AT 2018id, terdeteksi dan diklasifikasikan sebagai bintang garis emisi pada tahun 1966. Pada Januari 2018, Gaia melihat ledakan bintang ini dan peristiwa sementara tersebut menerima sebutan Gaia18aen.

Pengamatan menunjukkan bahwa kecerahan bintang mulai meningkat pada pergantian November dan Desember 2017 dan terus terang pada minggu-minggu berikutnya. Satu studi menunjukkan bahwa itu adalah nova, berdasarkan spektrum yang diperoleh Very Large Telescope (VLT) ESO di Chili.

Saat ini pengamatan lebih lanjut mengenai Gaia18aen yang dilakukan oleh sekelompok astronom yang dipimpin oleh Jaroslav Merc dari Charles University di Praha, Republik Ceko, menunjukkan bahwa objek tersebut adalah bintang simbiotik. Untuk studi mereka, para ilmuwan menggunakan Teleskop Liverpool di La Palma, Spanyol dan VLT. Penelitian dilengkapi dengan data fotometri dari LCO 0.4-m, PROMPT 0.6-m, Terskol 0.6-m, dan teleskop robotik PIRATE.

"Dalam pekerjaan ini, kami telah menganalisis pengamatan fotometrik dan spektroskopi Gaia18aen, yang terdeteksi sementara oleh satelit Gaia pada awal tahun 2018," tulis tim Merc di jurnal penelitian tersebut seperti yang dikutip dari phys.org.

Studi tersebut menemukan bahwa Gaia18aen adalah bintang simbiosis tipe-S yang tidak berdebu, berjarak sekitar 19.500 tahun cahaya, dan terdiri dari bintang kerdil putih yang panas dan bintang raksasa sekitar 230 kali lebih besar dari matahari kita. Bintang raksasa memiliki sedikit tingkat super-solar metallicity dengan suhu efektif sekitar 3.500 Kelvin atau 3226.85 ?C. Luminositasnya, pada tingkat sekitar 7.400 solar luminosities, menjadikannya salah satu bintang raksasa simbiosis paling terang. Periode orbit sistem diukur kira-kira hingga 487 hari.

Seperti yang disebutkan pada penelitian tersebut, Gaia18aen mengalami ledakan sekitar 3,3 mag pada Januari 2018, yang diikuti oleh pencerahan ulang pada hari ke- 100, 240, dan 350 setelah kejadian tersebut. Fase pertama ledakan utama memiliki luminositas yang relatif tinggi, pada tingkat sekitar 27.000 solar luminosities. Ledakan utama disertai dengan peningkatan luminositas bintang kerdil putih serta penurunan pada tingkat suhunya, serta perubahan garis spektrum emisi, yang khas untuk bintang simbiosis klasik.

Para astronom menambahkan bahwa kurva cahaya Gaia18aen menunjukkan indikasi penyebaran, yang mungkin disebabkan oleh denyut bintang raksasa dengan periode antara 50 dan 200 hari. Hal ini merupakan tipikal untuk komponen dingin dalam sistem simbiotik tipe S.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bintang astronomi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top