Era Zona Mabuk Teknologi Masih Enggan Berlalu

Dengan mewaspadai teknologi, kita dapat mengevaluasi secara jernih relevansi teknologi yang ada sekarang dan membangun hubungan yang wajar dengannya.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 29 November 2019  |  18:09 WIB
Era Zona Mabuk Teknologi Masih Enggan Berlalu
Ilustrasi - Seniman AI yang bernama bernama Ai-Da mengenakan blus putih dan rambutnya yang hitam terurai. Ai-Da terlihat seperti artis yang sedang bekerja saat dia mempelajari subjeknya dan meletakkan pensil di atas kertas. - Bisnis/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – "Teknologi masa kini adalah kisah Amerika." Itu yang dikatakan John Naisbitt, Nana Naisbitt, dan Douglas Philips dalam buku 'keroyokan' mereka yang sangat terkenal, High Tech High Touch: Technology and Our Search for Meaning.

Kenapa Amerika? Mungkin ada benarnya bila konteksnya adalah dunia di pengujung 1999 ketika buku laris itu diterbitkan. Namun kini apakah cuma Amerika ketika negeri Paman Sam justru sedang getol melawan Sang Naga (China) dalam urusan dagang?  

Perkiraan Naisbitt dkk memang benar bahwa dunia akan berada di sebuah wilayah yang disebut 'zona mabuk teknologi'. Tapi mabuk kepayang pada teknologi itu tak cuma menghantam Amerika. Di Indonesia kita pun sudah dapat melihatnya.

Hari ini bahkan revolusi teknologi (digital) sudah masuk dalam relung terdalam sanubari manusia di seantero muka bumi. Dari bangun tidur pagi hingga mata terlelap di larut malam , semua aktivitas hidup nyaris diwarnai 'serba apps'.

Gawai adalah dunia. Dunia adalah gawai. Semua kendali operasi akan bisa dilakukan dalam satu genggaman. Tinggal klik. Enggak pake lama.

Dua dekade lalu Naisbitt dkk mengatakan bahwa Amerika, dalam perjalanan waktu, telah mengalami transformasi dari tempat yang nyaman secara teknologi menjadi Zona Mabuk Teknologi.

Dimabukkan oleh kegairahannya yang menggebu-gebu. Semua orang menggembar-gemborkan dan mengoceh soal teknologi yang merasuki kehidupan dari segala penjuru.

Dalam konteks sekarang, jelas ini bukan lagi ranah orang Amerika semata. Hari ini kita asyik berselancar di dunia digital. Bukan lagi semata-mata di waktu luang, karena digital world telah menjelma menjadi sebuah industri besar yang akan terus meraksasa. Hari ini bila menyebut istilah Industri 4.0 tak pelak adalah industri digital itu sendiri, dengan internet dan kecerdasan artifisial sebagai tulang punggungnya.

Lalu muncul disrupsi, menyapu bak tsunami. Menghantam banyak korporasi, tak terkecuali kaliber legenda sekalipun. Terjangan maut bagi mereka yang tak siap, lamban, mengandalkan zona nyaman, dan birokratis.

Hari ini ribuan ojek dan taksi bukan lagi milik perusahaan/operator taksi. Begitu pula ribuan kamar hotel, resor, vila hingga butik mewah di ujung dunia, bukan dihela oleh jaringan manajemen hotel kelas global. Operasi bisnis saat ini dihela oleh perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech).

Bukan lagi perusahaan yang harus mengantungi setumpuk izin dari pihak berwenang. Alhasil cara kita mengelola bisnis tak lagi pernah sama dengan era sebelumnya.

Perubahan ini berjalan begitu kencang. Seolah ini adalah revolusi yang tidak boleh dikritisi. Hukum disrupsi makin jelas: inovasi atau mati! Terasa dan terlihat juga bahwa berubah drastis pun belum jaminanan bisnis akan selamat. Semuanya seolah tak ada pilihan lagi kecuali berperan sebagai pemain akrobat yang sedang meniti tali tambang untuk menyeberangi jeram terjal.

Bukan hanya keseimbangan yang akan menjadi kunci sukses untuk selamat sampai seberang. Justru yang paling penting adalah semua unsur yang memungkinkan Si Pemberani tadi dapat menaklukkan berbagai rintangan maut hingga akhirnya menjadi champion begitu sampai di seberang.

Bila memang medan bisnis ibarat menyeberang jeram maut seperti itu, mudah saja menebaknya. Orang dengan kemampuan seperti apa yang bakal dapat mengarunginya dengan selamat.

Lalu apa yang perlu dikritisi? Manusia yang akan melakoni perubahan atau dunia teknologinya? Semua orang mengatakan hal yang sama: gunakan teknologi. Pakai teknologi. Kurangi tenaga manusia. Bila ada yang salah dalam hal implementasi, faktornya ada pada manusia. Bisa jadi 'ilmunya belum dikuasai'.

Dengan demikian, kuasailah teknologi dengan ilmu, bukan dengan kekuasaan agar tidak disalahgunakan. Dengan bekal ilmu saja, penggunaan teknologi juga bisa dibelokkan. Apalagi dengan kekuasaan semata.

Apa yang disampaikan Naisbitt dua dekade lalu masih sangat relevan dengan perkembangan dewasa ini. Intinya adalah jangan terbuai dengan teknologi. Memang teknologi berikrar akan membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Membuat kita lebih pintar, meningkatkan kinerja, dan membuat orang bahagia.

Teknologi berjanji akan lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah dari segala sesuatu yang pernah ada sebelumnya. Teknologi berjanji menjadi landasan ekonomi dunia yang baru sekaligus sebagai penyeimbang yang kuat. Bahkan teknologi berjanji menjadikan kita kaya.

Teknologi melangkah sesuai derap langkah ekonomi manusia. Kolaborasi apik yang melibatkan mesin, energi, kecerdasan buatan, dan konektivitas (internet) membuka babak baru dalam sejarah kehidupan manusia.

Di dunia yang membuat teknologi mampu mengubah alam sebagaimana yang belum pernah terjadi sebelumnya, orang pun masih merasa asing, sehingga kerap bertanya, 'nyatakah ini?', 'semukah itu?', 'otentik atau simulasi'?, 'asli atau tiruan?', 'orisinal atau salinan?'.

"Pada masa ketika teknologi mampu menciptakan sang pengganti, ersatz, maya, cyber, kita terus-menerus bingung tentang mana yang nyata dan mana yang semu," ujar Naisbitt.

Saya tertarik dengan 'ramalan selanjutnya dari futurolog itu. "Ketika teknologi menyembunyikan yang nyata, sambil sekaligus melebih-lebihkannya, kita diyakinkan kembali oleh keautentikan."

Benarkah demikian Indonesia kita?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi

Editor : Inria Zulfikar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top