Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Enam Startup Paling Heboh Sepanjang 2019

Ada enam startup paling heboh sepanjang 2019. Dari Gojek dan OVO yang valuasinya masing-masing tembus dekakorn dan unikorn. Sampai isu Lippo lepas saham OVO dan bangkrutnya Bukalapak. Jadi, apa saja fakta sesungguhnya? cek jawabannya di sini
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 26 Desember 2019  |  13:10 WIB
Startup Paling Heboh Tahun 2019 - Ilham mogu
Startup Paling Heboh Tahun 2019 - Ilham mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Startup atau perusahaan rintisan masih menjadi topik hangat yang dibahas pada tahun ini, meskipun mulai muncul rumor bakal ada bubble startup seperti ketika bubble dotcom pada 2000-an. Selaras dengan itu, ada enam startup yang cukup heboh dibahas di Indonesia sepanjang 2019 loh.

Unikorn dan Dekakorn menjadi topik utama startup terheboh sepanjang tahun ini. Gojek yang resmi menjadi startup dengan valuasi lebih dari US$10 miliar dan OVO yang menjadi Unikorn kelima Indonesia setelah valuasinya tembus US$1 miliar menjadi pembahasan sepanjang tahun ini.

Tak hanya soal valuasi, founder-founder startup yang diajak Presiden Indonesia Joko Widodo bergabung ke timnya pun ramai dibahas. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

1. Gojek

startup

Gojek bisa dibilang menjadi startup yang paling banyak dibahas sepanjang tahun ini. Setelah, Gojek resmi ekspansi ke Asean pada tahun lalu, kini mereka membuat gebrakan dengan menjadi dekakorn alias startup dengan valuasi di atas US$10 miliar.

Gojek resmi menjadi dekakorn setelah mendapatkan pendanaan seri F dari beberapa investor seperti, PT Astra International Tbk., Mitsubishi Grup, Visa, AIA Indonesia sampai Siam Commercial Bank. Perusahaan yang awalnya fokus pada sektor transportasi itu dikabarkan bakal tutup pendanaan seri F pada Januari 2020.

Tak hanya soal valuasi yang melejit jadi US$10 miliar, Gojek juga sempat viral gara-gara rencananya ekspansi ke Malaysia. Viralnya bukan karena Gojek resmi mengaspal di Negeri Jiran, tetapi pemilik Big Blue Taxi, perusahaan asal Malaysia, yang berkomentar negatif terkait rencana ekspansi Gojek ke negara tersebut.

Teranyar, dari catatan Bisnis.com pada November 2019, Gojek disebut telah mendapatkan lampu hijau untuk ekspansi ke Malaysia.

Selain itu, nama Gojek kian menjadi perbincangan setelah sang pendiri sekaligus CEO, Nadiem Makarim, diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Joko Widodo. Dengan status menteri itu, Nadiem pun harus angkat kaki dari Gojek dan posisinya digantikan oleh Andre Sulistyo dan Kevin Aluwi.

2. Tanihub

ruangguru

Tiba-tiba banyak orang mencari tentang Tanihub, startup yang fokus pada sektor pertanian. Hal itu terjadi setelah Joko Widodo yang masih berstatus calon presiden menyebutkannya dalam Debat Capres putaran kedua tentang peran teknologi dalam pembangunan pertanian.

TaniHub adalah bagian dari TaniGroup, sebuah startup yang didirikan oleh Ivan Arie dan Pamitra Wineka. Ada dua layanan TaniGroup, yakni mengoperasikan e-commerce pertanian TaniHub dan platform tekfin TaniFund.

Setelah itu, Tanihub mendapatkan pendanaan seri A senilai US10 juta dari konsorsium yang dipimpin Openspace Ventures pada Mei 2019. Anggota konsorsium investor Tanihub lainnya adalah Intudo Ventures, Golden Gate Ventures, dan The DFS Lab.

Dengan pendanaan tersebut, perusahaan berencana ekspansi layanan ke seluruh Indonesia serta mengembangan produk baru.

3. Ruangguru

Ruangguru

Ruangguru menjadi startup ketiga paling heboh sepanjang 2019. Selain rajin melakukan promosi besar-besaran di beberapa media televisi, Ruangguru juga mulai menjajal pasar Asean, yakni Vietnam.

Sebelum itu, CB Insight mencatat kalau Ruangguru sudah mendapatkan pendanaan seri C pada Juli 2019 dari investor sebelumnya, yakni UOB Venture Management dan East Venture. Teranyar, startup sektor pendidikan itu mendapatkan pendanaan seri C senilai US$150 juta yang diberikan oleh konsorsium General Atlanctic dan CGV Capital.

Hasil dari pendanaan seri C itu disebut bakal digunakan untuk mengembangkan bisnis Ruangguru di Vietnam. Di sana, Ruangguru ekspansi dengan nama Kienguru.

