Waspada! UKM Jadi Target Serangan Siber

Kelompok usaha kecil dan menengah di Asia Tenggara menjadi salah satu sasaran utama para penjahat siber sepanjang awal tahun ini.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  10:38 WIB
Waspada! UKM Jadi Target Serangan Siber
Ilustrasi kejahatan siber - Reuters/Dado Ruvic

Bisnis.com, JAKARTA -- Berdasarkan statistik terbaru dari perusahaan keamanan siber, Kaspersky, selama kuartal I/2020 sektor UKM di Asia Tenggara menjadi salah satu sasaran utama serangan dari pelaku kejahatan siber,

Yeo Siang Tiong, General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara menjelaskan bahwa sistem antiphishing perusahaan keamanan siber global mencegah sebanyak 834.993 upaya phishing terhadap perusahaan dengan skala UKM atau rata-rata memiliki 50-250 karyawan.

“Catatan ini mengalami kenaikan 56 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan lebih dari 500 ribu upaya diblokir,” tuturnya Selasa, (12/5/2020).

Phishing adalah salah satu jenis serangan siber dalam bentuk rekayasa sosial yang paling fleksibel, karena dapat disamarkan dengan banyak cara dan digunakan untuk tujuan yang berbeda. Serangan rekayasa sosial, atau tipu daya pikiran, mengeksploitasi emosi manusia untuk menipu para pengguna daring.

Dia mengatakan bahwa para pelaku kejahatan siber juga memasukkan topik dan “frasa terkini” terkait dengan Covid-19 ke dalam konten mereka, sehingga meningkatkan peluang untuk tautan yang terinfeksi atau lampiran berbahaya dibuka.

Lebih lanjut, imbuhnya, peringkat organisasi yang ditargetkan oleh serangan phishing didasarkan pada pemicu komponen heuristik dalam sistem anti-phishing pada komputer pengguna. Komponen ini nantinya akan mendeteksi seluruh aktivitas saat pengguna mencoba mengikuti tautan di internet atau dalam surel ke laman phishing.

“Situasi finansial diiringi dengan kebutuhan mendesak nyatanya telah menempatkan keamanan TI UKM di posisi yang sulit. Para pelaku kejahatan siber secara tidak etis menunggangi kekacauan seperti ini untuk meningkatkan tingkat keberhasilan serangan mereka melalui taktik rekayasa sosial seperti phishing,” katanya.

Kerusakan kejahatan daring ini berkisar dari peretasan jaringan perusahaan hingga pencurian data konfidensial seperti informasi pengenal pribadi (personally identifiable information), kredensial keuangan, dan bahkan rahasia perusahaan.

Selain itu, diketahui bahwa serangan phishing, khususnya yang memiliki tautan atau lampiran berbahaya, secara populer digunakan sebagai landasan peluncuran untuk serangan yang ditargetkan pada organisasi, seperti kasus Bangladesh Bank Heist senilai US$ 81juta.

Dalam hal statistik per negara, keenam negara di Asia Tenggara masuk ke dalam daftar peningkatan jumlah email palsu yang diblokir oleh Kaspersky pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di mana, Indonesia pada kuartal pertama di 2020 mencatatkan kasus sebesar 158.492 dan meningkat 192.591 dari kuartal sebelumnya. Kemudian, Malaysia pada 90.825 dan meningkat di kuartal pertama di 2020 menjadi 132.106 dari kuartal sebelumnya

Sementara itu, pada periode yang sama Filipina menorehkan peningkatan yang signifikan pada peningkatan jumlah email palsu yang diblokir dari 29.677 kasus menjadi 76.478 kasus dari kuartal sebelumnya. Untuk Singapura, pada kuartal pertama di 2019 berkisar di 30.410 kasus dan meningkat di angka 44.912 (q to q).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ukm, pembajakan, kejahatan siber

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top