Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Radiasi Bulan 200 Kali Lebih Besar daripada di Bumi

Penemuan ini juga penting untuk misi antarplanet di masa depan. Karena bulan tidak memiliki medan magnet pelindung atau pun atmosfer, radiasi di permukaan bulan serupa dengan radiasi di ruang luar angkasa antarplanet, terlepas dari pelindungan oleh bulan itu sendiri, menurut para ilmuwan.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 28 September 2020  |  20:33 WIB
Ilustrasi bulan
Ilustrasi bulan

Bisnis.com, Jakarta - Dengan semakin banyak negara-negara berencana untuk mendaratkan manusia di Bulan di beberapa dekade ke depan, para ilmuwan dari Jerman dan China melakukan studi untuk menentukan seberapa besar tingkat astronot akan terpapar radiasi di permukaan bulan.

Hasil dari penelitian ini adalah indikator seberapa banyak pelindung yang dibutuhkan astronot di masa depan. Menurut studi baru, seorang astronot akan terpapar dengan dosis harian rata-rata 1.369 mikrosievert radiasi di permukaan bulan, atau sekitar 2,6 kali lebih banyak dari dosis harian awak Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada hari Jumat (25 September). dengan pengukuran dilakukan oleh moon lander milik China, Chang'e-4, yang mendarat di sisi terjauh bulan pada 3 Januari 2019. Eksperimen dengan nama "Lunar Lander Neutron and Dosimetry", yang dikembangkan oleh ilmuwan Jerman, mengukur radiasi selama "siang hari" di bulan, dari 3-12 Januari dan 31 Januari hingga 10 Februari 2019.

“Penempatan dosimeter di dalam wahana satelit Chang'e-4 memberikan perlindungan parsial, seperti halnya pakaian antariksa astronot akan lakukan pada tubuh mereka, jadi temuan ini cukup bisa diaplikasikan untuk penjelajah manusia,” Ujar Robert Wimmer-Schweingruber yang menjadi rekan penulis dari penelitian tersebut yang juga merupakan seorang fisikawan di Universitas Kiel di Jerman seperti yang dikutip dari scmp.com.

Tingkat radiasi yang diukur di bulan per jamnya sekitar 200 kali lebih tinggi daripada di permukaan bumi, dan lima hingga 10 kali lebih tinggi daripada penerbangan penumpang jarak jauh dari Frankfurt ke New York, tulis Wimmer-Schweingruber dalam sebuah pernyataan. "Karena astronot akan berada di bulan lebih lama daripada penumpang yang terbang ke New York dan kembali, ini menunjukkan tingkat paparan yang cukup besar bagi manusia," tambahnya.

Menurut Wimmer, tetapi astronot dapat dan harus melindungi diri mereka sendiri sebisa mungkin selama tinggal dengan durasi yang lebih lama di bulan, seperti dengan menutupi tempat tinggal mereka dengan lapisan tebal tanah bulan

Menurut studi tersebut, radiasi ruang angkasa adalah salah satu risiko utama bagi kesehatan para astronot karena paparan kronis sinar kosmik galaksi dapat menyebabkan kanker, katarak atau penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat atau sistem organ lainnya, serta paparan dari peristiwa partikel matahari yang lebih besar apabila tidak diiringi dengan perlindungan yang tidak memadai dapat menyebabkan efek samping yang parah.

Penemuan studi ini datang pada saat beberapa negara membuat rencana jangka panjang untuk mendaratkan manusia di bulan. Pada pekan lalu, NASA mengumumkan niatnya untuk mendaratkan wanita pertama dan sebagai manusia berikutnya yang mendarat di bulan pada 2024 sebagai bagian dari misi Artemis, yang bermaksud mengirim kru untuk tinggal dalam waktu jangka panjang.

Sedangkan China berencana mengirim astronot ke bulan sebelum tahun 2036, kata seorang perwira senior dari People Liberation Army pada 2016. Pada saat itu, Letnan Jenderal Zhang Yulin, wakil komandan dari China Manned Space Programme, mengatakan akan memakan waktu 15 hingga 20 tahun bagi negara itu untuk mendaratkan astronot di permukaan bulan.

Penemuan ini juga penting untuk misi antarplanet di masa depan. Karena bulan tidak memiliki medan magnet pelindung atau pun atmosfer, radiasi di permukaan bulan serupa dengan radiasi di ruang luar angkasa antarplanet, terlepas dari pelindungan oleh bulan itu sendiri, menurut para ilmuwan.

“Pengukuran dalam studi ini dapat digunakan untuk meninjau dan mengembangkan model lebih lanjut yang dapat digunakan untuk misi di masa depan,” ujar Wimmer-Schweingruber. "Misalnya, jika misi berawak berangkat ke Mars, temuan baru ini memungkinkan kami memperkirakan secara terpercaya mengenai tingkat radiasi yang diantisipasi kedepannya,"

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulan radiasi nuklir
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top