Selain itu, nama Ruangguru juga mencuat setelah pendiri sekaligus CEO Ruangguru Adamas Belva diangkat menjadi Staf Khusus Presiden. Meskipun begitu, Belva tidak meninggalkan posisi CEO di Ruangguru.  

4. Amartha

amartha

Nama pendiri Amartha, Tekfin peer to peer (P2P) lending, Andi Taufan Garuda Putra memang sudah mencuat bakal bergabung dengan Istana setelah Joko Widodo resmi memenangkan pemilu 2019. Hasilnya, Taufan memang diangkat menjadi staf khusus oleh Jokowi, sapaan Joko Widodo.

Setelah itu, Amartha pun mengumumkan telah meraih pendanaan seri B dengan nilai yang dirahasiakan. Pendanaan itu didapatkan dari Line Ventures, Bamboo Capital Partners, UOB Venture Management, PT Teladan Utama, dan PT Medco Intidinamika.

Pendanaan itu akan mereka gunakan untuk ekspansi bisnis ke seluruh Indonesia. Harapannya, dengan memperluas jangkauan, Amartha bisa mempercepat inklusi keuangan.

Sampai Senin (23/12/19), Amartha sudah menyalurkan Rp1,75 triliun pendanaan, dengan 371.563 pengusaha mikro telah diberdayakan.

5. OVO

Mochtar Riady

PT Visionet International yang memiliki produk OVO mencatatkan pencapaian baru setelah menjadi unikorn kelima Indonesia pada tahun ini. CB Insight mencatat OVO resmi menjadi Unikorn sejak Maret 2019 dengan valuasi sekitar US$2,9 miliar.

Namun, status unikorn OVO ternyata tidak membawa kabar positif. Malah, Lippo Grup disebut menjual 2/3 sahamnya di startup fintech sistem pembayaran tersebut.

Pemilik Lippo Group Mochtar Riady mengakui penyebab aksi jual sebagian besar sahamnya di OVO karena tidak kuat untuk aksi bakar uang seperti, promo diskon sampai cash back.

Meskipun begitu, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra menyakinkan kalau perusahaan yang dipimpinnya tidak kolaps.

“Jadi kalau dibilang [kami] bakar duit dan akhirnya kolaps ya enggak. Revenue kami tumbuh sampai 19 kali kok, kita juga baru 2 tahun," kata Karaniya, seperti dikutip pada Bisnis.com.

Sebelum Riady curhat masalah OVO, startup fintech itu sempat dikaitkan dengan DANA, fintech sistem pembayaran yang memiliki hubungan dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. pada September 2019. Bahkan, OVO disebut bakal merger dengan DANA.

Rumor itu muncul seiring isu Grab yang bakal membeli saham DANA. Isu merger OVO dan DANA pun diprediksi bisa menjadi pesaing kuat uang elektronik milik Gojek, Gopay.

Entah melanjutkan isu sebelumnya, OVO kembali santer bakal dicaplok oleh Elang Mahkota Teknologi pada Desember 2019. Namun, pihak OVO menapik hal itu dan mengungkapkan belum ada perjanjian apapun terkait transaksi akuisisi tersebut.  

6. Bukalapak

bukalapak

Nama Bukalapak tiba-tiba mencuat di awal tahun gara-gara cuitan sang pendirinya Achmad Zaky. Cuitan yang membahas anggaran riset dan pengembangan negara dan kalimat presiden baru membuat muncul tagar #uninstallbukalapak.

Serangan warganet juga menyerbu ulasan di Playstore. Nama Bukalapak yang heboh gara-gara cuitannya, Zaky pun menemui Joko Widodo untuk menjelaskan dan meminta maaf atas aksinya tersebut. Apalagi, data yang disampaikan dalam kicauannya itu juga bukan data terbaru.

Selain heboh #uninstallbukalapak, Bukalapak juga diterpa isu pemutusan hubungan kerja (PHK). Bukalapak pun tidak menapik hal itu dan menyampaikan kalau itu adalah salah satu strategi bisnis berkelanjutan.

Isu PHK itu sempat menyeruak rumor kalau Bukalapak bakal tutup. Apalagi, setelah aplikasi Bukalapak hilang dari Playstore. Namun, untuk kasus hilangnya aplikasi Bukalapak disebabkan adanya pembaruan sistem.

Satu isu besar yang dialami Bukalapak pada tahun ini adalah mundurnya sang pendiri Achmad Zaky dari posisi CEO Bukalapak. Zaky bakal resmi meninggalkan posisinya pada 6 Januari 2020. Nantinya, posisi Zaky akan digantikan oleh Muhammad Rachmat Kaimuddin yang sebelumnya sebagai Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Surya Rianto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top