Mengapa Tahun Ini Diprediksi Tidak Ada Pergelaran Jaringan Backbone Internasional?

Operator lebih tertarik mengeluarkan biaya untuk menyewa kapasitas dibandingkan dengan membangun jaringan tulang punggung sendiri.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 08 Januari 2020  |  09:23 WIB
Mengapa Tahun Ini Diprediksi Tidak Ada Pergelaran Jaringan Backbone Internasional?
Ilustrasi: Peta sistem komunikasi kabel laut Palapa Ring paket barat. - Kementerian Komunikasi dan Informatika

Bisnis.com, JAKARTA — Pergelaran jaringan tulang punggung internasional diperkirakan tidak terjadi pada tahun ini. Harga sewa jaringan tulang punggung internasional yang makin murah diduga membuat operator memilih untuk menyewa kabel dibandingkan dengan membangun jaringan internasional baru.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Arif Angga mengatakan bahwa pada tahun ini tidak ada penggelaran jaringan tulang punggung kabel bawah laut internasional.

Dia berpendapat bahwa kapasitas jaringan tulang punggung internasional yang ada saat ini masih mencukupi sehingga penambahan kapasitas jaringan dengan membangun jaringan baru tidak akan terjadi.

Penyedia jaringan tulang punggung internasional, kata Angga, tahun ini akan lebih berfokus pada perawatan jaringan yang telah ada jika dibandingkan dengan membangun jaringan baru.

Jaringan tulang punggung internasional adalah saluran pusat tempat data bermigrasi dari satu negara ke negara lain.

Misalnya, saat masyarakat bermain Facebook, akan terjadi transfer data dari Indonesia ke Amerika Serikat. Jalur yang digunakan untuk transfer data adalah jaringan tulang punggung internasional.

Makin banyak penggunaan akses data lintas negara, maka kapasitas jaringan tulang punggung yang dibutuhkan makin besar. Saat ini kapasitas yang tersedia masih mencukupi kebutuhan masyarakat meskipun Apjatel tidak menyebutkan besar kapasitas yang dibutuhkan.

Diketahui sejumlah operator yang memiliki kabel internasional saat ini antara lain, PT Indosat Tbk., PT XL Axiata Tbk., PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., PT Mora Telematika Indonesia, dan PT Nap Info Lintas Nusa.    

“Dengan jumlah jaringan yang ada, saya menduga masih cukup untuk mendukung industri dalam negeri. Bisa dibilang kita belum kekurangan kapasitas,” kata Angga kepada Bisnis, Selasa (7/1/2020).

Di samping itu, sambungnya, tidak adanya pembangunan jaringan tulang punggung internasional tahun pada tahun ini juga disebabkan oleh harga sewa kapasitas per Gigabita (GB) jaringan tulang punggung internasional makin murah.

Operator lebih tertarik mengeluarkan biaya untuk menyewa kapasitas dibandingkan dengan membangun jaringan tulang punggung sendiri karena biaya yang digelontorkan lebih sedikit. Sayangnya Angga tidak memberitahu harga penggelaran jaringan tulang punggung internasional.  

Berdasarkan data Apjatel, dalam 5 tahun terakhir harga sewa kapasitas per GB jaringan tulang punggung mengalami penurunan tajam. Pada 2015, harga sewa kapasitas per GB sebesar Rp150 juta. Harga sewa kapasitas turun menjadi Rp50 juta pada 2019 dan diperkirakan kembali turun menjadi Rp35 juta pada tahun ini.

Sebelumnya terdapat kabar jika penyedia infrastruktur telekomunikasi akan menggelar jaringan tulang punggung bawah laut yang menghubungkan Singapura dengan Jakarta dan Filipina dengan Pontianak. Realisasi pegelaran tersebut, kata Arif, kemungkinan tidak terjadi pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jaringan internet, palapa ring

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top