Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Suhu Siberia Mencapai 100 Derajat Fahrenheit, Rekor Terpanas yang Pernah Tercatat

Dilansir dari Live Science, Selasa (23/6) angka tersebut merupakan pertama kalinya terjadi, dengan demikian menjadi suhu tertinggi sepanjang sejarah di wilayah Arktik, tepatnya terjadi pada Sabtu (20/6) waktu setempat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  11:25 WIB
Wilayah dingin Siberia
Wilayah dingin Siberia

Bisnis.com, JAKARTA – Wilayah Siberia dilaporkan baru saja mencetak rekor iklim terbaru yang mengejutkan. Pada akhir pekan lalu, suhu di kota Verkhoyansk mencapai 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 38 derajat Celcius.

Dilansir dari Live Science, Selasa (23/6) angka tersebut merupakan pertama kalinya terjadi, dengan demikian menjadi suhu tertinggi sepanjang sejarah di wilayah Arktik, tepatnya terjadi pada Sabtu (20/6) waktu setempat.

Verkhoyansk adalah kota dengan sekitar 1.300 pendidik di wilayah Kutub Utara Siberia, jaraknya sekitar 4.800 kilometer dari timur Moskow, Rusia. Dilaporkan, kota tersebut memiliki salah satu rentang suhu paling ekstrem di muka Bumi.

Laporan Brittanica mencatat suhu terendah pada musim dingin di wilayah tersebut mencapai rata-rata 56 F atau sekitar minus 49 C. Sementara, suhu tertinggi musim panasnya mencapai angka 98 F atau sekitar 37,2 C.

Pada akhir pekan lalu, beberapa stasiun cuaca melaporkan rekor terbaru dengan angka yang menempuh 100 F, menjadi suhu terpanas sepanjang masa di kota tersebut sejak pertama kali pencatatan suhu dimulai sejak 1885.

Pada Minggu (21/6) waktu setempat, suhu di kota Verkhiyansk dilaporkan mencapai angka 95,3 F atau sekitar 35,2 C. Hal ini menunjukkan bahwa suhu tertinggi yang dicapai sehari sebelumnya bukan sekadar kenaikan tunggal.

Temperatur Arktik musim panas yang tinggi telah memengaruhi wilayah tersebut. Kebakaran hutan merajalela, dengan 31 kebakaran saat ini dan telah membumi hanguskan ratusan ribu hektare hutan di Republik Sakha (wilayah yang mencakup Verkhoyansk).

Terkait dengan kejadian ini, pejabat Rusia menyalahkan kebocoran tumpahan minyak dengan kapasitas sekitar 20.000 ton diesel ke sungai Arktik Siberia, yang berpengaruh pada pencairan lapisan es yang menyebabkan kerusakan pada permukaannya.

Kendati hal ini merupakan kabar yang mengejutkan, tetapi sebetulnya telah diprediksi oleh para ilmuwan. Selama bertahun-tahun, suhu rata-rata di Kutub Utara telah meningkat jauh lebih cepat. Sebagian besarnya disebabkan adanya pencairan es laut karena pemanasan global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kutub utara Suhu udara
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top