Nilai Ekonomis dan Kesiapan Penduduk Jadi Pertimbangan Pembangunan Jaringan 4G

PT Smartfren Telecom Tbk. dan PT Hutchison 3 Indonesia memiliki sejumlah pertimbangan dalam membangun jaringan 4G. 
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 18 November 2019  |  10:38 WIB
Nilai Ekonomis dan Kesiapan Penduduk Jadi Pertimbangan Pembangunan Jaringan 4G
Pengunjung mencari informasi produk di Gerai Smartfren, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Smartfren Telecom Tbk. dan PT Hutchison 3 Indonesia memiliki sejumlah pertimbangan dalam membangun jaringan 4G. 

Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah mengatakan dalam membangun jaringan di suatu daerah, 3 Indonesia melihat kebutuhan pembangunan dan keuntungan yang dapat diraup.

3 Indonesia tidak membagi pembangunan jaringan berdasarkan daerah, melainkan berdasarkan jumlah kabupaten.

“Kami kan juga tidak mungkin bisa menyediakan cakupan kami tetapi tidak menguntungkan, namun secara garis besar masih menguntungkan meskipun ada situs yang rugi, kami tidak ada masalah,” kata Danny kepada Bisnis.com, Minggu (17/11/2019). 

Dia mengatakan sekitar 90% jaringan yang dibangun oleh 3 Indonesia saat ini sudah menggunakan teknologi 3G/4G. Pada 2019, 3 Indonesia berencana menambah 8.000 BTS, hingga September 2019, jumlah BTS yang telah terbangun sebanyak 5.000 BTS.

Dalam membangun BTS, 3 Indonesia berfokus pada 50% untuk penguatan kualitas jaringan dan 50% untuk ekspansi jaringan.  

Sementara itu, Deputy CEO PT Smartfren Telecom Tbk. Djoko Tata Ibrahim mengatakan dalam mengggelar jaringan di suatu daerah, perseroan mengutamakan kesinambungan. Smartfren berusaha menghadirkan jaringan yang utuh agar tidak terjadi kekosongan jaringan atau blank spot di daerah yang mereka bangun.

Selain itu, lanjutnya, Smartfren juga melihat nilai ekonomis di suatu daerah sebelum menggelar jaringan. 

“Ini [gelar jaringan] juga membutuhkan nilai investasi yang cukup besar. Apalagi pertumbuhan pelanggan nyaris stagnan. Jadi investasi memang harus diperhitungkan masak-masak,” kata Djoko. 

Djoko menambahkan hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kenyataan bahwa   belum semua penduduk memiliki gawai 4G dan belum sedia mengganti gawai mereka.

Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian operator untuk memigrasikan pelanggannya dari 2G ke 4G.

“Smartfren beruntung telah melampaui semua tantangan tersebut karena Smartfren pada waktu itu tidak punya pilihan dan dipaksa untuk migrasi ke 4G LTE secara total dengan dihentikannya layanan CDMA nya,” kata Djoko. 

Sebelumnya, OpenSignal, sebuah perusahaan swasta yang mengkhususkan diri dalam pemetaan cakupan nirkabel, menyampaikan bahwa wilayah pedesaan di Indonesia belum terlalu banyak tersentuh jaringan 4G.

Operator cenderung mengincar pembangunan jaringan di daerah dengan penduduk padat karena menguntungkan secara komersial. Tren tebang pilih bangun jaringan, juga terjadi di negara tetangga seperti di Filipina dan Malaysia.

Peneliti OpenSignal, Hardik Khatri mengatakan bahwa meskipun sejumlah pihak mengklaim jaringan 4G telah berada hampir di seluruh Indonesia, namun faktanya ada kesenjangan konektivitas antara daerah pedesaan yang jarang penduduk dibandingkan dengan perkotaan yang padat penduduk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
4g

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top