Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Klaim China, Rusia, dan Iran Kirim Mata-Mata Curi Penelitian Vaksin Corona

Para peretas dari China itu mencoba masuk ke jaringan komputer departemen epidemiologi di Amerika Serikat tetapi tidak berhasil menyusup ke dalam jaringan.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 08 September 2020  |  10:50 WIB
Kejahatan online - Ilustrasi/mirror.co.uk
Kejahatan online - Ilustrasi/mirror.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat mengklaim tiga negara lain yakni Rusia, Iran, dan China telah mengirimkan mata-mata ke negara-negara Barat untuk mencuri informasi tentang penelitian vaksin virus corona baru atau Covid-19.

Mata-mata dari tiga negara itu menargetkan riset dari lembaga bioteknologi dan universitas di Amerika Serikat untuk mencuri data vaksin virus corona baru. Pejabat AS mengklaim peretas China mencoba mencuri informasi dari University of North Carolina dan sekolah lain yang berfokus pada penelitian Covid-19.

Dilansir dari Express UK, Selasa (8/9/2020) para pejabat intelijen mengatakan bahwa mereka mengetahui upaya China untuk mencuri data pada awal Februari, dengan peretasan menggunakan informasi dari WHO untuk memandu upaya mata-mata di negaranya.

Dua pejabat yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada The New York Times bahwa FBI telah memperingatkan University of North Carolina dalam beberapa pekan terakhir tentang upaya peretasan yang ada.

Para peretas yang dilaporkan berasal dari China itu mencoba masuk ke jaringan komputer departemen epidemiologi universitas, tetapi tidak berhasil menyusup ke dalam jaringan. Dokumen pengadilan AS juga mengungkapkan bahwa China melakukan banyak serangan pada sejumlah kasus lain.

Selain di lingkup kampus, mereka menuduh dua peretas China memburu informasi vaksin dan penelitian dari perusahaan bioteknologi AS lainnya yang saat ini sedang melakukan penelitian dan melakukan pengembangan vaksin virus corona.

Sementara itu, Iran dan Rusia juga menggunakan mata-mata dalam upaya mendapatkan data dari lembaga yang ada di Kanada dan Inggris. Pada Juli lalu, pejabat AS, Inggris, dan Kanada mengatakan sebuah kelompok Rusia bernama Cozy Bear melakukan data dari Oxford dan AstraZeneca.

Bryan Ware, Asisten Direktur Keamanan Siber Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mengatakan kepada The New York Times bahwa timnya berpacu dengan waktu untuk menemukan kerentanan dan menambal sistem yang ada, sebelum dieksploitasi oleh kelompok peretas.

John C Demers, Pejabat Departemen Kehakiman juga pada bulan lalu mengatakkan bahwa akan mengejutkan jika China tidak melakukan upaya mata-mata dan pencurian penelitian biomedis paling berharga yang ada saat ini.

Para pejabat menyarankan intelijen NATO, yang biasanya prihatin dengan pergerakan tank Rusia dan teroris lain untuk memperluas cakupan kerjanya pada upaya kriminal mencuri data dari penelitian vaksin virus corona.

Namun demikian, masih belum ada perusahaan atau universitas yang mengungkapkan kasus pencurian data melalui peretasan publik oleh pihak manapun, yang informasinya dirilis secara resmi kepada masyarakat luas.

Perlombaan untuk mendapatkan vaksin kian memanas di tengah kondisi pandemi yang terus berlangsung. Hingga kini, virus corona baru ini telah menginfeksi lebih dari 27 juta orang dan menewaskan lebih dari 851.000 orang di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat peretas Vaksin Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top